Oleh: Tutus Riyanti
(The Voice of Muslimah Papua Barat Daya)
Marhaban Yaa Ramadhan. Beberapa hari lagi umat Islam akan memasuki bulan suci Ramadhan. Bulan yang Allah katakan sebagai bulan penuh berkah, penuh rahmat, serta penuh ampunan. Sayangnya, hampir setiap menjelang Ramadhan selalu diiringi dengan kenaikan harga sembako dan kebutuhan pokok lainnya.
Seperti yang terjadi di Kota Sorong, Papua Barat Daya, beberapa harga kebutuhan pokok mulai merangkak naik. Dari beberapa pedagang di Pasar Remu, Kota Sorong, mengatakan bahwa harga-harga seperti bawang merah, bawang putih, cabai, dan beras mulai naik. Bahkan sudah beberapa bulan ini stok minyak tanah dan minyak goreng “MinyaKita” mulai langka di pasaran, harganya pun cenderung mahal. Padahal memasuki Ramadhan dan Idul Fitri, permintaan kebutuhan pokok tersebut tentu akan meningkat drastis.
Kaum muslim diharapkan melaksanakan ibadah di bulan Ramadhan dengan khusuk dan penuh ketakwaan. Namun, perhatian kaum muslim terpecah dengan beratnya beban hidup yang semakin menjulang. Alangkah sayangnya jika Ramadhan telah pergi, tapi kita tidak bisa mendapatkan berkah, rahmat, serta ampunan dari Allah SWT.
Sistem Kapitalisme Biang Keroknya
Kalau dikatakan bahwa terjadinya kelangkaan dan mahalnya harga kebutuhan pokok karena minimnya stok yang tersedia, maka kita perlu menelusuri ulang. Indonesia termasuk salah satu negara kaya raya akan kekayaan SDA (Sumber Daya Alam). Minyak bumi, minyak sawit, palawija, hasil laut, bahkan barang tambang, semuanya dimiliki Indonesia dengan stok yang melimpah.
Maka sangat heran jika sampai terjadi kelangkaan stok bahan kebutuhan pokok. Apalagi dijual dengan harga yang mahal. Tentulah ini karena faktor lain yang jadi penyebabnya. Misal karena SDA yang ada dijual ke luar negeri, sehingga stok di dalam negeri jadi sedikit. Atau adanya pihak yang curang menimbun barang.
Dalam kapitalisme, tidak aneh jika SDA dijual ke Asing. Negara justru membebaskan pihak Asing merampok SDA yang dimiliki dengan kebijakan negara. Juga tidak heran jika ada pihak-pihak yang curang dengan menimbun barang. Mereka akan mengeluarkannya jika barang sudah langka di pasaran, dengan harga yang lebih mahal. Negara tidak menindak para penimbun barang dengan tegas, sehingga aksi penimbunan ini terus berulang.
Dalam kapitalisme, siapa yang punya kekayaan dan harta berlimpah, maka dialah yang akan berkuasa. Mereka inilah yang biasa disebut sebagai “para kapitalis”. Rakyat adalah pihak utama yang menjadi korban. Rakyat menjadi sasaran bagi para kapitalis untuk mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya.
Para kapitalis menguasai perdagangan, menguasai pasar, bahkan bisa mempermainkan harga seenaknya sendiri. Mereka tidak hanya menguasai perdagangan, tapi sejatinya para kapitalis inilah yang menjadi “penguasa sejati” di negara ini. Sedangkan para penguasa negeri ini hanya bertindak sebagai pembuat kebijakan, yang akan melancarkan segala kepentingan para kapitalis.
Fokus ke Ramadhan
Di tengah beban hidup yang semakin menjulang, maka kaum muslimin harus tetap fokus pada kedatangan bulan Ramadhan. Karena banyak sekali keutamaan yang akan diperoleh di bulan Ramadhan. Berikut adalah beberapa hal yang bisa dilakukan agar bisa melalui Ramadhan dengan penuh ketakwaan:
- Perkuat Keimanan.
Keimanan adalah pondasi yang paling utama bagi seorang muslim. Keimanan seorang muslim bisa menyelamatkan atau menggelincirkan seorang muslim dari kemaksiatan. Jika keimanannya kuat, maka ketika Allah SWT memerintahkan berpuasa di bulan Ramadhan, dia tidak akan berani untuk meninggalkannya tanpa alasan yang dibolehkan oleh Islam.
