Aspirasi Warga, Seget Prima Dorong Kemandirian Ekonomi Dari Hasil Kebun dan Olahan Ikan

Di Kampung Seget, Distrik Seget, Kabupaten Sorong, hasil kebun dan olahan ikan mulai dikembangkan menjadi peluang usaha untuk menambah penghasilan keluarga. Melalui program Seget Prima, PT Pertamina Patra Niaga Refinery Unit Kasim mendampingi warga mengembangkan pertanian dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), mulai dari menanam sayuran, mengolah abon ikan, membuat keripik pisang hingga memproduksi tepung sagu. Upaya ini diharapkan membuka peluang ekonomi bagi warga, khususnya perempuan, sekaligus mendorong kemandirian usaha yang tumbuh dari potensi kampung sendiri.

Oleh, Norma Fauzia Muhammad

DI DISTRIK Seget, Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya, kebun di pekarangan rumah, hasil tangkapan laut, pisang, hingga sagu menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sehari-hari. Namun, potensi yang tersedia di sekitar kampung itu belum seluruhnya berkembang menjadi sumber pendapatan yang dapat diandalkan keluarga.

Sebagian warga berkebun sambil melaut, sementara lainnya menjalankan usaha kecil dari rumah. Hasilnya dijual kepada masyarakat sekitar dengan jangkauan pemasaran yang masih terbatas. Kini, sejumlah warga mulai mencoba mengembangkan usaha tersebut melalui kelompok tani dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Ketika rombongan jurnalis mengunjungi Kampung Seget pada 31 Agustus 2026, nampak sejumlah lahan, tanaman sayuran mulai tumbuh dan siap dipanen. Sementara itu, kelompok UMKM mempersiapkan produk olahan ikan, keripik pisang, dan tepung sagu yang diharapkan dapat menambah penghasilan keluarga.

Daniel Koriye (kanan) merawat salah satu tanaman sayuran.(Fauzia/Radar Sorong)

Bagi Daniel Koriye, salah satu anggota kelompok tani, kegiatan berkebun sebenarnya bukan hal baru. Sebelum bergabung dalam kelompok, ia sudah menjalani dua pekerjaan sekaligus, yakni sebagai nelayan dan pekebun. Namun, keterbatasan sarana membuat kegiatan pertanian belum bisa dikembangkan secara maksimal.

Bergabung dalam kelompok tani memberinya kesempatan untuk mengelola kebun dengan dukungan peralatan, pupuk, dan bibit. Bantuan tersebut membuat kegiatan menanam sayuran, cabai atau rica, terong, hingga jagung menjadi lebih mudah dilakukan.

Daniel mengaku senang karena kini memiliki dukungan untuk menjalankan kegiatan pertanian. “Setelah bergabung ada rasa senang, karena ada bantuan fasilitasi jadi kita bisa bekerja, termasuk alat-alat, pupuk dan termasuk bibit,” katanya.

Menurutnya, manfaat kebun bukan hanya terlihat dari tanaman yang tumbuh, tetapi juga dari tambahan pendapatan yang bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Ia memiliki enam anak. Seluruh anaknya pernah mengenyam pendidikan, dan kini satu anak bungsunya masih bersekolah.

Pendapatan dari kebun menjadi tambahan untuk memenuhi kebutuhan makan dan biaya pendidikan anak. Di tengah kebutuhan keluarga yang terus berjalan, hasil pertanian memberi Daniel sumber penghasilan lain selain melaut.

“Pendapatan ada lumayan penambahan,” ujarnya.

Selama ini, hasil kebun dijual kepada masyarakat setempat. Jika ada kesempatan, hasil panen juga dititipkan untuk dijual di lingkungan Kilang Kasim. Bagi Daniel, peluang tersebut perlu dikembangkan agar hasil pertanian tidak berhenti pada produksi, tetapi benar-benar memberi manfaat ekonomi bagi keluarga.

