Selama ini, orang hanya mengetahui bahwa minyak dan gas seperti BBM, SPBU, LPG, Avtur adalah bagian dari Pertamina. Namun, ada yang lain di Kota bunga atau Tomohon Sulawesi Utara ini, memiliki PGE Area Lahendong yang memanfaatkan panas bumi untuk kebutuhan energi masyarakat dan industri.
Laporan oleh Norma Fauzia Muhammad


SEBANYAK 18 Jurnalis Pemenang Ajang Jurnalis Pertamina (AJP) Teritorial Papua Maluku 2022 diajak Pertamina Patra Niaga Regional Papua Maluku untuk melihat sisi lain dari Bisnis Pertamina, di Tomohon yang juga disebut kota bunga, berada di Sulawesi Utara, beberapa waktu lalu 18 Januari 2023.

Penulis cukup terkejut ketika mengetahui sisi lain produk atau bisnis dari Pertamina yang satu ini, ketika mengunjungi PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) Area Lahendong.
Bayangkan betapa canggihnya, jika rumah-rumah dan perusahaan bisa diterangi lampu tanpa menggunakan solar lagi, tetapi ternyata bisa menggunakan Panas bumi yang merupakan alternatif energi terbarukan, yang tidak bergantung pada kondisi iklim maupun cuaca serta memiliki fleksibilitas utilisasi yang tinggi.
Nah, pasti pembaca penasaran kan? Tak perlu berlama lagi, mari kita simak lebih mendalam tentang Pertamina Geothermal Energy (PGE) Area Lahendong yang memiliki kapasitas pembangkitan sebesar 120 MW. PLTP Lahendong merupakan salah satu PLTP terbesar di Indonesia. Saat ini tercatat memiliki 6 unit Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP).
Alhamdulillah, Para jurnalis juga diberi kesempatan mengunjungi lokasi PLTP 5 & 6 Tompaso di Kabupaten Minahasa. Ketika di lokasi tersebut, para jurnalis dijelaskan bahwa sebagian besar pemanfaatan panas bumi dilakukan dengan skema pemanfaatan tidak langsung, dimana PGE menyediakan uap yang dihasilkan dari lapangan panas bumi untuk serta menyediakan tenaga listrik yang dihasilkan. Dari pengelolaan energi panas bumi yang terintegrasi dari eksplorasi, pengeboran, hingga pengembangan dan pengoperasian Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP).

Selain itu, di lokasi tersebut nampak uap seperti asap menggumpal hingga ke naik ke langit membuat decak kagum para jurnalis sehingga momen tersebut dimanfaatkan para jurnalis usai mendapatkan informasi seputaran PGE Area Lahendong. Kamera DSLR dan handphone masing-masing pun mulai dikeluarkan dari saku celana dan tas untuk mengabdikan foto mereka sendiri bahkan foto bersama, tapi tak lupa tanggungjawab mengambil gambar terbaik untuk kebutuhan pekerjaan. Hehehe.

Sebelum ke lokasi PLTP Unit 5&6 Tompaso, Manager Maintenance PT PGE Area Lahendong, Fairus Nur menyambut baik kunjungan dari para jurnalis serta pihak Pertamina Patra Niaga Regional Papua Maluku.
Manager Maintenance PT PGE Area Lahendong, Fairus Nur menjelaskan bahwa Pada PGE Lahendong memanfaatkan panas bumi sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) untuk memenuhi kebutuhan listrik masyarakat di Sulawesi Utara dan Gorontalo (SulutGo).
“Pertamina juga memiliki bisnis Geothermal. Geothermal adalah bisnis yang masih muda, berdiri pada tahun 2006-2007. Salah satu syarat untuk pengembangan Geothermal adalah di daerah pegunungan. Mungkin Papua juga masuk tapi saat ini, kami belum memiliki wilayah kerja panasbumi (WKP),” katanya.
Dijelaskan bahwa Keistimewaan lainnya dari Geothermal adalah energinya tidak dapat di ekspor. Jika Geothermal dibangun di Sulawesi Utara, maka hanya masyarakat Sulawesi Utara yang dapat menikmati energi tersebut. Misalnya, jika Geothermal dibangun di Jawa sudah ada sambungan Jawa-Sumatera-Bali. Maka energi tersebut akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan listrik di Jawa dan Bali.
“Di Lahendong ini, kami memiliki beberapa teknologi, PLTP Konvensional, Pembangkit Listrik yang memanfaatkan air. Kita patut berbangga karena saat ini Indonesia kapasitas terpasang adalah nomor 2 di dunia. Potensi dari Geothermal di Indonesia cukup besar, yaitu sebesar 23,9 GW. Ini data di Desember 2020,” katanya.

