SORONG – Pj Wali Kota Sorong, George Yarangga, A.Pi.MM menegaskan, kasus stunting di Kota Sorong perlu mendapat perhatian. Sehingga masyarakat diharapkan agar mendatangi posyandu untuk memantau status gizi dan perkembangan anak.
“Ditambah dengan naiknya angka pengangguran dan PHK, yang menyebabkan menurunnya kualitas pangan keluarga. Belum lagi kondisi tersebut ditambah dengan kurangnya pengetahuan tentang kesehatan dan gizi sebelum dan pada masa kehamilan, yang berdampak serius pada perkembangan janin,” katanya dalam kegiatan Rembuk Stunting Kota Sorong tahun 2023.
Oleh karena itu, kata Pj Wali Kota dengan adanya pelaksanaan kegiatan rembuk stunting, berguna untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya mengenal apa itu stunting.
“Serta bagaimana menyikapi dan seperti apa peran Tim Percepatan Penanganan Stunting (TPPS) dalam penanganannya dan pencegahan stunting, sehingga dapat mewujudkan penurunan target stunting nasional pada tahun 2024, dengan prevalensi stunting harus diangka 14%,” katanya.
Hal ini, dikatakannya bahwa direalisasikan dalam Peraturan Presiden (Perpres) nomor 72 tahun 2021 tentang percepatan penurunan stunting, yang kemudian diharapkan target penurunannya rata-rata 2,7% setiap tahunnya.
“Saya sangat percaya dengan kerjasama dan kolaborasi kita. Pasti akan ada langkah-langkah yang dilakukan sampai tahun 2024, kita akan menurunkan angka stunting dan miskin ekstrim. Selain itu, kita juga harus bisa mengendalikan inflasi. Jadi ini tiga hal penting yang menjadi arahan presiden, selain poin-poin penting seperti investasi dan lain sebagainya,” katanya.
Pj Wali Kota mengapresiasi dan memberikan dukungan atas pelaksanaan kegiatan rembuk stunting, sebagai salah satu upaya membantu pemerintah daerah dalam penanganan stunting di Kota Sorong.
“Pada intinya, Pemerintah Kota Sorong mendukung setiap program yang dapat memberikan manfaat positif bagi kesehatan masyarakat. Diharapkan solusi terbaik dalam pencegahan dan penanganan stunting harus ditemukan,” jelasnya.(zia)