Dia berharap kegiatan kelompok tani dapat terus berjalan dan berkembang sehingga kebutuhan rumah tangga bisa semakin terbantu. “Kalau boleh kita kembangkan ini agar membantu kita dalam keluarga, membantu kita dalam usaha kita, agar bisa melancarkan aktivitas kebutuhan hidup kita sehari-hari,” katanya.

Ketua Kelompok Tani Nematovonbeel, Yeni Ubei sedang menyiram bibit sayuran.(Fauzia/Radar Sorong)

Hal senada dikatakan Yeni Ubei, Ketua Kelompok Tani Nematovonbeel. Menurutnya, makna nama kelompok tersebut menggunakan bahasa Seget yang berarti “Mari Kita Coba”. Kelompok yang dipimpinnya memiliki 11 anggota dan mulai mengembangkan berbagai jenis tanaman untuk memenuhi kebutuhan sekaligus membuka peluang pendapatan.

Di lahan pertanian kelompok, tanaman yang dikembangkan antara lain tomat, rica, jagung, kacang panjang, dan semangka. Jenis tanaman tersebut dipilih sebagai bagian dari upaya memanfaatkan lahan yang tersedia di sekitar kampung.

Sebelum terlibat dalam kelompok tani, Yeni bekerja sebagai petugas kebersihan di rumah sakit. Kegiatan pertanian yang kini dijalankannya menjadi tambahan aktivitas yang diharapkan bisa memperkuat ekonomi keluarga.

Yeni mengatakan bahwa sejak bergabung dalam kelompok mendapatkan banyak manfaat. Hasil kebun mulai bisa dijual kepada masyarakat kampung, sementara sebagian hasilnya juga dititipkan di Pertamina Patra Niaga RU VII Kasim.

“Ada perubahan, pendapatan bertambah untuk jajan anak-anak. Hasil panen biasa kalau masyarakat kampung sini juga beli. Biasa taruh lagi titip di Pertamina RU VII Kasim,” kata Yeni.

Menurut Yeni, dukungan yang diterima tidak hanya berupa bibit dan fasilitas untuk berkebun. Anggota kelompok juga mendapat pelatihan mengenai cara menanam yang baik dan benar. Pengetahuan tersebut dibutuhkan agar tanaman yang dibudidayakan dapat tumbuh dengan baik dan menghasilkan panen yang lebih optimal.

Dikatakannya bahwa mereka masih dalam tahap pengembangan, pendampingan menjadi salah satu hal penting. Anggota tidak hanya perlu menanam, tetapi juga memahami proses budidaya agar kegiatan pertanian bisa dijalankan secara berkelanjutan.

Yeni berharap kelompok tani yang dipimpinnya dapat terus berkembang dan mendapatkan dukungan untuk meningkatkan hasil produksi. “Mama harapkan ke depan harus baik. Semoga ditingkatkan lagi,” ujarnya.

Selain pertanian, hasil laut juga menjadi potensi yang mulai diolah menjadi produk bernilai tambah. Selama ini, ikan merupakan salah satu hasil alam yang dekat dengan kehidupan masyarakat pesisir Seget. Namun, menjual ikan dalam bentuk segar memiliki tantangan tersendiri, terutama ketika pasokan dan harga tidak menentu.

Salah satu anggota kelompok usaha Abon Ikan, Erni Kabera usai melakukan pengisian abon pada kemasan yang siap dijual.(Fauzia/Radar Sorong)

Kemudian Erni Kabera, anggota kelompok usaha abon ikan, mengatakan bahan utama yang digunakan dalam pembuatan abon adalah ikan, disertai berbagai bumbu seperti serai, bawang merah, bawang putih, jahe, ketumbar, lada, lengkuas, daun salam, daun jeruk, rica, dan minyak goreng.

