Ketua DPRP PBD: Ini Situasi yang Buat Prihatin Kita Semua
SORONG — Wakil Gubernur Papua Barat Daya Ahmad Nausrau mengunjungi tiga warga yang menjadi korban dalam insiden penembakan yang terjadi di Kabupaten Maybrat. Ketiga korban kini menjalani perawatan di RSUD Sele Be Solu, Kota Sorong, Jumat (14/8) malam.
Dalam kunjungan tersebut, Ahmad Nausrau didampingi Sekda Papua Barat Daya Yacob Kareth, Ketua DPRP Papua Barat Daya Ortis Sagrim, Danrem 181/Praja Vira Tama (PVT) Sorong Kolonel Inf. Slamet Riadi, Kapolresta Sorong Kota Kombes Pol. Amry Siahaan serta unsur Forkopimda Papua Barat Daya.
Ahmad Nausrau mengatakan, dirinya mendapat arahan langsung dari Gubernur Papua Barat Daya Elisa Kambu setelah menerima informasi mengenai adanya sejumlah warga yang menjadi korban di Maybrat.
“Iya, pertama tadi sekitar pukul 15.00 saya ditelepon langsung oleh Pak Gubernur. Beliau sementara sedang ada kegiatan di luar kota, sehingga beliau telepon, ‘Pak Wagub, itu ada kejadian di Maybrat di mana ada beberapa masyarakat yang ada kena korban.’ Ya, jadi tolong dikoordinasikan dengan Pak Bupati Maybrat, juga dengan Direktur Rumah Sakit Sele Be Solu agar supaya segera dilakukan persiapan untuk menyambut datangnya pasien yang ada kejadian di Maybrat itu,” kata Ahmad.
Menurutnya, setelah menerima arahan tersebut, Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya langsung melakukan koordinasi dengan Sekda, pihak RSUD Sele Be Solu serta Pemerintah Kabupaten Maybrat untuk memastikan proses evakuasi dan penanganan medis terhadap para korban.
“Jadi, saya begitu Pak Gubernur selesai telepon, saya langsung koordinasi dengan Pak Sekda, kemudian dengan Ibu Direktur Rumah Sakit untuk kemudian dilakukan persiapan karena ada sekitar tiga pasien yang akan dirujuk dari RSUD Maybrat ke sini,” ujarnya.
Ia menyebut, pihak RSUD Sele Be Solu telah menyiapkan ruang operasi maupun kebutuhan medis lainnya sebelum ketiga korban tiba di Kota Sorong.
“Tadi begitu pasien tiba sekitar pukul 20.00 WIT langsung dilakukan tindakan medis oleh tim dokter yang ada di sini dan memang karena sudah disiapkan semuanya, baik untuk ruang operasinya maupun juga untuk tindakan medis lainnya untuk sifatnya darurat, saat ini sedang dalam penanganan,” katanya.
Ahmad menegaskan, pemerintah daerah turut prihatin atas kejadian yang menimpa masyarakat sipil di Kabupaten Maybrat. Namun, ia meminta semua pihak tidak terburu-buru menyimpulkan pelaku maupun kronologi kejadian sebelum adanya hasil penyelidikan aparat penegak hukum.“Iya. Pertama, kami tentunya turut prihatin ya atas kejadian yang menimpa masyarakat kita ini, masyarakat sipil yang ada di Kabupaten Maybrat ini. Namun demikian, kita juga belum tahu kejadiannya seperti apa,” katanya.
Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya, lanjut Ahmad, memastikan seluruh biaya pengobatan ketiga korban ditanggung pemerintah.“Tugas pemerintah daerah adalah memastikan bahwa pelayanan terhadap seluruh pasien ini harus mendapatkan prioritas utama untuk kesehatannya, keselamatannya, bahwa semua jaminan pengobatan mereka sepenuhnya ditanggung oleh Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya,” tegasnya.
Ahmad juga mengatakan, pemerintah akan terus memantau kondisi para korban dan memastikan penanganan medis dilakukan secara maksimal. Apabila nantinya diperlukan rujukan ke luar daerah, pemerintah juga akan menanggung proses tersebut.
“Karena itu malam ini kami datang didampingi oleh Pak Ketua Dewan, Pak Sekda, seluruh jajaran Forkopimda, kemudian juga Pak Danrem, Pak Kapolresta, Ibu Direktur sendiri juga ada. Artinya kita ingin memastikan bahwa penanganan terhadap seluruh pasien ini harus maksimal dan report-nya harus terus disampaikan sehingga kita pantau perkembangannya,” ujarnya.
Terkait dugaan pelaku yang disebut masih berstatus OTK, Ahmad mengatakan pemerintah akan berkoordinasi dengan aparat keamanan untuk mengungkap kronologi dan identitas pelaku.
