SORONG – Dinilai tidak mampu mengemban tanggungjawabnya sebagai pimpinan di rumah sakit, dr Mavkren Kambuaya dicopot dari jabatannya sebagai Direktur RSUD Sele Be Solu. Dalam keputusannya ini, selanjutnya, Wali Kota Sorong, Drs.Ec.Lambert Jitmau,MM mengangkat drg.Susi Petronela Djitmau,MPH sebagai Direktur RSUD Sele Be Solu.
Tentang kepercayaan yang diberikan kepada drg Susi Petronela Djitmau, MPH, Wali Kota mengatakan, jangan melihat dari marganya karena hal tersebut tidak memiliki interest pribadi. Namun, wali kota menegaskan bahwa drg.Susi Petronela Djitmau,MPH adalah orang yang tepat karena memiliki latar belakang pendidikan manajemen rumah sakit.
”Saya tempatkan Susi, jangan lihat Djitmaunya (marganya). Tapi anak ini sekolah itu saya tahu dia karena dia ambil manajemen rumah sakit. Sekarang saya kasih kepercayaan. Nanti kalau wali kota yang baru datang lihat dia dan mau ganti yang baru, ya tidak apa-apa,”ujar Lambert Jitmau kepada awak media ketika ditemui di Kantor Wali Kota Sorong, Jumat (17/6).
Pergantian direktur RSUD Sele Be Solu tersebut dilakukan oleh Wali Kota karena, menurutnya direktur sebelumnya tidak mampu mengemban tanggung jawab sebagai pimpinan di rumah sakit tersebut karena membiarkan para tenaga kesehatan (nakes) melakukan demo di Kantor Wali Kota Sorong.
Kemudian puluhan dokter juga mendatangi wali kota jika insentif mereka juga tidak dibayarkan pihak rumah sakit. Sedangkan RSUD Sele Be Solu statusnya telah berubah menjadi Badan Layanan Umum Daerah (BLUD).
”Nakes RSUD Sele Be Solu kan demo sampai 3 kali, sampai kemarin dulu kan dokter di RSUD Sele Be Solu semua tutup kantor mereka menemui saya. Masa saya pertahankan seperti itu, janganlah. Mereka ada sekitar 30 orang. Mereka katakan belum pernah diperhatikan dengan baik. Apalagi mereka (dokter) katakan, mereka punya insentif tidak dibayar sampai hari ini,”jelas Wali Kota.
Menurutnya, Jika kesejahteraan bagus, semangat kerja bagus maka mereka (nakes/dokter) melayani pasien itu bagus. ”Tapi kalau tidak kan, gimana. Jadi salah satu dokter katakan kalau tidak diperhatikan baik maka mereka tidak melaksanakan tugas. Berarti fatal kan?!,” tegasnya.
”Setau saya, RSUD Sele Be Solu Kota Sorong sudah berubah menjadi Badan Layanan Umum Daerah (BLUD). Jadi BLUD bentuk pelayanan umum, sehingga penerimaan tidak masuk ke kami. Jadi dia kelolah rumah sakit bagus, pemasukan dipakai untuk operasional di rumah sakit itu. Pasien semakin banyak, tapi keuntungan ada atau tidak, saya tidak tahu. Tapi keuntungan rumah sakit itu dilihat dari jumlah banyaknya pasien atau pelayanan kesehatan di situ. Itu bisa menjadi kontribusi BLUD RSUD Sele Be Solu,” pungkasnya.
Diketahui Rumah Sakit merupakan satuan kerja yang berubah menjadi BLUD yaitu yang memperoleh pendapatan dari layanan kepada publik secara signifikan dapat diberikan keleluasaan dalam mengelola sumber daya untuk meningkatkan pelayanan yang diberikan. Kemudian pola pengelolaan keuangan yang memberikan fleksibilitas berupa keleluasaan bagi satuan kerja tersebut. (zia)