Tapi jika keimanannya lemah, ketika Allah SWT memerintahkan untuk berpuasa, maka dengan mudah dia bisa meninggalkannya dengan berbagai alasan. Untuk itu, keimanan yang kuat merupakan kunci suksesnya menjalankan ibadah puasa di bulan suci Ramadhan. - Pelajari Ilmu Seputar Ramadhan.
Ilmu adalah bekal yang sangat penting sebelum melakukan suatu aktivitas. Terutama sebelum memasuki bulan Ramadhan. Jangan sampai kita melakukan sesuatu yang ternyata membuat puasa batal atau tidak diterima oleh Allah SWT. Untuk itu lah kita butuh ilmu yang akan mengajarkan ilmu seputar Ramadhan. Misal: ilmu tentang syarat wajib puasa, syarat sah puasa, rukun puasa, amalan sunah yang diupayakan dikerjakan selama puasa, hal-hal yang membatalkan puasa, dan lain sebagainya.
Ilmu seputar Ramadhan wajib diketahui oleh seorang muslim agar bisa menjalankan puasa dengan penuh ketakwaan. Karena, menuntut ilmu merupakan bagian dari kewajiban seorang muslim. Rasulullah SAW bersabda: “Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim.” (HR.Ibnu Majah no.224). - Membuat Program Ramadhan
Seorang muslim tentu menginginkan menjalani puasa Ramadhan dengan aktivitas dan amalan yang mendatangkan pahala. Untuk itu, sangat disayangkan jika bulan Ramadhan datang, hanya dipenuhi dengan segala aktivitas yang tidak bermanfaat dan tidak mendatangkan pahala.
Allah SWT berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS.Al Baqarah:183).
Jadi sangat jelas, bahwa tujuan akhir seorang muslim yang melaksanakan puasa di bulan suci Ramadhan adalah meraih gelar “manusia yang bertakwa”. Yaitu manusia yang melaksanakan seluruh perintah Allah SWT dan meninggalkan seluruh yang dilarang oleh Allah SWT.
Ketakwaan seorang muslim, sejatinya tidak hanya dilakukan selama bulan Ramadhan saja. Tapi diharapkan di bulan-bulan lain setelah Ramadhan selesai, ketakwaan tersebut akan tetap terjaga.
Beberapa program pribadi yang bisa dilakukan selama Ramadhan dalam rangka meraih gelar takwa adalah:
(1) Menjalankan semua amalan-amalan wajib tanpa kecuali, seperti: sholat wajib, puasa ramadhan, dakwah amar ma’ruf nahyi mungkar, menuntut ilmu Islam, dan lain sebagainya.
(2) Memperbanyak amalan-amalan sunnah, seperti: memperbanyak membaca Al-Qur’an, memperbanyak infaq/sedekah, memperbanyak sholat sunnah, banyak berdoa dan dzikir, melakukan i’tikaf di sepuluh hari terakhir Ramadhan dalam rangka mendapatkan malam lailatul qadar, dan lain sebagainya.
(3) Mempersiapkan untuk membayar zakat fitrah dan zakat maal (bagi yang sudah mencapai nishabnya).
(4) Mempersiapkan untuk sholat Iedul Fitri dan bersilaturrahmi saat lebaran.
Kembali pada Islam
Sebagai muslim, tentunya kita ingin menjalani Ramadhan dengan baik. Gelar manusia yang bertakwa pun ingin kita raih. Namun di tengah sistem kapitalisme saat ini, maka meraih gelar manusia bertakwa sangat susah digapai. Kaum muslim terpecah fokusnya antara urusan dunia dan urusan akhirat.
Untuk itu, dibutuhkan sistem yang lebih baik, yang akan menggantikan sistem yang sudah rusak dari akarnya ini. Dialah sistem Islam, dimana didalamnya akan diterapkan syariat Islam secara kaffah (menyeluruh).
Dalam sistem Islam, negara tidak akan pernah menjual SDA kepada pihak swasta atau Asing. Negara akan mengelola sendiri, dan hasilnya untuk kesejahteraan dan kemakmuran rakyat. Negara juga akan menindak tegas para pelaku penimbunan barang, sehingga hal serupa tidak akan terulang lagi.
Negara akan mensuasanakan bulan Ramadhan dengan penuh kekhusukan dan ketakwaan di seluruh pelosok negeri. Tidak akan dibiarkan ada masalah-masalah yang mengganggu konsentrasi kaum muslimin selama menjalani puasa Ramadhan.
Kondisi seperti ini hanya akan terwujud jika negara meninggalkan sistem kapitalisme, dan menggantinya dengan sistem Islam.(***)