Kelompoknya mengolah beberapa jenis ikan, antara lain cakalang, tenggiri, dan tuna. Jenis ikan yang digunakan menyesuaikan ketersediaan bahan baku. Ketika ikan tertentu sulit diperoleh atau harganya meningkat, kelompok berupaya mencari alternatif dari hasil tangkapan yang tersedia di wilayah tersebut.

“Kadang kalau ikan mahal, kita menggunakan ikan toki-toki disini banyak, tapi kalau musim angin tidak ada. Orang setengah mati (susah). Jadi ikan didatangkan lagi dari Sorong, seperti ikan cakalang dan ikan tuna juga,” kata Erni.

Kelompok Abon Ikan saat melakukan proses menghancurkan ikan dari yang utuh menjadi halus dan memisahkan tulang ikannya.(Fauzia/Radar Sorong)

Ketersediaan bahan baku menjadi salah satu penentu kelancaran produksi. Jika seluruh bahan sudah tersedia, proses pembuatan abon dapat diselesaikan dalam sehari. Dalam satu kali produksi, kelompok dapat mengolah sekitar 10 kilogram ikan, yang kemudian dimasak dan dikemas sesuai ukuran yang ditentukan.

Kata Erni, usaha abon ikan membuka kesempatan untuk memperoleh tambahan pendapatan di luar pekerjaan yang selama ini dijalankannya. Sebelumnya, dia juga berjualan minyak goreng, minuman, sirih, dan pinang.

Erni mengaku bahwa memiliki tiga anak yang seluruhnya telah mengenyam pendidikan. Satu anaknya sudah tamat SMA, sedangkan dua lainnya baru memasuki bangku kuliah. Karena itu, tambahan pendapatan dari usaha olahan ikan diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan keluarga, termasuk biaya pendidikan anak.

Usaha ini masih berada pada tahap awal produksi. Erni berharap kegiatan kelompok bisa berjalan lancar dan produk abon ikan semakin dikenal masyarakat sehingga penjualan dapat meningkat.

“Semoga ikannya semakin banyak dikenal, dibeli orang juga,” ujarnya.

Potensi lain yang dikembangkan warga adalah pisang. Buah yang tumbuh di sekitar kampung itu selama ini telah dimanfaatkan untuk kebutuhan rumah tangga maupun dijual dalam bentuk olahan sederhana.

Sonya Lusiana Wanea bersama anggota kelompok UMKM Keripik sedang membuat keripik pisang rasa pedas.(Fauzia/Radar Sorong)

Salah satu warga yang lebih dahulu menjalankan usaha tersebut adalah Sonya Lusiana Wanea.

Sebelum bergabung dalam kelompok keripik pisang, Sonya mengaku sudah membuat keripik secara mandiri. Ia menjualnya di pasar dan pondok-pondok sekitar kampung, bersamaan dengan usaha kecil lainnya, termasuk berjualan pinang.

Pengalaman itu membuat Sonya mengusulkan agar keripik pisang menjadi salah satu produk yang dikembangkan melalui kelompok UMKM. Ia melihat peluang untuk memperluas usaha yang sebelumnya dijalankan sendiri, terutama jika produknya bisa dipasarkan ke lingkungan perusahaan.

“Ya, karena Mama (sapaan akrab masyarakat Papua khus perempuan yang sudah tua) punya usaha pisang. Jadi mereka (pihak Pertamina) lewat (jalan depan lapak jualan), mereka lihat keripik pisang, mereka tanya, ‘Mama bikin pribadi?’. Jadi Mama minta bantu untuk, kasih masuk jualan di Pertamina,” katanya.

Dia menjelaskan bahwa Bahan baku keripik berasal dari pisang kapuk dan pisang abu-abu yang tersedia di wilayah tersebut. Dalam sehari, produksi dapat menggunakan hingga dua tandan pisang dan menghasilkan sekitar 100 bungkus berukuran 150 gram. Namun, ketika persediaan dari kebun tidak mencukupi, kelompok harus membeli tambahan pisang dengan harga sekitar Rp50.000 hingga Rp70.000 per tandan.

