Air Mata di Balik Kemegahan Piala Dunia 2022

EKSPOS keberhasilan dan kemegahan Piala Dunia Qatar 2022  ibarat teori Dalton yang akhirnya menjadi bahan perbincangan ilmuan. Miliaran  mata tertuju di Qatar karena kemewahan  dan kemegahan perayaan piala Dunia 2022. Sayangnya kemegahan itu tak beriringan dengan penderitaan  orang yang berkarya membangun fasilitas  olah raga di stadion-stadion megah Qatar itu.

 Ini sama dengan teori Dalton yang tidak menjelaskan adanya partikel subayomik (partikel pembentuk atom). Teori  Dalton  menjelaskan  atom adalah partikel terkecil yang sudah tidak dapat dibagi-bagi lagi. Padahal   sebenarnya atom terbentuk dari subpartikel seperti proton, neutron, dan elektron.  Pihak Qatar seharusnya melaporkan bahwa keberhasilan perayaan piala dunia tahun ini meninggalkan  duka paling dalam.

 Pasalnya  akibat pembangunan fasilitas Olahraga  di stadion kota Lusail, misalnya. banyak korban jiwa akibat bekerja di bawah  terik matahari. Mengorbankan  warga  migran  untuk kepentingan nama besar dan keuntungan  negara maju seperti Qatar seharusnya tak terjadi. Pihak Qatar sepantasnya  diajukan ke pengadilan Internasional berdasarkan laporan warga migran yang dirugikan Hal tersebut  berdasarkan laporan media dan Badan HAM  bahwa 6.500 pekerja tewas di Qatar sejak Desember 2010. Saat Qatar memenangkan hak untuk menggelar Piala Dunia.

 Qatar sendiri memiliki dua juta tenaga kerja migran yang datang dari Pakistan, Bangladesh, Nepal dan Filipina.  bahwa mereka bekerja dengan upah rendah dalam kondisi panas terik. Pekerja ini membangun taman hiburan, laguna, dua marina, dua lapangan golf, 22 hotel dan kawasan perbelanjaan yang mewah di Lusail. Human Rights Watch menyusun laporan yang merinci bagaimana pekerja migran diduga dieksploitasi menggunakan Sistem Kafala atau kerja paksa.

 Sistem Kafala mengikat visa pekerja kepada pemberi kerja yang menjadi sponsor dan bertanggung jawab atas status hukum pekerja. Terkadang mereka dipaksa membayar USD 4 ribu untuk mendapatkan pekerjaan. Belum  bekerja saja, mereka sudah disuruh mengeluarkan uang, tak jarang yang menjual aset demi mendapatkan pekerjaan ini. Piala Dunia Qatar 2022 kini sedang berlangsung di Qatar. Di balik kemegahan dan keindahan kotanya, ada ngeri yang menggantung soal korban pembangunan .

 Dilansir dari The Sun, Qatar telah menghabiskan setidaknya USD 330 miliar untuk mempersiapkan diri menjadi tuan rumah piala dunia. Sebagian besar dana tersebut dihabiskan untuk Kota Lusail. Lusail adalah kota terbesar kedua di Gulf State, dengan populasi 200 ribu penduduk. Kota ini dirombak habis-habisan agar pantas menyabet julukan ‘Kota Masa Depan’ yang diakui dunia.

 Hotel pencakar langit, pulau buatan, dan distrik yang terhubung dengan kontrol iklim menjadi bagian dari Visi Nasional Qatar 2030. Tak lupa stadion baru yang berkapasitas 80 ribu penonton untuk gelaran Piala Dunia. Namanya saja kerja paksa, para pekerja tidak dapat meninggalkan pekerjaan mereka. Kalau kabur akan kena tindak pidana di Qatar.

 Penelitian  badan kemanusiaan dunia  menunjukkan bahwa undang-undang dan kebijakan yang kejam, tekanan waktu, dan upaya untuk membendung biaya yang sangat tinggi, telah mengakibatkan pelanggaran terhadap pekerja migran, termasuk bekerja dalam kondisi yang mengancam jiwa, upah rendah atau biaya perekrutan ilegal. Karena itu  kelompok hak asasi  harus  melaporkan hal ini ke parlemen Eropa.

 Pasalnya  ketika FIFA bersiap untuk meraup pendapatan miliaran dari sponsor dan penyiar, banyak keluarga pekerja migran masih berduka atas kematian orang yang mereka cintai dan berjuang untuk memberi makan anak-anak mereka atau melunasi pinjaman yang diambil orang yang mereka cintai untuk membayar biaya rekrutmen Piala Dunia Qatar 2022. Pihak Qatar membantah semua tuduhan itu. Meski demikian pihak HAM berjanji akan membawa masalah ini ke tingkat internasional.

 Negara negara yang merasa warganya dirugikan pun seharusnya mengambil langkah investigasi. Karena  Badan HAM dunia akan menindaklanjuti laporan kemanusiaan seperti yang terjasldi di Qatar itu.

Air Mata  Di Balik Kemegahan Piala Dunia Qatar 2022 .

Badan  kemanusiaan dunia  harus terus  menginvestigasi  laporan tersebut. Hal itu untuk mengantisipasi tidak terjadi lagi  masalah yang sama ke depan. (**)

*) Penulis :  Wartawan suarakarya.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Social Icons

error: Content is protected !!