SORONG-Polemik terkait keberadaan pangkalan bahan bakar minyak (BBM) di wilayah Jalan Selat Makassar, Kelurahan Remu Selatan, Kota Sorong tepatnya Pelabuhan Belakang Dewi, Kota Sorong, terus bergulir.
Penanggung jawab pangkalan bahan bakar minyak (BBM) di Kota Sorong, Fitri, membantah tuduhan bahwa usahanya melakukan penimbunan BBM. Ia menegaskan bahwa kegiatan operasional pangkalan miliknya telah sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan justru membantu masyarakat, khususnya para nelayan di wilayah tersebut.

Fitri menjelaskan, pangkalan BBM miliknya memiliki izin usaha resmi yang selalu diperbarui setiap tiga bulan. Ia memastikan bahwa distribusi BBM dilakukan secara terbuka dan mengikuti prosedur yang ditetapkan pemerintah.
“Kami tidak pernah melakukan penimbunan. Izin usaha kami lengkap dan selalu diperbarui setiap tiga bulan. Justru kehadiran pangkalan ini untuk membantu masyarakat, terutama nelayan yang membutuhkan BBM untuk melaut,” jelas Fitri saat ditemui di Pelabuhan Belakang Dewi, Jumat (7/11/2025).
Menurutnya, keberadaan pangkalan BBM di lokasi tersebut sangat dibutuhkan karena mempermudah akses masyarakat dalam memperoleh bahan bakar dengan harga sesuai ketentuan.
“Kita dapat dari masyarakat yang beli di SPBU yang datang jual di kami. Kami hanya membantu warga nelayan karena mereka bilang SPBU tidak buka 24 jam. Selama ini warga tidak mengeluh,” katanya.
Lebih lanjut, Fitri juga mengungkap adanya persoalan lain yang sempat memperkeruh situasi. Ia menyebut seorang oknum anggota TNI mengaku sebagai pemilik lahan tempat pangkalan itu berdiri.
“Ada oknum TNI YP yang mengaku pemilik lahan,” kata Fitri.
Menurutnya, tuduhan penimbunan BBM yang muncul belakangan bisa jadi dipicu oleh persoalan lahan tersebut.
Ia menilai isu ini tidak berdasar dan merugikan dirinya sebagai pelaku usaha kecil. Fitri juga meminta masyarakat tidak mudah terprovokasi dengan isu yang belum terbukti kebenarannya.
“Kami hanya ingin bekerja dengan jujur dan bantu masyarakat. Jangan sampai ada pihak yang sengaja membuat fitnah demi kepentingan pribadi,” tegasnya.

Sementara itu, warga bernama Yuldi Pomeo menyampaikan keluhannya terkait keberadaan pangkalan penjualan BBM di lingkungan tempat tinggalnya.
Yuldi meminta pihak berwenang untuk menutup pangkalan tersebut karena dianggap ilegal dan berisiko menimbulkan kebakaran.
“Penjualan BBM di sini, saya tidak untuk menghentikan terkait mereka menjual BBM. Tetapi yang saya minta itu, penjualan BBM yang setahu saya, di sini ini harus resmi,” ujar Yuldi.
Yuldi menekankan bahwa pangkalan BBM tersebut beroperasi tanpa izin resmi dan berdempetan langsung dengan rumahnya. Ia juga mengaku sambungan listrik untuk operasional pangkalan berasal dari rumah pribadinya.
Menurutnya, kondisi itu berbahaya karena BBM yang ditampung mencapai puluhan ton dan berisiko besar menimbulkan kebakaran.
Yuldi meminta pihak terkait untuk segera memeriksa dan menutup pangkalan tersebut, serta mendesak PLN Kota Sorong untuk memutus sambungan listrik yang digunakan pangkalan.
Terkait lahan, Yuldi menegaskan bahwa tanah yang digunakan pangkalan adalah miliknya dan ia memiliki bukti lengkap seperti sertifikat dan pelepasan adat.
“Saya punya sertifikat,” katanya.
Yuldi membantah tuduhan bahwa dirinya melakukan pemalakan terhadap pemilik pangkalan.
“Saya ini punya instansi jelas. Kalau memang saya memalak, pasti sudah ada laporan ke instansi seperti Koramil,” ujarnya.

Berbeda dengan Yuldi, warga lain bernama Hengki Riko justru menyatakan bahwa keberadaan pangkalan BBM di kawasan itu sangat membantu masyarakat.
Hengki menilai usaha tersebut memberikan kemudahan bagi nelayan dan warga dalam mendapatkan bahan bakar.Namun, Hengki juga mengeluhkan perilaku Yuldi yang dinilai kerap mengganggu ketenangan warga, terutama saat kegiatan ibadah berlangsung.
“Saya punya istri juga seorang majelis. Dia lagi pimpin ibadah, itu Pak Yuldi ini putar lagu, dia tidak menghargai orang yang lagi ibadah. Bahkan kalau masjid lagi ibadah juga, dia kasih volume besar,” ungkap Hengki Riko, warga RT 01.
Dikatakan Hengki, bahwa warga sering merasa terganggu oleh perilaku Yuldi yang kerap marah-marah dan mengeluarkan kata-kata kasar.
“Setiap kali ada mobil yang ingin membeli BBM di lokasi tersebut, dia langsung turun memaki-maki dan mengusir pembeli,” kata Hengki.
Hengki berharap suasana di lingkungan mereka bisa kembali tenang dan masyarakat dapat beraktivitas tanpa gangguan, baik dalam beribadah maupun bekerja mencari nafkah.(zia)












