SORONG – Stasiun Geofisika Sorong mencatat sepanjang tahun 2023, telah terjadi aktivitas gempa sebanyak 1.245 kejadian di wilayah Papua Barat dan Papua Barat Daya. Kepala Stasiun Geofisika Sorong Dedy Irjayanto, S.Si, M.Sc menyebut Papua barat dan Papua Barat Daya sangat aktif kegempaan.
Kepala Stasiun Geofisika Sorong Dedy Irjayanto menjelaskan dalam periode tahun 2023 telah terjadi 1.245 kejadian gempabumi tektonik. Selama periode tersebut didominasi oleh gempa dangkal dengan kedalaman kurang 70 Km sebanyak 1. 231 kali. Sedangkan gempabumi menengah yaitu gempabumi dengan kedalaman 70 hingga 300 Km sebanyak 14 kali.
“Ditinjau dari kekuatan atau magnitude gempabumi, gempabumi dengan magnitude M < 3 sebanyak 802 kejadian, gempa dengan magnitude 3 < M < 5 sebanyak 440 kejadian, dan gempabumi dengan magnitude M > 5 sebanyak 3 kejadian,” jelasnya kepada Radar Sorong, Minggu (14/1).
Lebih lanjut, Dedy menambahkan gempabumi signifikan atau dirasakan sebanyak 38 kali kejadian yang terjadi di Wilayah Sorong, Tambrauw, Manokwari, Manokwari Selatan dan Kaimana. Adapun sesar atau patahan zona aktif meliputi sesar Sorong yang memanjang dari wilayah Sorong, Tambrauw hingga Manokwari.
“Kemudian sesar ransiki melintas diwilayah Manokwari hingga Manokwari Selatan, sesar Arguni dan Tarera Aiduma di Wilayah Kaimana,” ungkapnya.
Dedy mengungkap kegempaan yang merusak pernah terjadi di Wilayah Manokwari dan Sorong pada tahun 2009, dengan magnitude M 7.6 dan M 7.4 yang mengakibatkan korban jiwa sebanyak 4 orang dan 10 bangunan rusak berat serta memicu tsunami setinggi 1.8 meter.
“Adapun kejadian gempabumi merusak di Sorong yang terjadi pada tanggal 25 September 2015 dengan magnitude M 6.8 mengakibatkan 67 orang luka – luka, sebanyak 300 bangunan mengalami kerusakan baik ringan maupun rusak berat, gempabumi tersebut dirasakan di Wilayah Raja Ampat, Sorong, Tambrauw hingga Manokwari,” ujarnya.
Dedy menambahkan gempabumi kuat bisa saja terjadi apalagi di wilayah aktif rawan gempabumi. Oleh sebab itu, Dedy berharap masyarakat dapat meningkatkan mitigasi bencana dan selalu memperhatikan informasi resmi yang bersumber langsung dari BMKG untuk meminimalkan berita yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.(rin)
















