MANOKWARI – Rumah Sakit Umum Provinsi (RSUP) Papua Barat, Senin (9/5) diresmikan Gubernur Papua Barat, Drs Dominggus Mandacan,MSi. Bangunan yang berdiri megah dan kokoh diatas lahan sebesar 14.406 hektar tersebut menghabiskan Rp436 miliar dari anggaran pendapatan belanja daerah (APBD) tahun 2009 hingga 2021.
Perencanaan pembangunan RSUP PB dilaksanakan tahun 2014 yang dikerjakan oleh 4 perusahaan.
Analisis dampak lingkungan (Amdal) di lakukanan oleh Badan Pengendalian Dampak Lingkungan (Bapeldalda PB) tahun 2013. Pembangunan infrastruktur RSUP dimulai tahun 2015 hingga 2021.
Gubernur mengatakan RSUP PB dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dengan tersedianya fasilitas kesehatan yang memadai merupakan faktor penunjang bagi tenaga kesehatan untuk meningkatkan kinerja yang profesional sesuai dengan pelayanan kesehatan yang diharapkan. ”Bagian yang masih kurang di RSUP PB akan kami lengkapi tentunya juga tidak semudah membalikkan telapak tangan tetapi membutuhkan perencanaan dan pembiayaan tentunya juga membutuhkan tenaga-tenaga medis yang siap,” kata Dominggus Mandacan.
Dia mengajak merawat gedung yang megah dan kokoh, karena membangun merupakan hal yang mudah tetapi yang susah adalah merawatnya. ”Merawat itu yang susah karena kita tidak disiplin. Kita berkaca dari rumah sakit yang sudah ada, tampak dari depan bagus tetapi masuk ke dalam penuh dengan coretan, ludah pinang dan sebagainya,” ungkapnya. Ia mengucapkan terima kasih kepada gubernur sebelumnya, Almarhum Abraham Atururi yang telah meletakkan dasar dari pembangunan RSUP PB. ”Saya ucapkan terima kasih kepada Almarhum Abraham Atururi dan saya tinggal melanjutkan apa yang telah di buat Almarhum Abraham Atururi,” ucapnya.
Sementara itu, Sekretaris Direktorat Pelayanan Kesehatan (Sesditjen Yankes) Kementerian Kesehatan (Kemenkes), dr. Azhar Jaya mengatakan pembangunan RSUP ini tidak boleh berhenti hanya dengan peresmian. Masih banyak kebutuhan kesehatan lainnya yang memang perlu dan diberikan kepada masyarakat Papua Barat.
Ia mengungkapkan bangunan RSUP tidak hanya megah secara fisik tetapi juga harus dapat memberikan pelayanan dalam artian rumah sakit sesungguhnya. ”RSUP tidak boleh seperti Puskesmas yang besar (bangunan megah, red) melainkan pelayanannya tidak seperti layaknya rumah sakit, hanya pelayanan seperti Puskesmas dalam bangunan yang megah,” ungkapnya. ”Untuk itu, keberadaan sumber daya manusia (SDM) sangat penting,” katanya menambahkan.
Menteri Kesehatan telah memberikan perhatian kepada RSUP Papua Barat. Menteri Kesehatan telah memikirkan terkait dengan SDM. ”Memang masalah SDM kesehatan tidak bisa diselesaikan oleh Pemprov Papua Barat saja melainkan dari pusat pun akan turun tangan terkait pemenuhan tenaga dokter umum dan dokter spesialis,” ucapnya.
dr. Azhar Jaya menyebutkan ada beberapa dokter spesialis yang tadinya ’bandel’ akan ’dijewer’ dan dikembalikan ke Papua Barat sesuai dengan perjanjian awal. ”Dengan demikian dengan adanya tenaga dokter spesialis dan juga tenaga perawat, maka RSUP bisa menjadi rumah sakit yang sesuai dengan fungsinya,” pungkasnya. (bw)















