Kampung Adat Malasigi di Distrik Klayili, Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya, tak hanya menawarkan pemandian air panas alami, tetapi juga pengalaman menyaksikan burung cenderawasih, menjelajahi gua alam, hingga mengenal tradisi masyarakat adat suku Moi Kelim yang masih terjaga. Di tengah keterbatasan akses jalan, masyarakat terus mengembangkan potensi ekowisata dengan menjaga hutan dan budaya leluhur sebagai kekuatan utama kampung.
Oleh: Norma Fauzia Muhammad
PERJALANAN menuju Kampung Adat Malasigi di Distrik Klayili, Kabupaten Sorong, membutuhkan waktu sekitar 1,5 hingga 2 jam dari Kota Sorong. Jalan yang belum sepenuhnya mulus menjadi salah satu tantangan untuk mencapai kampung yang menyimpan kekayaan alam dan tradisi masyarakat adat suku Moi Kelim tersebut.

Namun, perjalanan itu membawa pengunjung pada pengalaman yang berbeda. Malasigi yang berada di daerah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T), tidak hanya menawarkan pemandian air panas alami, tetapi juga pengamatan burung cenderawasih, gua alam, serta kehidupan masyarakat yang masih menjaga tradisi adat.
Di kampung ini, pengembangan wisata berjalan beriringan dengan upaya mempertahankan hutan sebagai bagian penting dari kehidupan masyarakat.

Tokoh Adat Malasigi, Stefanus Fami, menjelaskan bahwa nama Malasigi memiliki makna yang berkaitan dengan alam di wilayah tersebut. Ia sendiri lahir dan tumbuh di kampung itu, sehingga mengenal bagaimana kehidupan masyarakat dan lingkungan menjadi bagian yang tidak terpisahkan.“Saya sejak lahir tahun 69 di sini,” kata Stefanus, Senin (27/7/2026).
Dia menjelaskan arti nama kampung yang telah menjadi tempat tinggal masyarakat adat secara turun-temurun.“Mala itu artinya gunung. Kalau Sigi itu artinya Udang. Jadi gunung yang ada udangnya,” ujarnya.

Bagi masyarakat Malasigi, wisata bukan hanya mendatangkan pengunjung. Tradisi adat tetap menjadi bagian penting dari cara mereka menyambut tamu. Salah satunya melalui tarian Alen, tarian khas suku Moi yang ditampilkan ketika pengunjung tiba di kampung.

Hal tersebut dilakukan ketika menjemput Widya Gustiani selaku Assisten Manager Communication Relation Regional 4 Indonesia Timur Sub Holding Upstream Pertamina, Agung Prasetya selaku Senior Manager LMF Regional 1, Priawansyah selaku Senior Officer CID Zona Rokan North, Baskoro A. Pratomo selaku Officer CID Regional 1, dan Amarullah selaku Senior Officcer Communication Relation Zona 14 Pertamina EP Regional 4 Indonesia Timur sub Holding Upstream Pertamina.

Ketua Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Malasigi sekaligus Kepala Kampung Persiapan Malasigi, Manase Fami, mengatakan, penyambutan melalui tarian merupakan bentuk penghormatan kepada tamu yang datang. Masyarakat tidak hanya memperlihatkan kesenian, tetapi juga menyampaikan bahwa pengunjung diterima sebagai bagian dari keluarga selama berada di Malasigi.
“Tarian Alen itu tarian khusus untuk suku Moi atau Papua. Masing-masing suku kan punya. Jadi makna tarian itu kita sambut tamu yang datang ke Malasigi ini atau di tempat lain pun sama. Kita sambut dan kita anggap mereka itu sebagai keluarga, dan mereka yang datang ke sini bawa dampak positif bagi masyarakat yang di sini,” katanya.
Manase, menceritakan bahwa wisata di kampung tersebut pada awalnya dikenal melalui sumber air panas alami. Pengembangan wisata kemudian meluas setelah sejumlah pemuda belajar mengenai pemanduan wisata di Kampung Malagufuk selama beberapa tahun, lalu kembali untuk mengembangkan potensi burung di hutan Malasigi.
Menurutnya, pengamatan burung tidak langsung menjadi kegiatan wisata yang berkembang seperti sekarang. Masyarakat melakukan peninjauan lokasi dan berkoordinasi dengan tokoh adat sebelum pengembangan tersebut dilanjutkan. Setelah melalui proses adat, mereka mulai mengembangkan wisata pengamatan burung sebagai tambahan dari wisata air panas yang lebih dahulu dikenal.
“Jadi yang di Malasigi itu 5 jenis cenderawasih. Ada cenderawasih kuning kecil, cenderawasih raja, cenderawasih belah rotan, cenderawasih dada biru, dan towa cemerlang. Adapun burung Kakatua Putih,” kata Manase.

