Masyarakat Jalur Bali Rayakan 5 Hari Besar Keagamaan Setiap Tahunnya
TAK bisa diragukan lagi keharmonisan masyarakat Jalur Bali, Kelurahan Malagusa Distrik Aimas Kabupaten Sorong dalam memelihara toleransi umat beragama memang sangat sempurna. Saking tingginya toleransi yang dimiliki, membuat masyarakat anta umat beragama hampir tidak punya jarak dalam bersosialisasi. Bahkan menurut Ketua Panitia Peresmian Kampung Kerukunan Beragama, Ashar, ST, tak bisa dipungkiri dengan keharmonisan tersebut membuat masyarakat Jalur Bali seperti turut merasakan 5 hari besar keagaamaan setiap tahunnya.

Tak hanya keberagaman agamanya, masyarakat Jalur Bali yang beradal dari daerah Jawa, Bali, Bugis, Maluku, Papua bahkan Chinese juga menjadi instrumen lahirnya keberagaman budaya. Sehingga tidak berlebihan jika Jalur Bali disebut sebagai miniatur Indonesia.
“Dengan adanya lima tempat ibadah di kawasan ini secara otomatis masyarakat dan umatnya juga berbaur. Sehingga seluruh masyarakat yang ada di sini secara tidak langsung selalu merayakan lima kali hari raya keagamaan setiap tahunnya. Di mana sudah tidak ada jarak yang memisahkan antar umat,” ungkap Ashar.
Kurang lebih 3000 jiwa masyarakat yang tinggal di Jalur Bali tak pernah mengalami gesekan sekalipun. Sehingga keharmonisan umat beragama, berbangsa dan bernegara juga sangat terpelihara di tempat ini. Adapun beberapa tempat ibadah yang terdapat di kompleks Jalur Bali diantaranya ada 3 mushola, 1 vihara, 2 gereja dan 1 pura. Vihara dibangun pada tahun 2012 dan diresmikan tahun 2015, selanjutnya ada satu musholla yang dibangun tahun 2011 dan diresmikan tahun 2012. Sedangkan pura adalah tempat ibadah pertama yang ada di kawasan tersebut yang dibangun sekitar tahun 1983 sampai tahun 1985.
“Sejak awal masyarakat tinggal di sini Pura sudah terlebih dahulu ada. Masyarakat di sini dulunya adalah orang Bali, makaya kawasan ini dikenal dengan nama kompleks Jalur Bali,” kata Ashar. Meskipun baru diresmikan pada Senin, 30 Oktober 2022, sebenarnya Jalur Bali sudah dicanangkan sebagai Kampung Kerukunan Beragama pada 5 September 2020. Ide tersebut disetujui oleh pemerintah Kabupaten Sorong dibuktikan dengan penandatanganan prasasti oleh Bupati Sorong saat itu Dr. Johny Kamuru, SH, M.Si bertempat di Vihara.
Untuk lebih menonjolkan harmonisasi kerukunan umat beragama dan berbudaya, Panitia Peresmian Kampung Kerukunan Beragama berencana akan mengadakan karnaval kebudayaan umat. Namun di luar daripada itu sebenarnya toleransi itu sudah terjadi secara alami seja puluhan tahun yang lalu.

Kepala Kelurahan Malagusa, Yuliance Yebe Ulim mengatakan, Pemerintah Kabupaten Sorong turut mendukung apa yang diinisiasikan oleh masyarakat. Karena terpeliharanya kerukunan beragama dan berbudaya membuat kehidupan dan suasana menjadi tentram dan nyaman.
“Ini adalah Inisiatif yang sangat luar biasa dan sangat membantu kami pihak kelurahan untuk mencegah terjadinya gesekan antar umat beragama maupun antar budaya. Karena untuk menciptakan suatu kerukunan adalah hal yang sangat sensitif,” kata Yuliance.
Rencananya ke depan, Kampung Kerukunan Beragama akan dijadikan sebagai salah satu obyek daya tarik wisata yang bisa memberikan income bagi masyarakat. Namun tentu ada beberapa instrumen yang harus dilengkapi seperti misalnya terkait fasilitas pendukung pariwisata maupun aspek kebersihan lingkungan. (ayu)