Keripik yang dibuat juga tidak hanya memiliki satu rasa. Kelompok menyediakan pilihan original, keju, balado, cokelat, pedas, serta rasa manis dengan gula halus. Variasi tersebut diharapkan dapat menarik lebih banyak pembeli.

Kelompok keripik pisang beranggotakan sekitar 10 orang. Proses produksi menyesuaikan waktu luang para anggota, terutama karena sebagian besar tetap harus menyelesaikan pekerjaan rumah tangga. Mereka biasanya mulai bekerja setelah anak-anak pulang sekolah dan menyelesaikan produksi dalam waktu sekitar satu hingga dua jam.

Selama ini, keripik dijual di pondok-pondok sekitar kampung dan dibeli oleh masyarakat, termasuk anak-anak. Rasa balado dan keju menjadi beberapa pilihan yang paling banyak diminati.

Sonya mengaku bahwa usaha tersebut memiliki arti lebih dari sekadar menjual makanan ringan. Dirinya memiliki lima anak. Dua anaknya sudah menikah, sementara tiga lainnya belum, termasuk anak yang sedang menempuh pendidikan kuliah. Tambahan pendapatan dari penjualan keripik dapat membantu kebutuhan pendidikan keluarga.

“Iya, bisa membantu tambah uang untuk kuliah anak-anak,” katanya.

Sonya berterima kasih atas dukungan yang diberikan kepada kelompoknya. Meski demikian, ia berharap pengembangan usaha tidak berhenti pada penyediaan alat dan bahan produksi. Menurutnya, akses pemasaran juga penting agar produk yang dibuat dapat menjangkau pembeli lebih luas.

“Terima kasih dukungan bantuan dari Pertamina. Harapan ke depan, mungkin dengan usaha seperti ini, mungkin dari pihak perusahaan bisa membantu kita untuk pemasaran,” ujarnya.

Sementara itu, kelompok UMKM Krekban juga mengembangkan tepung sagu sebagai produk olahan lokal. Bagi masyarakat di wilayah Papua, sagu merupakan bahan pangan yang sudah dikenal dan digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Namun, mengolahnya menjadi tepung yang siap dijual membutuhkan tenaga dan waktu yang tidak sedikit.

Nelce Kumuay, Ketua Kelompok UMKM Krekban Seget, mengatakan proses produksi tepung sagu menjadi salah satu pekerjaan yang cukup sulit bagi anggota kelompok. Tahapannya dimulai dengan membeli sagu, kemudian mencuci dan menyaringnya untuk memisahkan sari pati dari serat ampas. Cairan sari pati selanjutnya didiamkan selama beberapa jam hingga sehari sampai mengendap.

Setelah air di bagian atas dibuang, endapan pati yang masih basah dijemur hingga kering. Tepung yang telah kering kemudian diayak untuk mendapatkan hasil yang lebih halus.

“Produksi di sini yang paling sulit itu tepung sagu,” kata Nelce.

Nelce menjelaskan, proses tersebut membutuhkan tenaga, terutama ketika harus mengolah sagu dengan air dan melakukan pengeringan. Meski begitu, kelompoknya tetap berupaya menghasilkan produk yang bisa dijual kepada masyarakat.

Untuk kemasan 150 gram, tepung sagu dijual seharga Rp25.000. Harga tersebut menjadi bagian dari upaya kelompok dalam memberikan nilai jual pada bahan pangan lokal yang tersedia di sekitar kampung.

Sebelum bergabung dalam kelompok UMKM, Nelce mengaku belum memiliki kegiatan usaha seperti yang dijalankannya sekarang. Ia lebih banyak beraktivitas di rumah. Pelatihan yang berlangsung selama satu bulan memberinya kesempatan untuk belajar mengolah bahan lokal bersama anggota lainnya.