Selain wisata burung dan air panas, pengunjung dapat melihat Gua Wo’Batiwala yang menurut Manase memiliki panjang sekitar 350 meter. Masyarakat juga mempertahankan kerajinan tradisional, termasuk noken yang dibuat kaum perempuan dengan memanfaatkan bahan dari alam.
Dikatakannya bahwa Perjalanan mengembangkan wisata itu tidak selalu mudah. Pada tahap awal, masyarakat membangun fasilitas secara swadaya. Hasil berburu yang dijual digunakan untuk membangun sejumlah fasilitas dasar, termasuk toilet umum.
“Setelah itu, mereka mulai bekerja sama dengan berbagai pihak, antara lain lembaga pendamping lingkungan, perguruan tinggi, organisasi pariwisata, pemerintah, dan Pertamina,” jelasnya.
Manase mengatakan, pendampingan tersebut membantu masyarakat meningkatkan keterampilan, melengkapi fasilitas wisata, dan memperkuat pengelolaan kawasan. Masyarakat juga memperoleh dukungan untuk membangun menara pengamatan burung serta fasilitas penginapan bagi wisatawan.
“Kami awalnya swadaya. Kami berburu, nah dengan hasil perburuan kami ya kami bisa bangun. Kalau kami punya fasilitas yang ada di kampung,” ujarnya.
Dalam perkembangannya, masyarakat Malasigi memperoleh persetujuan pengelolaan hutan melalui skema Perhutanan Sosial dengan luas 1.750 hektare. Bagi Manase, pengakuan tersebut memberikan semangat bagi masyarakat untuk menjaga kawasan sekaligus mengembangkan kegiatan ekonomi yang tidak bergantung pada eksploitasi hutan.
“Upaya tersebut kemudian membawa Malasigi meraih penghargaan di bidang pariwisata. Kampung ini terpilih sebagai juara pertama kategori desa wisata rintisan dalam Anugerah Desa Wisata Indonesia 2024,” katanya.
“Penghargaan itu menjadi salah satu pencapaian masyarakat setelah bertahun-tahun mengembangkan wisata secara bertahap,” katanya.
Menurut Manase, perkembangan wisata harus memberi manfaat langsung bagi masyarakat sekaligus menjaga alam yang menjadi sumber kehidupan mereka. Pengelolaan wisata dilakukan dengan melibatkan warga dalam berbagai pekerjaan, mulai dari pemandu, penyedia makanan, pengelola penginapan, hingga pelaku kerajinan.
Sementara itu, Field Manager PT Pertamina EP Papua Field, Ardi, mengatakan Malasigi memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai destinasi ekowisata. Namun, potensi tersebut perlu didukung fasilitas dasar dan penguatan kapasitas masyarakat agar kegiatan wisata dapat berkembang tanpa merusak lingkungan.

Menurut Ardi, Program Matahati Malasigi diinisiasi pada 2022 dengan tujuan membantu masyarakat adat mengembangkan penghidupan yang berkelanjutan. Program ini menggabungkan pengelolaan hutan, pengembangan ekowisata, pemenuhan kebutuhan dasar, dan peningkatan kemampuan masyarakat dalam mengelola potensi kampungnya.
“Jadi kampung yang kampung perintislah yang saya pikir ini harus kita support dengan penuh gitu, sehingga ya dengan target akhir mereka apa bisa berdiri sendiri seperti itu,” katanya.
Ardi menjelaskan, pengembangan wisata tidak dapat dipisahkan dari penyediaan air bersih dan listrik. Kedua fasilitas tersebut diperlukan agar masyarakat dapat menjalankan kegiatan sehari-hari sekaligus memberikan pelayanan yang lebih baik kepada pengunjung. Karena itu, dukungan Pertamina mencakup sistem air bersih berbasis filter pelepah pisang dan pembangkit listrik tenaga surya berkapasitas 8.700 watt.
Ardi berharap Malasigi dapat menjadi salah satu tujuan wisata yang membuat pengunjung tinggal lebih lama di Sorong, bukan hanya menjadikan kota tersebut sebagai tempat transit sebelum melanjutkan perjalanan ke Raja Ampat. Menurutnya, wisata berbasis budaya dan alam di sekitar Sorong masih memiliki peluang besar untuk dikembangkan.
“Nah, ke depan kami berharap Kampung Adat Malasigi ini menjadi salah satu destinasi sehingga mereka juga berpikir, oh kami nambah sehari dua hari deh di Sorong gitu. Sehingga ini akan menjadi efek domino. Di Kota Sorong sendiri wisatawan juga bisa bertahan sehari dua hari, bukan sebagai tempat transit lagi,” ujarnya.
Meski mulai dikenal sebagai destinasi ekowisata, Malasigi masih membutuhkan dukungan untuk memperbaiki akses jalan menuju kampung. Kondisi jalan menjadi salah satu hal yang diharapkan masyarakat mendapat perhatian pemerintah kabupaten maupun provinsi agar perjalanan wisatawan lebih mudah.
Harapan masyarakat agar Malasigi semakin dikenal, wisatawan bertambah, dan warga memperoleh manfaat ekonomi tanpa kehilangan hutan serta tradisi yang diwariskan leluhur. Di kampung ini, keberhasilan wisata pada akhirnya bukan hanya diukur dari banyaknya pengunjung, tetapi juga dari kemampuan masyarakat menjaga alam dan mengelola potensi mereka sendiri.(*)










