MANOKWARI – Selama enam bulan dari Maret hingga September 2022, penduduk miskin di Papua Barat meningkat sebanyak 3.580 orang atau meningkat sebanyak 0,10 persen. Penduduk miskin di Papua Barat hingga September 2022 berjumlah 222.360 orang.
Kabag Umum BPS Papua Barat, Johannis Lekatompessy mengatakan penduduk miskin merupakan yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulannya di bawah garis kemiskinan.
“Kemiskinan di Papua Barat mendapat pengaruh dari pandemi Covid 19 serta naiknya harga BBM dan beberapa komoditas makanan,” ujarnya, Senin (30/1).
Ia menjelaskan terdapat ketimpangan penduduk miskin antara perkotaan dengan pedesaan yang tinggi di Papua Barat. Penduduk miskin di pedesaan jauh lebih tinggi daripada di perkotaan.
“Hingga September 2022, penduduk miskin di pedesaan sebesar 32,12 persen atau 187,74 ribu jiwa dan perkotaan sebesar 7,64 persen atau 34,61 ribu jiwa,” jelasnya.
Ia menuturkan jika melihat dari garis kemiskinan, pendapatan setiap orangnya (per kapita, red) Rp708.156 pada September 2022 dan lebih banyak untuk makanan sebesar Rp529.916 dan bukan makanan sebesar Rp 178.241.
“Peranan komoditi makanan terhadap garis kemiskinan jauh lebih besar daripada komoditi bukan makanan,” tuturnya.
“Komoditi makanan menyumbang sebesar 74,83 persen,” imbuhnya.
Ia mengungkapkan komoditas beras memiliki peran dalam penyumbang garis kemiskinan paling tinggi baik di perkotaan maupun pedesaan.
“Setelah beras kemudian disusul dengan rokok filter yang relatif sama baik di perkotaan maupun pedesaan,” ungkapnya.
Johannis menyampaikan penduduk miskin di Papua Barat, rata-rata dalam rumah tangga berjumlah 5,59 yang mana jika ditotal dengan pengeluaran per kapita Rp 708.156 jumlahnya Rp3.958.592. (bw)














