Mualif menceritakan awal kejadian hingga berbuntut pada pembakaran Gedung Double O, dimana pada tanggal 23 Januari 2022 pagi hari terjadi penyerangan Sekertariat Ortega di Km 10, kemudian dirinya berinisiatif bersama 3 Kepala Suku lainnya membuat LP di Polsek Sorong Timur secara tertulis. Tidak berselang lama ada gejolak di Pangkalan Ojek Mega Mall dan Double O, selanjutnya ia menuju ke TKP untuk mengamankan massa. ”Kami 4 kepala suku mau bertemu Kapolsek Sorong Timur untuk menanyakan laporan kami, namun kami merasa tidak puas dengan cara penanganan Polsek Sorong Timur karena seakan dibiarkan,” ungkapnya.
Bahkan saat dialog lanjut Mualif Renwarin, Kepala Suku dari kelompok yang melakukan pengerusakan membawa yang dikatakan pelaku pengrusakan Sekertariat Ortega, tetapi saat itu Kapolsek tidak mengindahkan laporan Ortega namun hanya mempertanyakan masalah pembakaran pangkalan ojek. ”Malam itu kami tidak puas dengan pelayanan Kapolsek Sortim, maka keesokan harinya kami menghadap Kapolres Sorong Kota, kami syukur dan bangga karena pelayanan beliau kepada kami sangat baik sehingga keputusan kami, kembali mengamankan masyarakat kami,” ungkapnya.
Terkait perdamaian antar dua kelompok massa, Mualif mengatakan merupakan langkah cepat kepala suku dengan berkoordinasi supaya menciptakan kamtibmas yang baik, bukan karena sudah ada 17 nyawa yang meninggal, padahal ia sudah menyampaikan agar Double O ditutup sementara sebab sumber masalah berawal dari Double O. (juh)














