Oleh: Tutus Riyanti
(The Voice of Muslimah Papua Barat)
Dewasa ini, banyak sekali isu miring yang menyerang syariat Islam ketika membahas tentang masalah perempuan. Sebagai contoh: dalam Islam perempuan wajib mengurus suami dan anak, perempuan mendapat warisan lebih sedikit dari laki-laki, perempuan lebih baik diam di rumah saja, dan lain sebagainya.
Contoh-contoh syariat Islam ini, terutama dalam kacamata dunia Barat, sering di pakai untuk menilai bahwa syariat Islam telah merendahkan derajat perempuan dan tidak memberinya posisi yang sejajar dengan laki-laki. Dalam pandangan Barat, syariat Islam telah mengekang hak perempuan dan itu melanggar hak asasi manusia. Benarkah demikian?
Perempuan Korban Kapitalisme
Pada fitrahnya, secara fisik perempuan adalah makhluk yang lemah, lembut, dan rapuh. Sudah seharusnya untuk dilindungi, dimuliakan, dan disejahterakan oleh suami atau wali mereka. Namun, di dalam sistem kapitalisme sekarang ini, perempuan mau tak mau dituntut menjadi mesin pencetak uang untuk membantu menopang ekonomi keluarga.
Di saat para suami tidak sanggup memenuhi kebutuhan rumah tangga, maka para istri dengan terpaksa harus bekerja untuk membantu ekonomi suami. Bahkan saking sibuknya dengan pekerjaan di luar, para istri ini bisa jadi melalaikan kewajiban mereka dalam mengurus rumah dan suaminya.
Mereka juga harus meninggalkan anak-anak tercinta di rumah, dan mengabaikan tugas utama mendidik mereka. Padahal, peran seorang ibu dalam membesarkan dan mendidik anak sangat penting. Dengan keluarnya perempuan untuk bekerja, juga bisa rawan menimbulkan konflik bersama suami dan berakibat buruk bagi masa depan anak.
Posisi pekerjaan yang ditawarkan pun tidak jarang bertentangan dengan kodrat perempuan. Bahkan terkadang mengekspos bagian-bagian tubuh perempuan yang menarik. Seperti menjadi brand ambassador produk kecantikan, pakaian-pakaian yang tidak menutup aurat, dan pekerjaan lain yang mengeksploitasi perempuan. Tak jarang, mereka mendapatkan pelecehan di tempat kerja.











