Melalui kolaborasi TNI dan masyarakat, pembangunan jalan, gereja, dan sumur bor memperkuat akses, iman, serta semangat kebangsaan di wilayah yang Komando Distrik Militer (Kodim) 1810/Tambrauw sebut “abu-abu” sebuah wilayah yang masyarakatnya belum sepenuhnya merasakan kehadiran Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Oleh, Norma Fauzia Muhammad

KAMPUNG BABAK, sebuah permukiman yang berada di Distrik Bamusbama, Kabupaten Tambrauw, menyimpan kisah panjang tentang perjuangan melawan keterisolasian. Berjarak sekitar dua jam perjalanan darat dari Kota Sorong, kampung ini adalah wajah nyata daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar) yang minim sentuhan pembangunan.


Di balik keindahan alamnya, Kampung Babak menghadapi tantangan berat akses jalan yang hancur, ketiadaan air bersih dan listrik, serta kondisi rumah ibadah yang memprihatinkan. Bahkan, secara sosiologis, wilayah ini digambarkan sebagai daerah ‘abu-abu’ di mana pemahaman dan pengakuan masyarakat terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) belum sepenuhnya utuh.

Inilah potret mengapa Program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Reguler ke-126 Kodim 1810/Tambrauw hadir, membawa semangat gotong royong dan janji kemajuan.

Deru mesin molen dan teriakan semangat prajurit TNI memecah sunyi pegunungan. Jalan licin yang kini menjadi cor beton yang mana sejak bertahun-tahun lamanya, warga Kampung Babak harus bertaruh dengan alam untuk sekadar melintasi jalan.

Salah satu warga Kampung Babak, Elmuda Yeblo, mengenang masa sulit itu dengan haru. Ia masih mengingat betul kondisi sebelum para prajurit anggota TNI Kodim 1810/Tambrauw datang.
“Dulu jalan itu rusak sekali, kalau hujan becek dan licin. Kami tetap lewat situ juga, karena tidak ada jalan lain,” ujarnya sambil tersenyum malu, Selasa (4/11).
Elmuda bercerita, sejak tahun 2017 jalan rusak itu tak pernah benar-benar diperbaiki. Masyarakat hanya bisa pasrah karena keterbatasan dana dan tenaga.
“Tapi karena pembangunan dari om Tentara, sekarang jalan sudah bagus. Kami senang, kampung bisa maju,” katanya penuh haru.
Elmuda juga menuturkan, bukan hanya jalan yang berubah. Gereja yang dulunya dari papan kini sudah berdiri kokoh dengan dinding semen dan lantai tehel baru.


Di balik pembangunan tersebut, ada juga tangan-tangan yang bekerja siang dan malam.

Elmuda juga mengatakan bahwa di Kampungnya sangat sulit mendapatkan air bersih. Mereka hanya mengandalkan air hujan, untuk beraktivitas mandi bahkan untuk minum.
“Air juga dulu susah. Kalau tidak ada hujan, kami tidak mandi. Sekarang sudah ada sumur, kami bisa mandi tiga kali sehari. Terima kasih om Tentara yang bangun kami punya kampung,” ujarnya tulus.

Pengawas pembangunan TMMD, Letda Inf. Marthen Luther Binusano, menceritakan perjuangan para prajurit di lapangan ketika awal pembangunan harus meyakinkan masyarakat untuk menerima pengabdian mereka.

“Daerah ini termasuk wilayah abu-abu. Tapi Babinsa kami terjunkan untuk beradaptasi dan mendekati masyarakat. Dari situ muncul kepercayaan, baik dari warga maupun pemerintah daerah,” jelasnya.