Sebagai ketua kelompok, Nelce menyampaikan apresiasi atas dukungan yang diberikan untuk menjalankan program tersebut. Ia berharap usaha yang baru mulai berjalan ini bisa terus berkembang dan memberikan manfaat bagi perempuan di Kampung Seget.

“Kami sebagai ibu-ibu di Kampung Seget, kami mengucapkan banyak terima kasih karena dari Pertamina bisa bantu kami untuk menjalankan program UMKM ini,” ujarnya.

Perubahan yang mulai berlangsung di tingkat keluarga itu juga mendapat perhatian dari pemerintah kampung.

Kepala Kampung Seget, Origenes Kumuay.(Fauzia/Radar Sorong)

Kepala Kampung Seget, Origenes Kumuay, mengatakan kegiatan pertanian yang dijalankan warga bersama perusahaan sudah berlangsung lebih dari empat bulan sejak pembicaraan awal dilakukan. Ia menyambut baik program tersebut karena warga memiliki pengalaman berkebun dan melaut sebelum kegiatan kelompok mulai dikembangkan.

Menurut Origenes, sebagian masyarakat sebelumnya telah mengelola kebun sendiri, baik di sekitar rumah maupun di dusun. Ada pula warga yang menggantungkan penghasilan dari hasil tangkapan laut. Kehadiran kelompok tani dan UMKM diharapkan dapat memperkuat kegiatan yang sudah ada, bukan menggantikan pekerjaan masyarakat.

Dia mengatakan bahwa Kampung Seget memiliki 249 kepala keluarga dan 85 rumah, sebagaimana disampaikan dalam wawancara. Dengan jumlah warga tersebut, pengembangan usaha berbasis potensi lokal dinilai membuka peluang bagi masyarakat untuk meningkatkan pendapatan secara bertahap.

Origenes berharap hasil kebun dapat dikelola dengan baik sampai masa panen. Ia juga menyampaikan bahwa ada rencana pengembangan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang sedang dibicarakan bersama pihak terkait. Jika kegiatan pertanian berjalan baik, hasilnya diharapkan dapat menjadi bagian dari usaha ekonomi kampung.

“Kedepan ya dengan tahapan pertama yang sekarang ini untuk perkebunan, ada rencana dari perusahaan untuk saya, kepala kampung, untuk Bumdes,” katanya.

Dia juga mengimbau agar masyarakat menjaga kebun dan merawat tanaman yang sudah ditanam. Menurutnya, keberhasilan program tidak hanya ditentukan oleh bantuan yang diberikan pada tahap awal, tetapi juga oleh kesungguhan warga dalam merawat tanaman dan mengembangkan usaha.

Sementara itu, PT Pertamina Patra Niaga Refinery Unit Kasim mulai mengembangkan program pemberdayaan masyarakat di Kampung Seget pada 2026 melalui program Seget Prima, singkatan dari produktif, inovatif, mandiri, dan sehat. Program ini mencakup pertanian, UMKM, koperasi, serta kesehatan. Gagasan awalnya berasal dari diskusi bersama masyarakat yang berlangsung pada awal tahun, ketika warga menyampaikan potensi dan kebutuhan yang ingin dikembangkan.

Anisa Muna Syifa saat menjelaskan UMKM binaan Pertamina Patra Niaga RU Kasim.(Fauzia/Radar Sorong)

Anisa Muna Syifa, yang akrab disapa Munas, selaku Community Development Officer (CDO) fungsi Corporate Social Responsibility (CSR) Pertamina RU VII Kasim sekaligus penanggung jawab program di Kampung Seget, mengatakan kegiatan tersebut disusun berdasarkan usulan warga. Dalam diskusi awal, masyarakat menyampaikan keinginan untuk mengembangkan pertanian dan mengolah hasil lokal menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi.

