SORONG – Suasana penuh ucapan syukur dan sukacita menyelimuti warga jemaat di Kota Sorong. Bertepatan dengan momen Pentakosta kedua, hari Senin, 25 Mei 2026, Jemaat Eklesia Remu Selatan resmi ditahbiskan menjadi jemaat mandiri sekaligus meresmikan gedung gereja mereka yang baru.

Momen bersejarah ini sekaligus menandai bertambahnya jumlah jemaat di lingkungan Klasis GKI Sorong menjadi 48 jemaat.

Ketua Majelis Jemaat GKI Maranatha Remu, Pendeta Luki Matui, mengungkapkan bahwa proses untuk mencapai titik mandiri ini memakan waktu yang sangat panjang.
“Awalnya jemaat ini sebenarnya sudah harus mandiri di waktu-waktu yang lalu. Cuma ada persoalan menyangkut dengan tanah dan lain sebagainya, sehingga ditunda kurang lebih sekitar 46 tahun dalam proses itu,” ujar Pdt. Luki Matui.
Dia menjelaskan bahwa Selama 13 tahun terakhir, jemaat yang awalnya merupakan Rayon 6 (Rayon Remu Selatan) dari Jemaat Induk GKI Maranatha ini terpaksa beribadah dengan memanfaatkan sebuah bangunan gereja yang sangat sederhana untuk masa persiapan.
Hingga akhirnya, kata Pdt.Luki berdasarkan ketetapan Sidang Klasis ke-13 pada tanggal 21 Mei 2022, status mereka ditetapkan untuk dimandirikan, dan puncaknya berhasil diresmikan pada hari ini.
“Saat ini, Jemaat Eklesia Remu Selatan tergolong jemaat yang cukup besar yaitu lebih dari 300 Kepala Keluarga (KK) dan lebih dari 1.300 jiwa,” katanya.
Meski gedung gereja megah sudah kokoh berdiri, tantangan pelayanan berikutnya sudah menanti. Pdt. Luki Matui membeberkan bahwa jemaat mandiri yang baru ini belum memiliki rumah pastori (rumah dinas pendeta).
Dijelaskannya bahwa Berdasarkan aturan gereja, penempatan pendeta tetap untuk mengatur pelayanan jemaat secara penuh belum bisa dilakukan jika rumah pastori belum tersedia.
“Oleh karena itu, dalam laporan ketua panitia pembangunan, pihak jemaat menaruh harapan besar dan memohon dukungan bantuan dari Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya serta Pemerintah Kota Sorong agar dapat membantu mempercepat pembangunan rumah pastori dalam waktu dekat,” katanya.
Wakil Sekretaris Badan Pekerja Sinode GKI di Tanah Papua (Periode 2022-2027), Pendeta Handry W. D. Kakiay, menyampaikan bahwa kehadiran gedung gereja baru dan pemekaran jemaat ini bertujuan utama untuk mendekatkan serta memperpendek jangkauan pelayanan kepada umat.
Pdt. Handry menekankan bahwa esensi dari peresmian ini bukanlah sekadar mengejar angka atau kuantitas, melainkan membangun kualitas jemaat yang hidup dalam kasih, menghargai perbedaan suku, latar belakang budaya, maupun tingkat pendidikan.
“Di Papua, gereja menjadi pilar paling depan untuk bicara soal keamanan, kenyamanan, hak, kebenaran, dan keadilan. Gereja ini harus menjadi tempat yang aman dan damai, tempat di mana semua orang bisa hidup bersama dengan rukun,” tegas Pdt. Handry.Pdt.
Handry juga berharap persekutuan ini mampu menjadi mitra strategis yang menopang kinerja Klasis Sorong serta seluruh program Pemerintah Daerah, baik tingkat Kota, Kabupaten, hingga Provinsi Papua Barat Daya.

Acara pentahbisan dan peresmian ini turut dihadiri oleh jajaran perwakilan pemerintah daerah yang memberikan apresiasi serta harapan tinggi bagi masa depan Jemaat Eklesia Remu Selatan.
Asisten Setda Pemprov Papua Barat Daya, Victor Solossa, menyampaikan amanat tertulis dari pemerintah provinsi.
Victor mengucapkan selamat atas pentahbisan kemandirian jemaat dan berharap pelayanan ke depan selalu diberkati.
“Mempererat iman, meningkatkan pelayanan antarsesama, serta menjadikan gereja sebagai rumah kasih, rumah doa, dan rumah pengharapan bagi semua orang,” katanya.
Dia mengimbau kepada seluruh jemaat agar memelihara fisik gedung gereja baru ini dengan baik.Wali Kota Sorong, Septinus Lobat, berharap gereja ini melahirkan pelayanan yang hidup, kepedulian sosial yang nyata, serta wadah pendidikan iman yang kuat bagi generasi muda.
Walikota, mengajak warga jemaat untuk terus bergandengan tangan dengan pemerintah dalam membangun Kota Sorong yang damai, harmonis, dan penuh kasih dalam semangat persatuan sebagai anak bangsa.(zia)