Marthen mengisahkan, kondisi awal lokasi sangat menantang. Jalan yang hancur membuat kendaraan roda empat tak bisa masuk, sementara motor pun sering tergelincir saat hujan.
“Kami kerja sampai malam. Kadang jam delapan, setengah sembilan malam masih lembur. Kalau hujan, kami berteduh sebentar lalu lanjut lagi. Kami pakai genset dan pasang lampu agar bisa tetap kerja,” katanya.
Bagi Marthen, TMMD bukan sebuah pembangunan saja, tapi pengabdian. “Kami ingin masyarakat benar-benar merasakan manfaatnya. Jalan ini untuk mereka, agar kehidupan ke depan lebih lancar,” tuturnya.

Sementara itu, Komandan Kodim (Dandim) 1810/Tambrauw Letkol Inf. Yudha Marathona, S.H., M.Hub.Int menjelaskan, alasan pemilihan Kampung Babak bukan tanpa pertimbangan.
“Daerah ini termasuk wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T) serta masih memiliki tingkat kesadaran kebangsaan yang perlu diperkuat. Karena itu, kami hadir bukan hanya membangun jalan, tapi juga meneguhkan semangat merah putih,” ujarnya.
Dikatakan Dandim Yudha bahwa Program TMMD ke-126 ini mencakup tiga sasaran fisik utama pembangunan jalan sepanjang 275 meter dengan lebar empat meter, rehabilitasi Gereja Advent, dan pembuatan sumur bor sedalam 70 meter untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat.

Selain itu, kata Dandim Yudha bahwa kegiatan non-fisik seperti penyuluhan wawasan kebangsaan, pengobatan massal, posyandu, pencegahan stunting, dan kegiatan pertanian juga digelar untuk mendukung kesejahteraan warga.
Dandim Yudha juga tak menutup mata terhadap tantangan di lapangan. Cuaca yang kerap hujan, jarak bahan bangunan yang jauh, serta ketiadaan listrik dan sinyal menjadi ujian tersendiri.
“Tapi semua bisa diatasi dengan kerja sama. Kami sewa truk untuk material, pakai genset untuk penerangan, dan manfaatkan teknologi Starlink untuk komunikasi,” katanya.

Lebih dari suatu pembangunan fisik, kehadiran TMMD membawa pesan yang lebih besar bahwa negara hadir hingga ke pelosok, di tempat di mana merah putih kadang hanya dikenal lewat cerita.

“TMMD bukan hanya membangun infrastruktur, tapi juga membangun kepercayaan dan kebersamaan. Kami ingin masyarakat di sini tahu, mereka bagian dari Indonesia yang harus maju bersama,” tegas Dandim Yudha.

Sementara itu Bupati Tambrauw, Yeskiel Yesnath, menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang telah memberikan perhatian besar terhadap pembangunan di wilayah Kabupaten Tambrauw.
Menurutnya, kehadiran TNI bukan hanya menjaga keamanan dan kedaulatan negara, tetapi juga turut membantu pemerintah daerah dalam mempercepat pemerataan pembangunan di wilayah pegunungan dan pesisir.
“Atas nama pemerintah daerah dan seluruh masyarakat Tambrauw, saya menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada TNI. Kehadiran mereka bukan hanya menjaga keamanan, tetapi juga menjadi mitra penting dalam membangun infrastruktur dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujar Yesnath.
Bupati mengatakan, kerja sama antara pemerintah daerah dan TNI akan terus diperkuat melalui berbagai program pembangunan, terutama di wilayah-wilayah terpencil yang sulit dijangkau.
“Tambrauw ini luas, dan masih banyak kampung yang sulit diakses. Karena itu, sinergi dengan TNI sangat membantu kami dalam mewujudkan pemerataan pembangunan hingga ke pelosok,” katanya.

Kini, di antara pegunungan Tambrauw, jalan beton yang baru dicor menjadi simbol harapan baru bagi warga Kampung Babak. Anak-anak bisa berjalan tanpa takut terjatuh, warga bisa beribadah di gereja yang layak, dan air bersih mengalir dari sumur yang digali dengan peluh prajurit.
Sebuah bukti bahwa pembangunan sejati bukan hanya tentang bangunan yang berdiri, tetapi tentang hati yang kembali percaya kepada negeri, Republik Indonesia.(*)











