

Menikmati penyebrangan Selat Sunda dengan KMP Legundi
SELAT Sunda menjadi yang terpadat arus kapal feri atau penyeberangan baik dari Merak di Banten maupun Bakahuni di Lampung. Radar Sorong berkesempatan melakukan perjalan dari Lampung ke Jakarta dengan kapal feri KMP Legundi.
Dari Bandar Lampung butuh waktu sekitar dua jam menyusuri jalan tol yang belum begitu lama beroperasi itu. Tapi dari arah Bandar Lampung masih lumayan jalannya agak bagus, berbeda saat kekuar pintu tol menuju Bandar Lampung yang jalannya berlobang-lobang dan bergelombang.
Tidak heran kalau diantara penumpang travel menyeletuk kalau jaman gubernur dulu jalan bagus semua. ”Ini gubernur sekarang tidak tahu apa yang dikerjakan,'” gerutu salah satu penumpang.
Penumpang yang lain menimpali, kalau jalan ini bukan urusannya gubernur, tapi urusannya pemerintah pusat.
Lewat pintu tol keluar itupun kebetulan sopir travelnya ketinggalan kartu e-toll, sehingga menikmati jalanan yang berlubang dan bergelombang. Pintu tol ini tidak jauh dari Mapolda Lampung dan Kampus Itera (Institut Teknologi Sumatera).
Setelah kartu etollnya ketemu langsung menuju ke Pelabuhan Bakahuni. Di tengah jalan sang sopir menawarkan mau naik kapal reguler apa yang Express.
Dan penumpang pun memilih ikut kapal Express yang hanya butuh waktu kurang dari dua jam. Akhirnya tiap penumpang pun harus membuka dompet Rp. 40.000.
Sayang sampai di pelabuhan Bakahuni terlambat dan tidak bisa ikut kapal yang sedang sandar, karena sudah penuh.
Dengan sabar harus menunggu kapal berikutnya yang sudah terlihat di teluk. Butuh waktu sekitar satu jam untuk menurunkan penumpang dan menaikkan penumpang.
Kendaraan roda empat naik di dek 2 sedangkan bus dan truk naik di dek 1. Untuk kendaraan roda empat berbaris enam baris dan ke belakang ada 13 mobil, sehingga ada 78 mobil di dek 2. KMP Legundi ini mampu memuat sedikitnya 150 kendaraan roda empat.
Sekitar pukul 14.00 kapal bertolak dari pelabuhan Bakahuni menuju Merak. Hampir dua jam kemudian baru sandar di pelabuhan Merak.
Tahun 2013 lalu penulis sempat ke Lampung mendengar pemaparan Tommy Winata untuk membangun Jembatan Selat Sunda lengkap dengan desainnya.
Sayang rencana TW panggilan Tomy Winata untuk membangun jembatan Selat Sunda tidak disetujui pemerintah. Kalau waktu itu disetujui sudah dipastikan jembatan Selat Sunda sudah jadi dan tidak perlu antri sekaligus menghemat biaya.(pono)














