Sales Branch Manager : Stok Aman, (Antrian) Itu Karena Kebutuhan BBM Meningkat
SORONG – Beberapa hari belakangan ini terjadi antrian panjang pengisian BBM di beberapa Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kota Sorong. Menindaklanjuti hal itu, PT Pertamina Patra Niaga melakukan inspeksi mendadak (sidak) di 3 SPBU yakni SPBU Sorpus, SPBU Hanseng, dan SPBU Jalan Baru guna mengetahui apakah ada oknum yang nakal, karena dari Pertamina memastikan bahwa stok BBM aman hingga 10 hari kedepan. Pantauan Radar Sorong di SPBU Jalan Baru, Rabu (25/5), antrian didominasi oleh kendaraan roda 4 yang mengantri Solar dan Pertalite.
Selain sidak, PT Pertamina Patra Niaga juga terus melakukan monitoring penyaluran BBM di SPBU se-Kota Sorong. Hal tersebut dikatakan Sales Branch Manager Rayon I Papua Barat Made Mega usai sidak di SPBU Jalan Baru, Rabu (25/5). Ia mengatakan, pihaknya melakukan monitoring penyaluran setiap pagi ke semua SPBU yang menjual BBM bersubsidi, baik itu JBT maupun JBKP. ”Kita lakukan monitoring penyaluran di 3 SPBU yang menjual BBM bersubsidi baik itu JBT maupun JBKP, yaitu SPBU Hanseng, SPBU Jalan Baru dan SPBU Sorpus. Berdasarkan hasil monitoring, mereka yang antri ini real membeli BBM untuk kebutuhan lapangan mereka,” katanya.
Made menjelaskan bahwa antrian yang terjadi beberapa hari ini karena permintaan atau kebutuhan masyarakat akan BBM meningkat, baik itu Bio Solar maupun Pertalite. Namun tidak dipungkiri bahwa memang ada oknum yang melakukan pembelian berulang untuk dijual kembali. Jika di SPBU misalnya jenis BBM Pertalite habis, maka berarti sedang dalam pengiriman ke SPBU. ”Antrian terjadi karena kebutuhan bapak-ibu meningkat. Karena stok BBM kita aman kok hingga 10 hari kedepan itu menunggu kapal tangker datang,” tegasnya.
Menurut Made, bila ada oknum-oknum atau mafia BBM bereaksi, harusnya yang bertindak mengamankan adalah pihak berwajib, karena Pertamina sebagai operator menyalurkan BBM ke SPBU sesuai dengan alokasi atau kuota yang diberikan pemerintah. Sementara itu, untuk SPBU juga sebenarnya sudah tertib dalam menyalurkan BBM kepada masyarakat. ”Hanya saja tidak dipungkiri ada oknum-oknum yang berbuat curang sendiri, yaitu membeli BBM di SPBU tidak sesuai ketentuan atau dijual kembali, padahal BBM yang dibeli di SPBU hanya untuk digunakan bukan untuk dijual kembali. Kalau dijual kembali jelas itu sudah melanggar aturan,” tegasnya lagi.
Dikatakan, kecurangan yang sering dilakukan oleh oknum-oknum yang membeli BBM untuk dijual kembali, yaitu setelah membeli BBM di SPBU A kemudian berpindah ke SPBU lainnya untuk mengantri dan membeli BBM lagi. ”Kami meminta bantuan kepada aparat keamanan dan juga pemerintah daerah, agar bisa melakukan monitoring atau pengawasan diluar SPBU dan menindak tegas oknum-oknum yang suka bermain curang yakni membeli BBM di SPBU untuk dijual kembali,” harapnya.
Ditambahkan, sebelumnya di tahun 2019 pihaknya juga pernah memberikan sanksi kepada salah satu SPBU di Kota Sorong yang menyalurkan BBM tidak sesuai ketentuan. Sanksinya berupa penutupan penyaluran selama 1 bulan dan pengembalian selisih harga industri dan harga subsidi, dimana itu dibebankan kepada SPBU. ”Jika kita menemukan ada oknum yang membeli BBM bersubsidi untuk dijual kembali, maka saya sudah perintahkan ke SPBU untuk tidak memperbolehkan membeli BBM tidak sesuai ketentuan,” ujarnya. ”Saya juga sudah mewanti-wanti kepada petugas operator dan pengawas di SPBU, jika mereka mengisi BBM dua kali ke kendaraan yang sama dalam satu hari maka mereka akan ditindak tegas dan diberikan sanksi,” sambungnya.
Dari pantauan Radar Sorong, Rabu (25/5) antrian di SPBU Jalan baru untuk kendaraan mobil truk hingga di depan Gereja Pantekosta. ”Antri solar mbak. Sudah mau sejam ini,” kata salah satu sopir truk kepada Radar Sorong. Sementara itu, pada Kamis (26/5) di SPBU Km 9 terlihat tidak terjadi antrian. (zia)














