“Papua Barat Daya Bersih dari Sampah Bisa Terwujud Asalkan Kita Semua Berkomitmen”
SORONG – Sampah plastik adalah ancaman berbahaya yang dapat merusak tatanan kehidupan. Bukan hanya dapat merusak kesehatan manusia, sampah plastik juga berpotensi merusak ekosistem di laut dan berdampak pada perubahan iklim, karena sampah di laut umumnya berasal dari daratan dan kebanyakan merupakan sampah plastic dan sampah plastic butuh ratusan tahun untuk terurai secara alami.
Untuk penanganan masalah sampah termasuk diantaranya sampah plastic, pemerintah Provinsi Papua Barat Daya telah mengeluarkan Peraturan Gubernur Nomor 30 Tahun 2023 tentang Kebijakan dan Strategi Daerah Dalam Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Rumah Tangga.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Kehutanan dan Pertanahan Provinsi Papua Barat Daya, Julian Kelly Kambu,ST,MSi mengatakan, pengurangan sampah rumah tangga dan sampah sejenis sampah rumah tangga, dilakukan melalui pembatasan timbulan, pemanfaatan kembali dan pendaur ulang sampah rumah tangga dan sampah sejenis sampah rumah tangga.
Khusus untuk sampah rumah tangga berupa botol plastic air mineral, pengurangan melalui daur ulang kini menemui titik terang. Meski selama ini sudah ada Bank Sampah di Kota Sorong, namun belum efektif mengurangi masalah sampah botol plastic ini. Buktinya, banjir yang kerap kali terjadi salah satu faktornya karena tersumbatnya drainase akibat timbunan sampah yang didominasi botol plastic air mineral.
“Kami patut bersyukur karena kemarin mendapatkan solusi bagaimana mengatasi sampah botol plastic air mineral. Difasilitasi Korem 181/PVT yang mendatangkan Direktur PT Veolia Services Indonesia, Joko Sunaryo, dan mereka ini sudah standar ekspor hasil cacahan biji plastic. Pada prinsipnya dari perusahaan ini membutuhkan pasokan bahan baku botol plastic yang cukup besar,” kata Kelly Kambu kepada Radar Sorong, Minggu (24/3). Untuk diketahui, PT Veolia Services Indonesia merupakan perusahaan yang bergerak di bidang RPET (Recycle Poly Ethyene Terephtalate). Polyethylene terephthalate merupakan plastik bening, kuat, dan ringan yang banyak digunakan untuk kemasan makanan dan minuman.

Setelah mengunjungi PBD dan melihat secara langsung di TPA lanjut Kelly Kambu, tumpukan sampah botol plastic ini menurut mereka ini uang yang dibuang, punya potensi untuk dikelola dengan baik sehingga bisa juga memberdayakan masyarakat. “Ini artinya bahwa kami telah mendapatkan semacam penguatan dari pihak perusahaan untuk penanganan masalah sampah khususnya sampah botol plastic. Tujuan utamanya kami disini tidak melihat pengelolaan sampah dari sisi bisnis, tetapi kami melihat bagaimana lingkungan itu menjadi bersih, karena dengan bersih itu akan menjadi daya tarik wisatawan, apalagi di wilayah PBD ini ada Raja Ampat yang sudah mendunia,” tutur Kelly Kambu.
Kelly mengatakan, pihaknya bersama Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Maybrat dan Maybrat dan salah satu Kabid di Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sorong, berdiskusi dengan pihak perusahaan dan akan ada tindaklanjutnya. “Pertemuan kemarin itu tahap awal, mungkin setelah lebaran kita mengundang mereka untuk datang dan melakukan pertemuan dalam skala besar dengan mengundang seluruh stakeholder terkait, untuk bagaimana kita bisa menyelesaikan masalah sampah botol plastic air mineral ini. Solusinya sudah ada, mungkin pemerintah bisa menyediakan lahan kemudian gudang penampungan botol air mineral ini. Di Kota Sorong ini juga sudah ada Bank Sampah, mungkin ini bisa jadi jawaban karena dari Bank Sampah selama ini terkendala biaya pengiriman dengan menyewa container yang terbilang besar,” ucapnya.
“Terkait sampah botol plastic ini sudah ada solusi. Pertama, kita kumpulkan disini kemudian dipress dan selanjutnya dikirim ke Surabaya dan mereka dari pihak perusahaan juga berkomitmen untuk biaya container mereka siap tanggung. Ini komitmen mereka untuk melihat bagaimana lingkungan bebas dari sampah botol plastic air mineral,” sambungnya.
Masalah sampah dipengaruhi berbagai factor, dan pihaknya berupaya menyelesaikan masalah sampah ini satu persatu, baik itu sampah organic maupun sampah anorganik. “Setelah masalah sampah botol plastic air mineral ini, kita juga mengurangi sampah plastic sekali pakai mungkin bisa dimulai dari toko-toko besar untuk tidak lagi menggunakan plastic sekali pakai,” tukasnya.
Sementara terkait masalah sampah organic, sisa makanan dan sebagainya, Kelly mengatakan bisa dikelola dengan solusi menggunakan maggot untuk mengurai sampah organic tersebut, dan maggot tersebut bisa dimanfaatkan untuk menjadi pakan ikan, burung, unggas peliharaan dan sebagainya, bisa juga untuk pupuk.
“Bila konsep penanganan sampah ini kita bisa terapkan dengan baik, dan kita berkolaborasi dengan seluruh stakeholder terkait, dan berkomitmen untuk mewujudkan Papua Barat Daya ini bersih dari sampah, saya pikir itu bisa terwujud asalkan kita semua berkomitmen untuk ini,” imbuhnya. (ian)














