Oleh: Tutus Riyanti
(The Voice of Muslimah Papua Barat Daya)
Akhir hidup manusia adalah datangnya kematian. Setiap saat kita mendengar berita tentang kematian dari teman, keluarga, tetangga, kenalan jauh, bahkan dari orang-orang yang tidak kita kenal. Yang meninggal juga dari berbagai macam profesi dan latar belakang. Tidak peduli kaya atau miskin. Tidak terbatas dari suku atau organisasi apa. Ketika kematian datang, dia tidak pernah mengenal “siapa” yang dia jemput.
Dalam beberapa tahun terakhir saja, kita mendengar meninggalnya para ulama, para pengemban dakwah, dan orang-orang yang menjalankan amal-amal sholih. Tentu saja kita sangat bersedih dan kehilangan dengan meninggalnya mereka. Tapi kita juga mendengar kematian para pelaku maksiat, para kriminal, para koruptor, bahkan para penghina dan musuh Islam. Dan bisa dikatakan, hal ini merupakan kabar yang menggembirakan bagi kita.
Kematian itu Pasti
Kematian pasti tiba. Orang yang beriman pasti meyakini bahwa dirinya akan mati. Sebagaimana firman Allah SWT, “Setiap yang bernyawa pasti akan mati” (QS.Ali Imran:185).
Hampir setiap muslim meyakini bahwa dirinya akan mati. Namun hanya sebagian orang saja yang mempersiapkan diri untuk menghadapinya. Syaithan senantiasa memperdayakan manusia untuk berpanjang angan-angan, hingga dirinya menyangka bahwa kematian tidak datang dengan tiba-tiba. Padahal kematian itu akan datang kapan saja.
Allah SWT berfirman, “Di mana saja kalian berada, kematian akan mendapatkan kalian, kendati pun kalian berada di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh” (QS.An-Nisa’:78).
Kematian bisa datang kapan saja. Saat manusia sedang tidur di rumah, sedang bekerja di kantor, sedang belajar di sekolah, sedang berkendaraan di jalan, sedang menuntut ilmu, sedang berdakwah, sedang bermaksiat, atau pun ketika sedang memusuhi agama Allah. Kematian dapat terjadi dalam keadaan dan kondisi apa saja.
Kematian juga terjadi karena usia yang ditetapkan Allah telah sampai. Ada seseorang yang sakit bertahun-tahun, tapi ternyata masih bertahan hidup. Ada seseorang yang tidak pernah terdengar sakit, bahkan kelihatan segar bugar, tapi tiba-tiba meninggal dunia. Hal ini menunjukkan, bahwa satu-satunya penyebab kematian adalah datangnya ajal dari Allah.
Allah SWT berfirman, “Setiap yang bernyawa tidak akan mati, kecuali dengan izin Allah sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya” (QS.Ali Imran:145).
Menjemput Akhir yang Bahagia
Kita bisa memilih ingin menjemput kematian dalam kondisi yang seperti apa. Apakah dalam kondisi yang menyedihkan atau dalam kondisi yang membahagiakan. Apakah dalam kondisi bergelimang ketakwaan, ataukah dalam kondisi bergelimang kemaksiatan kepada Allah SWT.
Rasulullah SAW bersabda, “Sungguh ada seorang hamba yang menurut pandangan orang banyak mengamalkan amalan penghuni surga, namun berakhir menjadi penghuni neraka. Sebaliknya ada seorang hamba yang menurut pandangan orang melakukan amalan-amalan penduduk neraka, namun berakhir dengan menjadi penghuni surga. Sungguh amalan itu dilihat dari akhirnya.” (HR. Bukhari, no.6493).
Dalam riwayat lain disebutkan, “Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada akhirnya.” (HR. Bukhari, no.6607).
Kematian yang menyedihkan adalah ketika manusia meninggal dalam kondisi su’ul khotimah. Di mana di akhir hidupnya dipenuhi dengan kemaksiatan dan pelanggaran terhadap hukum-hukum syariat Allah. Selalu bergelimang dengan dosa yang kecil maupun besar. Halal dan haram tidak lagi menjadi timbangan perbuatannya. Al-Qur’an dan As-Sunnah tidak lagi menjadi pegangan hidupnya. Di saat yang seperti itu lah Allah memanggilnya pulang. Maka, dipastikan ia telah menjemput akhir hidup yang menyedihkan.
Sebaliknya, kematian yang membahagiakan adalah ketika manusia meninggal dalam kondisi husnul khotimah. Di mana di akhir hidupnya dipenuhi dengan ketundukan dan ketaatan terhadap semua perintah dan larangan dari Allah SWT. Menjauhi semua dosa dan kemaksiatan yang kecil, apalagi yang besar. Dalam berbuat selalu mempertimbangkan halal dan haram. Al-Qur’an dan As-Sunnah menjadi pegangan hidupnya. Dan di saat seperti itu lah Allah SWT memanggilnya pulang. Maka dapat dipastikan, ia telah menjemput akhir hidup yang membahagiakan.
Sebagai seorang muslim, tentulah kita menginginkan akhir hidup yang membahagiakan. Oleh karena itu, hiasilah diri dengan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT di sepanjang hidup dan di akhir hidup kita. Jangan sampai kelak di akhirat kita menyesal, tapi sudah tidak bisa kembali lagi ke dunia ini.
Sebagaimana firman Allah SWT, “Hingga apabila telah datang kematian kepada seorang dari mereka, dia berkata, “Ya Rabbku kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku beramal shalih terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkan saja. Dan dihadapan mereka ada barzakh sampai hari mereka dibangkitkan.” (QS.Al-Mukminun: 99-100). “Dan (alangkah ngerinya), jika sekiranya kamu melihat orang-orang yang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Tuhannya, (mereka berkata), “Ya Tuhan kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami (ke dunia), niscaya kami akan mengerjakan kebajikan. Sungguh, kami adalah orang-orang yang yakin.” (QS.As-Sajdah:12).(***)











