Oleh: Tutus Riyanti
(The Voice of Muslimah Papua Barat Daya)
Ramadhan adalah bulan dimana Al-Qur’an diturunkan. Fungsinya adalah sebagai petunjuk bagi umat manusia, agar mereka tidak tersesat di dunia. Allah SWT berfirman, “Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya Al-Qur’an diturunkan, sebagai petunjuk bagi manusia, yang mengandung berbagai penjelasan atas petunjuk tersebut, sekaligus sebagai pembeda (haq dan batil).” (QS.Al-Baqarah:185).
Al-Qur’an pun diturunkan pada malam yang sangat istimewa, yakni Lailatul Qadar. Allah SWT berfirman, “Sungguh Kami menurunkan Al-Qur’an pada saat Lailatul Qadar.” (QS.Al-Qadr:1).
Wajib Tunduk pada Al-Qur’an
Saat ini, banyak sekali manusia yang tidak mau tunduk dan patuh pada Al-Qur’an. Banyak yang membaca Al-Qur’an, bahkan sudah menghafalkannya sampai 30 juz, tapi ternyata hatinya tidak bergetar saat Al-Qur’an dibacakan. Bahkan tak sedikit pun terpengaruh oleh bacaan Al-Qur’an. Apalagi tergerak untuk mengamalkan Al-Qur’an dan menerapkan hukum-hukumnya.
Al-Qur’an hanya dijadikan sebagai simbol dari kitab suci yang dipajang di lemari. Sangat dihormati, tapi sekedar untuk dibaca dan dihafalkan saja, tidak untuk dipelajari dan diamalkan. Sungguh miris menghadapi kondisi umat Islam pada hari ini.
Padahal, Allah SWT berfirman, “Andai Al-Qur’an ini Kami turunkan di atas gunung, kamu (Muhammad) pasti menyaksikan gunung itu tunduk dan pecah berkeping-keping karena takut kepada Allah. Perumpamaan itu Kami buat untuk manusia agar mereka mau berpikir.” (QS.Al-Hasyr:21).
Imam ath-Thabari menafsirkan ayat ini, “Gunung itu tunduk dan terpecah-belah karena begitu takutnya kepada Allah meskipun gunung itu amat keras. Tidak lain karena gunung tersebut sangat khawatir tidak sanggup menunaikan hak-hak Allah yang diwajibkan atas dirinya, yakni mengagungkan Al-Qur’an.” (Ath-Thabari, Jâmi’ al-Bayân fî Ta’wîl Al-Qur’ân, 23/300).
Adapun Imam al-Baidhawi menafsirkan ayat ini dengan menyatakan, “Ayat ini merupakan gambaran betapa besarnya kehebatan dan pengaruh Al-Qur’an.” (Al-Baidhawi, Anwâr at-Tanzîl wa Asrâr at-Ta’wîl, 3/479).
Karena itulah, kandungan dalam ayat ini merupakan celaan kepada manusia yang keras hati dan perasaannya tidak terpengaruh sedikit pun oleh Al-Qur’an. Padahal, gunung yang tegak dan kokoh saja bisa tunduk dan patuh pada Al-Qur’an, kenapa manusia tidak mau tunduk dan patuh pada Al-Qur’an? Apakah hati manusia lebih keras dari pada gunung?
Cara Mengimani Al-Qur’an
Al-Qur’an adalah kalamullah (perkataan Allah). Kaum muslim wajib mengimaninya. Dalam mengimani Al-Qur’an, Allah SWT memerintahkan hal-hal sebagai berikut:
- Membaca Al-Qur’an.
Seorang muslim hendaknya berusaha membiasakan membaca Al-Qur’an secara rutin. Rasulullah SAW bersabda, “Bacalah Al-Qur’an karena sesungguhnya Al-Qur’an nanti pada hari kiamat akan datang untuk memberi syafaat kepada orang yang membacanya.” (HR.Muslim). - Memahami Al-Qur’an.