Fairus mengatakan bahwa Ada beberapa perusahaan yang bergerak di bidang panas bumi. Saat ini, PGE merupakan perusahaan panas bumi yang paling maju di Indonesia.
“PGE bercita-cita menjadi perusahaan panas bumi nomor 1 di dunia pada tahun 2030,” ungkapnya.
Ia juga mengatakan bahwa Secara umum di Indonesia Pemanfaatan Geothermal, masih belum maksimal karena dari 23,9 GW baru termanfaatkan 9-10 persen.
“Geothermal terkenal sifatnya dengan sustainable, selama sumber panas kita maintenance maka operasional mampu 30 tahun. Sehingga anak, cucu kita bisa merasakannya,” ujarnya.
Dikatakan Fairuz bahwa pengembangan Geothermal ini sangat erat kaitannya dengan lingkungan. Jadi selama sumber panas terjaga, hutan, dan air terjaga, maka pengembangan Geothermal dapat memanfaatkan 24 GW bisa dicapai.
“Di Geothermal Lahendong , terdapat dua fasa di separator. yang disebut airbag. Airbag adalah alat yang digunakan untuk memisahkan uap dan air panas dari sumber panas bumi,” katanya.
Dijelaskan juga bahwa Karakteristik dari Geothermal adalah produksi dan injeksi. Produksi adalah proses pengambilan uap dan air panas dari perut bumi, sedangkan injeksi adalah proses memasukkan air panas kembali ke dalam perut bumi.
“Saat ini, output dari Geothermal di Sulawesi Utara hanya listrik. Untuk pengembangan Geothermal, kita ada yang namanya Perjanjian Jual Beli Uap (PJBU) yaitu diolah PLN menjadi energi listrik sedangkan Perjanjian Jual Beli Listrik (PJBL) jadi PLN menerima dalam bentuk listrik, tinggal menyalurkan,” jelasnya.
“Unit 1,2,3 dan 4 adalah PJBU dan Unit 5 dan 6 adalah PJBL. Nah, unit 5 dan 6 berada di Tompaso teknologinya cukup komplit,” sambungnya.
Fairuz menambahkan bahwa PGE Area Lahendong patut berbangga karena green energy di Sulawesi Utara ini adalah terbesar di Indonesia sekitar 30 persen.
“Kita juga sebagai andalan Sulawesi Utara sekitar 20 persen. Salah satu komitmen dari pemerintah untuk mendorong green energy,” ujarnya.

Menurutnya PGE Area Lahendong memiliki WKP 160.000 hektar. Terletak di Kota Manado, Kota Tomohon, Kabupaten Minahasa induk, Minahasa Tenggara dan Minahasa Selatan.
Selain berbisnis, PGE Area Lahendong memiliki Tanggung jawab sosial PGE Area Lahendong yaitu kesehatan, pendidikan, lingkungan, pemberdayaan ekonomi, sosial budaya dan keagamaan.
“Untuk pemberdayaan Kita ada lembaga permasyarakatan khusus anak. Satu-satunya lembaga khusus anak di Sulawesi Utara. kami fokus pada anak-anak korban kekerasan seksual. Kami memberikan pembelajaran seni, kemudian ada yang membuat band, hingga memiliki album. Pembuatan minyak kelapa, yang sekarang juga bisa dijual,” ungkapnya.
Selain itu, PGE Area Lahendong juga melakukan Konservasi keanekaragaman Satwa Yaki atau Monyet.
“Mengapa kita memilih Yaki karena satwa endemik di Sulawesi Utara yang populasinya terancam kepunahan akibat penebangan hutan dan perburuan hewan untuk perdagangan hewan hidup,” ungkapnya.
Menurutnya, Yang membuat Yaki terancam punah itu karena dikonsumsi. Jadi selain dikonsumsi, Yaki diperdagangkan secara bebas.
“Sehingga kami bekerjasama dengan BKSDA Sulawesi Utara,” katanya.
Untuk skema pemanfaatan langsung, saat ini PGE sedang mengembangkan bisnis Geowisata, Geoagro Industri serta kegiatan lain yang memanfaatkan energi panas bumi secara langsung.
“Masih memiliki fluida yang digunakan untuk PLTP Konvensional brine atau air panas masih memiliki sumber energi. Nah, itu digunakan untuk sumber listrik meski tidak begitu besar. Tetapi paling tidak, sebelum kita masukan air itu ke sumur injeksi. Bisa kita manfaatkan,” pungkasnya.

