MANOKWARI – Ketua Dewan kerajinan nasional daerah (Dekranasda) Manokwari, Febelina Indou mengharapkan pendidikan keterampilan bisa kembali masuk dalam muatan lokal (Mulok) pada setiap sekolah di Manokwari.
Ia mengatakan dulu kerajinan dan kesenian masuk dalam pendidikan keterampilan, namun adanya era digitalisasi membuat hal tersebut jadi memudar.
“Saya berharap kurikulum pendidikan keterampilan kembali lagi dalam dunia pendidikan karena dengan lebih menekankan keterampilan maka penggunaanya telepon genggam akan berkurang,” ujarnya, Senin (31/10).
Masuknya pendidikan keterampilan, membuat anak-anak peserta didik mempunyai keterampilan dan keahlian khusus untuk melestarikan kerajinan yang ada di Papua Barat khususnya Manokwari.
“Kita ingin mencetak bibit-bibit pengerajin sudah ada sejak dini mulai dari bangku sekolah menengah pertama (SMP) sehingga ke depan, kita tidak kekurangan sumber daya manusia,” ucap Febelina.
Ia mengungkapkan adanya pendidikan keterampilan sejak dini, bisa meningkatkan kualitas pengerajin yang mempunyai daya saing tinggi. Selain itu, kita melihat saat ini kualitas pengerajin yang semakin tumpul. Melalui regenerasi dapat mendorong kerajinan di Manokwari.
“Untuk itulah butuh keberpihakan dan fasilitas dari pemerintah daerah. Bidang seni kerajinan, tari, musik dan sebagainya masuk dalam muatan lokal atau ektrakulikuler,” ungkapnya.
Sementara itu, Bupati Manokwari Hermus Indou akan mengkaji kembali implementasi seni budaya di sekolah sebagai ektrakulikuler maupun muatan lokal.
“Nanti kita kaji terlebih dahulu. Mana efektifitas dari implementasi di sekolah,” ujarnya.
Ia menyebutkan apabila hal tersebut memungkinkan maka akan masuk dalam kurikulum pada satuan pendidikan di Manokwari.
“Kita lihat lagi kemungkinannya untuk pendidikan SD dan SMP. Apakah implementasi tersebut bisa membawa dampak baik bagi kemajuan pembangunan di Manokwari,” sebutnya. (bw)