Untuk sektor pertanian, kelompok warga mengembangkan sayuran dan tanaman pangan, di antaranya sawi, kangkung, bayam, terong, tomat, rica, jagung, pepaya, dan pare. Prosesnya dimulai dari survei lahan pada Mei 2026, dilanjutkan dengan pembukaan lahan, pembuatan bedeng, serta pelatihan budidaya pertanian bersama penyuluh dari Balai Penyuluhan Pertanian Moisegen.

Pertamina membantu kebutuhan kegiatan sejak tahap persiapan hingga penanaman. Dukungan tersebut mencakup peralatan pembukaan lahan, bahan bakar, genset, mesin pompa air, bibit, pupuk, serta peralatan berkebun. Kelompok juga mendapat pendampingan dan pemantauan lahan secara berkala bersama penyuluh pertanian.

Menurut Munas, pemasaran hasil panen disiapkan melalui beberapa jalur. Masyarakat di Distrik Seget dan kampung-kampung sekitar dapat datang langsung ke kebun untuk membeli hasil panen. Selain itu, kelompok sedang membicarakan peluang penyerapan hasil pertanian dengan pihak katering perusahaan dan perusahaan lain di sekitar wilayah tersebut. Pertamina juga telah berdiskusi dengan pedagang di Pasar Pagi Aimas yang bersedia menampung hasil panen ketika produksi sudah tersedia.

Di sektor UMKM, warga mengembangkan tiga produk utama, yakni abon ikan, keripik pisang, dan tepung sagu. Kelompok tersebut bernama Krekban, yang dalam bahasa Moi berarti perempuan. Anggotanya terdiri dari perempuan, terutama ibu rumah tangga, serta sejumlah perempuan muda yang telah menyelesaikan pendidikan SMA.

Secara keseluruhan, kelompok UMKM Krekban memiliki 40 anggota. Sebanyak 18 orang terlibat dalam usaha abon ikan, 11 orang dalam keripik pisang, dan 11 orang dalam produksi tepung sagu. Masing-masing kelompok menjalankan produksi di rumah anggota yang dinilai sesuai, karena hingga saat ini belum tersedia satu rumah produksi bersama.

Pelatihan produksi dilaksanakan pada 1 Agustus 2026 dengan melibatkan pelaku UMKM dari Sorong yang mendampingi pengolahan tepung sagu, keripik pisang, dan abon ikan. Pertamina juga mendukung kebutuhan awal berupa bahan baku, peralatan produksi, kemasan, stiker, dan perlengkapan kebersihan.

Munas menjelaskan, pada tahap awal penjualan direncanakan menggunakan sistem pre-order atau berdasarkan pesanan. Kelompok juga menjajaki peluang untuk menitipkan produk di lingkungan perusahaan dan memasarkannya ke warung-warung sekitar. Untuk jangka berikutnya, kelompok akan didorong menyiapkan legalitas usaha dan persyaratan produk agar dapat masuk ke pasar yang lebih luas.

“Jadi untuk goal-nya sendiri, kita memang fokusnya di pemberdayaan ya. Jadi kita harapannya bisa memberdayakan mama-mama dan juga kakak-kakak perempuan yang ada di Kampung Seget ini agar bisa mandiri dan juga memiliki penghasilan sendiri,” katanya.

Munas menambahkan, dukungan perusahaan pada tahun pertama mencakup tahapan awal sampai produk dihasilkan dan mulai dipasarkan. Ke depan, kelompok diharapkan bisa memanfaatkan sebagian hasil penjualan sebagai pendapatan anggota dan sebagian lainnya sebagai kas untuk membeli kembali bahan baku. Dengan begitu, kegiatan produksi dapat berputar tanpa terus bergantung pada bantuan modal awal.

Pertamina juga merencanakan pembentukan rumah produksi bersama pada tahun kedua atau ketiga, yang saat ini masih dalam proses pembahasan. Sementara itu, rumah anggota yang memenuhi kebutuhan ruang dan kebersihan digunakan sebagai tempat produksi sementara.