Sementara itu, Area Manager Communication, Realtions & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Papua Maluku Edi Mangun mengatakan bahwa Kunjungan tersebut bertujuan untuk melihat peluang bisnis energi alternatif di Indonesia Timur.
Sehingga, kata Edi pihaknya mengajak jurnalis Pemenang AJP 2022 teritorial Papua-Maluku. Karena di wilayah Papua-Maluku untuk bisnis Pertamina lebih cenderung ke Pemasaran, ada Fuel Sorong, dan EP, kemudian pengelolaan di Pertamina Kilang, sedangkan PGE Area Lahendong adalah bisnis Pertamina yang tidak ada di wilayah Papua dan Maluku.
Edi Mangun juga mengatakan bahwa selama ini masyarakat Indonesia hanya mengenal Pertamina sebagai perusahaan yang bergerak di bidang minyak dan gas bumi. Padahal, Pertamina juga memiliki bisnis energi alternatif, salah satunya di bidang panas bumi.
“Itulah tujuan kami Pertamina Patra Niaga Regional Papua Maluku mengajak teman-teman jurnalis dari Papua, Papua Barat, Maluku dan Maluku Utara mengunjungi PGE Area Lahendong. Untuk melihat proses bagaimana pengolahan panas bumi itu menjadi pembangkit atau generator listrik yang kemudian dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat di sekitar Tomohon dan Sulawesi Utara,” katanya.
Edi Mangun berharap Dengan kunjungan tersebut diharapkan para jurnalis dapat menulis apa yang dilihat di PGE Lahendong.
“Yang pasti ini dapat memberikan pengetahuan kepada teman-teman jurnalis, bahwa bisnis Pertamina itu tidak hanya BBM atau SPBU saja,” ungkapnya.
Edi juga menambahkan bahwa dengan mengajak jurnalis untuk melihat langsung bagaimana PLTP Lahendong beroperasi, sekaligus sebagai edukasi agar masyarakat lebih mengenal potensi energi alternatif di Indonesia melalui tulisan para jurnalis.
“Agar masyarakat di wilayah Papua-Maluku dan bisa dibaca generasi kita di Papua-Maluku kemudian mentriger agar mereka mau bekerja di Pertamina. Tidak hanya berpikir mau jadi PNS di pemerintahan, tapi juga bisa berkembang di BUMN,” ungkapnya.

Edi berharap kunjungan jurnalis dapat mendorong pemerintah daerah di wilayah Papua-Maluku untuk mengembangkan potensi energi panas bumi di daerahnya masing-masing.
“Kami sangat mendorong pemerintah daerah untuk melihat potensi-potensi sumber daya alam, selain Migas untuk dijadikan energi alternatif. Ini penting untuk menjaga ketahanan energi nasional,” katanya.
Disinggung apakah di Provinsi Papua Barat Daya memiliki potensi panas bumi yang dimanfaatkan untuk PLTE, Edi mengatakan tinggal bagaimana Pemerintah daerah ikut berpikir dan mencari energi alternatif pengganti energi daripada bahan bakar fosil, yang dalam hal ini solar sebagai penggerak generator di PLN.
“Kalau di Provinsi Papua Barat Daya tinggal bagaimana kemudian pemerintah daerah mengambil inisiatif untuk mengundang para peneliti ataupun yang berkompeten, dalam hal untuk menilai seberapa besar nilai ekonomis dari potensi panas bumi,” pungkasnya.(*)















