AIMAS – Puluhan Pendeta di Kabupaten Sorong antusias mengikuti kegiatan Pelatihan dan Sertifikasi Mediator terakrediasi Mahkamah Agung RI, bertempat di Rumah Singgah Yayasan Lembah Kladuk, Senin (30/1).
Kegiatan tersebur dilaksanakan guna mendukung peran aktor lokal (Tokoh Agama) dalam upaya penyelesaian berbagai sengketa/konflik secara holistik menggunakan pendekatan non litigasi sebagai seorang mediator untuk perdamaian.
Asisten 1 Setda Kabupaten Sorong, Adi Bramantyo,S.Ip., M.Si dalam mengatakan, gereja dan perangkatnya (Pendeta, red) mempunyai tanggung jawab besar dalam memberikan pelayanan rohani kepada jemaatnya.
Dengan demikian melalui kegiatan ini para pendeta sebagai pemimpin umat dapat memiliki skill untuk melakukan pelayanan bagi masyarakat yang tidak terbatas pada gereja tetapi dapat menjangkau dunia secara holistik.
“Pelayanan holistik juga merupakan pelayanan yang meliputi koinonia (Persekutuan), pelayan Marturia (Kesaksian) dan pelayan Dilakonia(Kasih).
Saat ini masyarakat sedang menunggu kehadiran kita sebagai pemerintah dan gereja dalam melakukan pelayanan sosial yang holistik. Dalam melakukan pelayanan holistik ini dibutuhkan kolaborasi dan kerjasama antara gereja dan pemerintah, agar melayani benar-benar tepat sasaran,” terang Adi.
Direktur Pusat Mediasi GKI Jack Merril Ibo S.Th, M.Si menjelaskan, pusat bantuan mediasi GKI adalah sebuah lembaga yg dididikan GKI ditanah Papua dan posisinya independen. Dimana sejak tahun 2019 sampai sekarang, ini merupakan salah satu lembaga yang terakreditasi oleh mahkamah agung.
“Ditahun 2022 April kami dipercayakan sebagai salah satu lembaga yang diakreditasi oleh mahkamah agung, sehingga kami juga memiliki kewenangan akreditasi kepada peserta-peserta yang akan kami latih. Untuk mendapatkan akreditasi bukan suatu hal yang mudah, dan telah banyak kita lewati, untuk bisa mendapatkan akreditasi,” kata Jack.
Dibeberkan Jack, setelah terakreditasi pihaknya langsung terjun melatih banyak pendeta, 2 Polres dan juga pengacara. Artinya semua orang harus bisa menjadi mediator menjadi jembatan yang selalu bisa membawa damai sukacita.
“Kami betul-betul memberikan konsentrasi yang penuh untuk melatih, karena kita harus mempunyai pikiran baru, sembagat baru untuk membangun Papua. Dan kami tidak main-main dan kami terus berjuang,” lanjutnya.
Ia menargetkan, semua orang di Papua harus belajar mediasi. Serta harus memiliki mindset yang positif. Pusat Mediasi GKI secara nasional bekerja sama dengan pusat pengembangan P emberdayaan mediasi di Jakarta.
“Kami berharap semangat pendeta-pendeta, semangat pemuda-pemuda di Papua memberikan harapan baru bahwa kedepan damain diseluruh dunia dimulai dari Tanah Malamoi, sehingga kita memilih keseragaman dalam berpikir rasa dan ucapan,” pungkas Jack. (ayu)














