Bisa Diproduksi Sendiri, Ramah Lingkungan, Tidak Lagi Mengandalkan Pupuk Kimia
AIMAS – Guna mengatasi permasalahan kelangkaan pupuk, Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH) Provinsi Papua Barat mengajak masyarakat membuat ramuan elisitor biosaka nuswantara. Biosaka merupakan ramuan ajaib yang dibuat menggunakan rumput-rumputan/tanaman dengan minimal 5 jenis tanaman. Tanaman yang digunakan lebih banyak memanfaatkan tanaman yang ada di sekitar areal sawah/ladang. Tidak jarang, tanaman yang digunakan tersebut biasanya oleh sebagian besar petani dianggap sebagai gulma yang harus dibersihkan/tidak bermanfaat.
Cara pembuatannya juga sangat mudah, dengan meremas segenggam rerumputan berbagai jenis dalam 2-5 liter air. Rumput diremas pelan memutar ke kiri dan diselingi dengan adukan. Peremasan dilakukan sekitar 15-20 menit, hingga larutan air berwarna coklat gelap homogen dan sedikit berbusa, menandakan bajwa ramuan tersebut siap untuk digunakan.
Kepala Laboratorium Pengamatan Hama Penyakit (LPHP) Sorong, Sutardi mengatakan, meski hanya ramuan sederhana namun manfaat inovasi elisitor biosaka nuswantara sangat ajaib. Pertama, efektifitas kinerja yang baik. Reaksi biosaka dapat dilihat dalam waktu 24 jam setelah aplikasi. Kedua, dapat digunakan pada seluruh fase tanaman, mulai dari benih hingga panen, Ketiga, proses produksinya pun sangat cepat karena tidak menggunakan metode pemanggangan yang biasanya memakan waktu paling cepat 1 minggu.
Keempat, cara penggunaannya mudah dan penggunaan dosis yang sangat sedikit. Kelima, dapat diterapkan pada semua komoditas, termasuk tanaman perkebunan. Keenam, dapat mengurangi penggunaan pupuk kimia hingga 50-70 persen, sehingga sangat mengirit biaya produksi. Ketujuh, bahan baku Biosaka juga tersedia setiap saat di lingkungan petani, dimanapun dan kapanpun. “Biosaka bukan barang pabrikan, bukan merk, bukan pupuk, bukan pestisida, tidak diperjualbelikan. Biosaka merupakan elisitor yang betul-betul dibuat sendiri oleh petani, dan gratis karena pembuatannya hanya mengandalkan bahan alami,” ujar Sutardi.
Ia menyebutkan, beberapa petani di Kampung Malamay ini juga sudah pernah melakukan uji coba pengaplikasian elisitor biosaka terhadap tanamannya. Ternyata hasilnya sangat mengherankan. Karena elisitor ini adalah molekul signal yang memacu terbentuknya molekul sekunder di dalam struktur sel tumbuhan. “Bahasa sederhananya tanaman itu dibuat menjadi cerdas. Karena ternyata tanaman budidaya selama ini tidak cerdas sebab pertumbuhannya selalu dipacu oleh pupuk yang sintetis. Sehingga mereka tidak bisa mengelola ekosistemnya sendiri. Nah melalui elisitor biosaka ini maka kecerdasan sel tanaman akan terbentuk. Di mana setelah itu tanaman akan lebih peka untuk mengelola unsur hara yang selama ini tidak pernah dimanfaatkan oleh tumbuhan tersebut,” beber Sutardi.
Sementara itu, Kepala BPTPH Provinsi Papua Barat, Teguh Santoso, S.Hut berharap kegiatan seperti ini akan terus dideraskan, dipraktikkan dan diuji cobakan oleh masyarakat petani. Disebutkan Teguh, ketika nanti seluruh kepengurusan administrasi dari Papua Barat sudah beralih ke Papua Barat Daya maka kegiatan-kegiatan positif yang digagas oleh BPTH Papua Barat tidak berhenti.
Apalagi Inovasi Biosaka ini sangat menolong para petani untuk menekan cost/ biaya produksi yang dikeluarkan oleh petani untuk membeli pupuk. Selain menekan biaya produksi dampak positif lainnya adalah kelestarian lingkungan yang akan tetap terjaga dan tidak diracuni oleh pupuk kimia. “Tentu saja gratis, petani bisa bikin sendiri dengan bahan-bahan alami yang sudah tersedia di alam. Supaya petani tidak ketergantungan terhadap penggunaan pupuk kimia dan tidak resah ketika terjadi kelangkaan pupuk,” kata Teguh.
Plt. Kadis Pertanian Pangan Kelautan dan Perikanan PBD, Absalom Solossa, S.Pi, MM menyambut baik kegiatan yang digagas oleh BPTPH Papua Barat. Kadis kerasa terkesan sebab, kegiatan ini merupakan pertama kali baginya. Dimana Kadis juga turut mempraktikkan langsung pembuatan ramuan ajaib tersebut bersama masyarakat kelompok tani.
Setelah mengetahui khasiat dari ramuan ajaib tersebut, Kadis berkomitmen bahwa pihaknya akan terus mendukung dan mendorong program tersebut. Kadis juga meminta agar ilmu tersebut bisa ditularkan kepada masyarakat petani lainnya guna meningkatkan hasil produksi pertanian mereka. “Bentuk dukungan kami dari pemerintah provinsi mudah-mudahan ke depannya kami bisa memfasilitasi petani dengan pemenuhan sarana prasarana pertanian dalam rangka meningkatkan hasil produksi para petani. Dengan harapan tentunya ini juga akan meningkatkan perekonomian masyarakat,” ujarnya.
Selain membantu dalam hal peningkatan sarana prasarana, lanjut Absalom, Pihaknya juga siap berupaya memberikan dukungan dana kepada kelompok-kelimpok tani yang ada. Dimana dana tersebut akan diusulkan dalam APBD induk maupun APBD perubahan. (ayu)













