Pembangunan gedung, bangunan, dan industri dilakukan secara tak terkendali dan menabrak prinsip keberlanjutan lingkungan. Akhirnya menyebabkan rendahnya persentase Ruang Terbuka Hijau (RTH) dan daerah resapan air. Sedikitnya RTH berarti mengurangi debit air yang bisa diserap oleh tanah, sehingga air hujan terkumpul di atas permukaan tanah, berakibat pada terjadinya banjir. Belum lagi ditambah adanya penduduk yang tinggal di daerah bantaran sungai. Lahan yang sebenarnya bisa untuk RTH jadi terisi oleh perumahan warga.
Kepadatan penduduk juga berpengaruh dengan jumlah sampah yang dihasilkan. Kultur konsumerisme dan produksi barang sekali-pakai-buang ala industri kapitalis, membuat volume sampah yang dihasilkan membengkak.
Ditambah kultur kebersihan individu yang buruk dan penanganan sampah yang cenderung sembarangan. Sampah yang dibuang sembarangan sebagian besar dalam bentuk olahan hidrokarbon, yakni plastik. Sampah-sampah itu sulit terurai dan menumpuk di saluran-saluran drainase dan sungai, memblok aliran air. Maka wajarlah kalau sungai-sungai selalu meluap ketika musim hujan.
Singkatnya, masalah banjir di Sorong terkategori sistemik-ideologis. Maka tidak cukup hanya menyelesaikannya dengan masalah teknis saja.