Allah menurunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi umat manusia. Untuk itu, tidak cukup hanya membaca Al-Qur’an saja, tapi juga harus menpelajari dan memahami maknanya. Rasulullah SAW bersabda, “Bila suatu kaum berkumpul pada salah satu rumah-rumah Allah (masjid) dimana mereka membaca dan mempelajari Al-Qur’an, maka turunlah ketenangan di tengah-tengah mereka, serta mereka selalu diliputi oleh rahmat, dikerumuni oleh malaikat, dan disebut-sebut Allah SWT di depan malaikat yang berada disisiNya.” (HR.Muslim). - Mengamalkan Al-Qur’an
Al-Quran bukanlah kumpulan pengetahuan, tapi merupakan petunjuk hidup. Untuk itu, setelah membaca dan memahami maknanya, maka harus diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Allah SWT berfirman, “Apa saja yang diperintahkan oleh Rasul, ambillah! Dan apa saja yang dilarang olehnya, tinggalkanlah!” (QS.Al-Hasyr:7). - Mengajarkan Al-Qur’an
Tidak cukup membaca, memahami, dan mengamalkan kandungan Al-Qur’an untuk dirinya sendiri. Namun ada perintah Allah untuk mengajarkan Al-Qur’an kepada manusia yang lain. Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baik kamu sekalian adalah orang yang belajar dan mengajarkan Al-Qur’an.” (HR.Muslim).
Mengajarkan kandungan Al-Qur’an juga bisa disebut sebagai dakwah. Allah SWT berfirman, “Serulah (manusia) kepada jalan Rabb-mu dengan hujjah (hikmah), nasihat yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan debat yang baik.” (QS.An-Nahl:125).
Kembali pada Al-Qur’an
Sebagai konsekuensi keimanan pada Al-Qur’an, maka kaum muslim wajib merujuk pada Al-Qur’an, baik dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat maupun bernegara. Apalah artinya mengimani Al-Qur’an, namun dalam kehidupan sehari-hari tidak menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup. Isinya tidak diamalkan, dan hukum-hukumnya tidak diterapkan dalam seluruh aspek kehidupan.
Padahal, saat Al-Quran dicampakkan, kehidupan kaum muslim nyaris berantakan di berbagai sisi. Kemiskinan dimana-mana karena tidak diterapkan sistem ekonomi Islam. Korupsi makin menjadi-jadi karena tidak adanya keimanan dan ketakwaan. Kriminalitas merajalela (seperti pencurian, pemerkosaan, pembunuhan, dll) karena hukum yang tidak tegas dan tidak adil. Kerusakan moral (seperti seks bebas, LGBT, dll) karena banyak yang tidak paham agama. Semua kerusakan ini tidak lain sebagai akibat dari sikap umat Islam, khususnya para penguasanya, yang enggan diatur oleh Al-Qur’an.
Allah SWT berfirman, “Siapa saja yang berpaling dari peringatan-Ku (Al-Qur’an) maka bagi dia kehidupan yang sempit dan pada Hari Kiamat nanti Kami akan membangkitkan dia dalam keadaan buta.” (QS.Thaha:124).
Karena itu, agar bangsa ini tidak terus-menerus dalam kesempitan hidup dan keterpurukan, mau tidak mau, mereka wajib kembali pada Al-Qur’an. Mereka wajib mengamalkan Al-Qur’an dan menerapkan seluruh hukumnya dalam seluruh aspek kehidupan. Agar berbagai ragam keberkahan akan Allah SWT berikan kepada bangsa ini.
Allah SWT berfirman, “Jika penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan membukakan untuk mereka keberkahan dari langit dan bumi. Akan tetapi, mereka mendustakan (ayat-ayat- Kami). Karena itu Kami mengazab mereka karena apa yang telah mereka lakukan itu.” (QS.Al-A’raf:96).(***)