Di sisi lain, pengembangan pertanian dan UMKM diarahkan agar saling mendukung. Hasil kebun seperti rica, tomat, dan sayuran dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga sekaligus menjadi bahan baku bagi kelompok pengolah makanan. Dengan cara tersebut, kegiatan ekonomi tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan membangun hubungan antara petani, pengolah produk, dan pembeli.

Pjs.Area Manager Communication, Relations, CSR & Compliance Refinery Unit Kasim PT Pertamina Patra Niaga RU Kasim, Bambang Imawan, ketika melihat langsung proses pembuatan bumbu untuk abon ikan.(Fauzia/Radar Sorong)

Pjs.Area Manager Communication, Relations, CSR & Compliance Refinery Unit Kasim PT Pertamina Patra Niaga RU Kasim, Bambang Imawan, mengatakan program pemberdayaan masyarakat akan terus dievaluasi berdasarkan keaktifan kelompok, perkembangan produksi, dan potensi usaha yang dijalankan.

Menurutnya, perusahaan tidak hanya menyediakan sarana dan fasilitas, tetapi juga perlu memastikan bahwa kelompok mampu menjalankan kegiatan secara konsisten. Apabila usaha menunjukkan perkembangan, pendampingan dapat dilanjutkan dan diperluas. Sebaliknya, kelompok yang tidak aktif atau tidak mampu menjalankan rencana perlu dievaluasi agar dukungan perusahaan tetap tepat sasaran.

Bambang menjelaskan, salah satu tujuan program adalah mendukung kemandirian pangan dengan memanfaatkan potensi lokal. Hal itu menjadi penting karena jarak Seget menuju Kota Sorong cukup jauh, sementara akses jalan pada kondisi tertentu dapat terganggu akibat hujan dan banjir. Produksi pangan di wilayah sendiri diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan masyarakat sekaligus memperkuat perputaran ekonomi kampung.

Dalam tahap awal, perusahaan juga membuka peluang untuk menyerap hasil pertanian dan produk olahan yang dihasilkan warga. Kebutuhan sayuran dan bumbu di lingkungan kilang dapat menjadi salah satu pasar bagi kelompok tani. Sementara itu, abon ikan dan keripik pisang berpeluang digunakan untuk kebutuhan konsumsi maupun kegiatan perusahaan.

Namun, untuk menjangkau pasar yang lebih besar, kelompok masih perlu memperkuat kapasitas produksi, konsistensi mutu, pengemasan, dan legalitas produk. Persyaratan seperti izin PIRT dan sertifikat halal menjadi bagian yang perlu dipersiapkan sebelum produk dapat dipasarkan ke jaringan toko atau supermarket yang lebih luas.

Bambang menegaskan, tujuan akhirnya bukan membuat kelompok terus bergantung pada anggaran bantuan perusahaan. Kelompok diharapkan mampu menjalankan usaha secara mandiri, mulai dari pengadaan bahan baku, produksi, hingga pemasaran.

“Dan tujuan akhirnya adalah dengan nanti ini kita sudah tidak lagi men-support secara anggaran untuk operasional, tapi mama-mamanya sudah bisa mandiri sendiri, kelompoknya sudah bisa maju sendiri sampai ke pemasarannya, sehingga nanti sirkular ekonominya akan terjadi di sini,” ujarnya.

Langkah awal telah dimulai dari sesuatu yang dekat dengan kehidupan warga, tanah yang bisa ditanami, ikan yang bisa diolah, pisang yang bisa dijadikan keripik, dan sagu yang dapat dipasarkan sebagai tepung. Jika seluruh potensi itu berkembang bersama, hasilnya bukan hanya tambahan penghasilan bagi keluarga, tetapi juga peluang membangun perputaran ekonomi yang lebih kuat di Kampung Seget.(*)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Social Icons

error: Content is protected !!