“Ya, ini karena seperti yang tadi saya sampaikan bahwa ini kita belum tahu kira-kira pelakunya siapa, OTK ya. Karena itulah kami akan berkoordinasi ini dengan Pak Kabinda, dengan Pak Kapolda, Pak Kapolresta, dengan Pak Danrem untuk memastikan akan ada proses penyelidikan kira-kira kejadiannya seperti apa untuk mengetahui kronologisnya, termasuk ya pelakunya seperti apa,” jelasnya.
“Tentu bagian itu adalah bagian tugasnya aparat penegak hukum, ya baik Polri, TNI yang akan melakukan tugas itu,” sambung Ahmad.
Sementara itu, Ahmad mengakui situasi di wilayah Maybrat sempat tidak kondusif setelah insiden tersebut. Berdasarkan koordinasi yang dilakukan, terdapat aksi pemalangan jalan dan pembakaran ban yang diduga sebagai bentuk luapan kekecewaan masyarakat.“Memang situasi di sana agak tidak kondusif ya karena mungkin ada aksi luapan kekecewaan atau barangkali spontanitas dari masyarakat yang ada kejadian seperti ini sehingga ada pemalangan jalan, kemudian ada bakar-bakar ban,” katanya.
Ia meminta masyarakat tidak melakukan tindakan yang dapat memperkeruh situasi dan mengimbau seluruh pihak menjaga keamanan, terlebih menjelang peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
“Kami mengimbau kepada seluruh masyarakat Papua Barat Daya, dan lebih khusus lagi untuk keluarga dari pasien maupun juga masyarakat Maybrat secara umum, mari kita sama-sama jaga kondusivitas daerah untuk memastikan Papua Barat Daya tetap aman, kondusif, terutama ini kita akan menghadapi momen hari ulang tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, maka mari kita jaga situasi yang aman, kondusif,” imbaunya.

Ketua DPRP Papua Barat Daya Ortis Sagrim yang turut mengunjungi para korban mengatakan, dirinya merasakan keprihatinan atas situasi yang terjadi di Maybrat.
“Saya ini intelektual Maybrat, ya. Saya juga rasakan situasi yang saat ini sedang terjadi, dan juga ini situasi yang buat prihatin kita semua,” kata Ortis.
Ortis mengaku sempat berada di Maybrat dan hendak mendatangi lokasi kejadian. Namun, ia menilai seluruh pihak harus menahan diri agar tidak mengeluarkan pernyataan yang dapat memperkeruh keadaan sebelum fakta kejadian diketahui secara jelas.Ia juga menekankan pentingnya kehadiran pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan untuk memberikan rasa aman kepada masyarakat Maybrat.
Di sisi lain, Direktur RSUD Sele Be Solu drg. Susi Petronela Djitmau memastikan pihak rumah sakit telah mempersiapkan tim medis untuk menangani ketiga korban sejak menerima informasi mengenai rencana rujukan dari Maybrat.“Dari siang itu, Bapak Gubernur melalui Bapak Wagub. Setelah memerintah, saya juga sudah koordinasi. Sejak siang dari jam 14.00 WIT kami sudah mengimbau untuk tim semua siap,” kata Susi.
Ia mengatakan, tiga dokter bedah telah disiapkan untuk menangani para korban, termasuk ruang operasi dan fasilitas medis lainnya.“Malam ini tiga dokter bedah langsung menangani pasien untuk dilayani, bahkan ruangan juga sudah disiapkan semua,” ujarnya.
Mengenai kondisi para korban, Susi mengatakan berdasarkan pemantauan awal tim IGD, ketiganya berada dalam kondisi stabil.“Tadi ketika masuk, saya pantau di tim IGD, laporannya kondisi pasien stabil,” katanya.
Saat ditanya mengenai adanya luka tembak atau serpihan pada tubuh korban, Susi mengatakan pihak rumah sakit masih perlu melakukan pemeriksaan dan tindakan medis lebih lanjut untuk memastikan kondisi tersebut.
“Untuk serpihan itu kan harus dipastikan lagi. Tim medis nanti operasi baru kami bisa menyatakan seperti itu. Yang pastinya tim IGD sampaikan bahwa kondisi pasien stabil,” jelasnya.
Menurut Susi, untuk sementara ketiga korban masih dapat ditangani di RSUD Sele Be Solu dan belum memerlukan rujukan ke luar daerah.“Untuk saat ini belum, masih bisa kami tangani. Dokter-dokter kita juga sudah lengkap, sudah ada tim medis sudah lengkap untuk bisa melayani, menangani kasus yang ada,” pungkasnya.(zii)















