Penyebab banjir bisa bermacam-macam. Levelnya juga berbeda-beda, tergantung fakta banjirnya seperti apa. Seandainya banjir cuma terjadi sekali saja, maka itu adalah masalah insidental. Tapi banjir yang terjadi di Sorong bukan insidental. Selalu terjadi jika turun hujan deras, berulang, dan semakin lama semakin parah. Berarti itu bukan persoalan teknis semata, melainkan sistemik.
Masalah sistemik ini terbagi dua kemungkinan lagi, yaitu teknis atau non-teknis. Seandainya banjir itu bisa diselesaikan semata-mata dengan membuat kanal baru, tanggul baru, pemompaan air baru dan sejenisnya, maka itu berarti masalahnya sistemik-teknis. Tapi ternyata masalahnya bukan itu. Karena solusi-solusi teknis seperti itu juga sulit diterapkan dalam kondisi Sorong seperti sekarang.
Masalah banjir di Sorong adalah masalah sistemik-non teknis, dengan kata lain persoalan ideologis. Bukan hanya soal teknis, tapi juga terkait dengan ideologi yang diterapkan. Sehingga, usaha mengatasi banjir secara teknis tidaklah mencukupi, karena masalahnya ada pada ideologi yang diterapkan negara, yakni kapitalisme.
Dalam kapitalisme, negara dibentuk seperti perusahaan yang harus profit-oriented. Untuk bisa menghasilkan profit sebesar-besarnya dengan modal sekecil-kecilnya, kapitalisme mengabaikan satu fundamental alam, yakni keberlanjutan lingkungan. Pembukaan lahan dilakukan tanpa memerhatikan AMDAL, melainkan melalui deal-deal di belakang layar. Tata kota yang dihasilkan pun akhirnya menjadi tidak rasional.












