SORONG – Pengelolaan sampah yang kurang mendapatkan perhatian selama ini merupakan salah satu pemicu pemanasan global dan perubahan iklim yang mengubah pola cuaca, curah hujan, dan iklim secara jangka panjang di seluruh dunia. Pengelolaan sampah dengan metode angkat, angkut dan buang di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) sampah, mengakibatkan terjadinya penumpukan dan penimbunan sampah, dan proses dekomposisi timbunan sampah organic ini menghasilkan gas metana yang merupakan salah satu pemicu terjadinya pemasanan global karena bertindak sebagai gas rumah kaca yang sangat kuat. Karena itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Papua Barat Daya, Julian Kelly Kambu,ST,MSi mengingatkan kepada pemerintah daerah kabupaten/kota di wilayah Provinsi Papua Barat Daya agar memprioritaskan pengelolaan sampah melalui kebijakan, program dan rencana kerja di wilayahnya masing-masing.
Ditemui Radar Sorong di kediamannya, Kelly Kambu mencontohkan Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang Kota Bekasi yang tercatat sebagai penyumbang gas metana terbesar kedua di dunia. Berdasarkan pantauan satelit NASA dan Carbon Mapper, TPST Bantar Gebang melepaskan sekitar 6,3 ton metana per jam. Tingginya volume gas metana disebabkan oleh proses dekomposisi anaerobik dari timbunan ribuan ton sampah di TPST Bantar Gebang. Gas metana memicu pemanasan global karena bertindak sebagai gas rumah kaca yang sangat kuat. Meskipun bertahan lebih singkat di atmosfer dibandingkan karbon dioksida, metana menyerap panas jauh lebih efektif, menjadikannya penyebab terbesar kedua perubahan iklim Metana menyerap radiasi inframerah (panas) yang dipantulkan oleh permukaan bumi, dan panas yang diserap kemudian dipancarkan ke segala arah termasuk kembali ke permukaan bumi, sehingga meningkatkan suhu rata-rata global. Metana memiliki potensi pemanasan global sekitar 80 hingga 86 kali lebih kuat daripada karbon dioksida, dan metana bertanggung jawab atas sekitar 30% dari pemanasan global.
Sampah organik yang dibuang ke TPA awalnya mengalami pembusukan aerobik (menggunakan sisa oksigen di antara tumpukan sampah) dalam waktu singkat. Saat sampah semakin menumpuk dan tertimbun, oksigen terdesak keluar, sehingga menciptakan kondisi anaerobik. Bakteri khusus mulai menguraikan limbah organik dan menghasilkan produk sampingan berupa gas metana dan karbon dioksida. Kondisi ini menjadikan TPA sebagai salah satu penyumbang emisi gas rumah kaca terbesar. Untuk diketahui, pemanasan global adalah penyebab utama dari perubahan iklim. Pemanasan global merujuk pada peningkatan suhu rata-rata permukaan bumi akibat emisi gas rumah kaca, sedangkan perubahan iklim adalah dampak luas dari kenaikan suhu tersebut, yang mengubah pola cuaca, curah hujan, dan iklim secara jangka panjang di seluruh dunia
“Kami mengingatkan kepada pemerintah daerah kabupaten kota di wilayah Provinsi Papua Barat Daya agar memprioritaskan pengelolaan sampah melalui kebijakan, program dan rencana, apakah dengan cara pilah sampah organic-anorganik seperti apa. Sampah organic kemudian dikelola sebaik-baiknya agar tidak menjadi sumber gas metana, salah satunya dengan metode maggot. Sampah organic menjadi pakan maggot, dan ini sudah kami terapkan dengan membangun rumah maggot. Bagi yang belum percaya, bisa datang ke Rumah Maggot Keli, Keberlanjutan Lingkungan di Aimas,” kata Kelly.

Melalui Rumah Maggot Keli, pihaknya berharap contoh ini bisa mengedukasi bagi para pengambil kebijakan, agar ada kebijakan, ada rencana, ada program terkait pengelolaan sampah, dan tidak lagi mengandalkan TPA yang sejatinya hanya memindahkan masalah sampah, apalagi secara nasional pada tahun 2029 mendatang seluruh TPA di Indonesia harus ditutup, dan yang boleh masuk ke TPA hanya residu yang benar-benar tidak bisa dimanfaatkan lagi. “Untuk Kabupaten Maybrat, Tambrauw dan Sorong Selatan, itu perlu memperhatikan TPA. Ke depan, semua TPA ditutup, dihentikan, yang boleh masuk ke TPA hanya residu yang benar-benar tidak bisa dimanfaatkan lagi,” tuturnya.
Ditegaskannya, pengelolaan sampah organic itu sangat penting, dan pihaknya fokus pada pengelolaan sampah organic karena sampah organic bila tidak dikelola dengan baik maka bisa menjadi salah satu sumber utama penghasil gas metana yang merupakan gas rumah kaca yang lebih kuat untuk memicu lapisan ozon di atmosfer kian menipis. “Gas metana memicu pemanasan global, perubahan iklim, sehingga pada gilirannya mengakibatkan terjadinya bencana longsor, banjir, kekeringan, gagal panen dan sebagainya. Mengelola sampah organic dengan baik, artinya kita sudah berkontribusi memitigasi terhadap perubahan iklim,” tuturnya.
Karena itu, pihaknya berharap kepada pemerintah daerah kabupaten kota di Papua Barat Daya, untuk menganggarkan dana dari APBD untuk pengadaan sarpras ataukah juga untuk edukasi bagaimana mengelola sampah dengan baik, menghentikan penggunaan kantong plastic sekali pakai, pilah sampah, mengolah sampah organic dan anorganik, dan sebagainya. “Ini semua harus dilakukan oleh OPD teknis, karena itu harus ada kebijakan, program dan rencana dari kepala daerah dan kepala daerah harus berdiri di depan untuk menyuarakan dan menggerakkan masyarakat, karena yang mau digerakkan ini bukan sapi yang seandainya tidak mau jalan bisa dipukul dengan rotan, tapi ini manusia yang harus pelan-pelan dibangun kesadarannya akan pentingnya menjaga lingkungan,” tegasnya.
Ditambahkannya, paling baik mengedukasi sedari dini dari tingkat sekolah, dan pihaknya dari provinsi terus melakukan edukasi dan sosialisasi terkait pengelolaan sampah khususnya sampah organic dan kami lebih fokus untuk pengolahan sampah organic melalui metode Maggot, karena maggot ini bisa dimanfaatkan untuk pakan ikan, unggas dan sebagainya, dan juga bisa untuk pupuk kompos, sehingga bisa menjadi prospek dan peluang bisnis yang harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. (ian)














