SORONG – Pemuda Ikaswara Kota Sorong menggelar kegiatan Ngabuburit Sambil Berbagi di Duduk Manis Coffee, Outlet Icon Raja Ampat, Kamis (13/4) sore.
Dalam kegiatan dengan Thema Pemuda Pelopor Ekonomi Syariah itu menghadirkan narasumber H. Hartono A. Toha (Anggota Dewan Pengawas Syariah) dan Qodry Malawat (Ketua Tangan Di Atas Sorong Raya). Dalam kegiatan itu juga dilakukan pembagian bingkisan dan santunan dari Brilian (BRI) dan Saka Digital Printing kepada kaum dhuafa.
Ketua Pemuda Ikaswara, Ahmad R. Kurniawan mengatakan bahwa, Pemuda Ikaswara berkomitmen untuk tetap menjalankan visi-misi Ikaswara. Tagline Pemuda Ikaswara tahun ini syiar kebaikan, jadi apapun yang dibawa keluar oleh Pemuda Ikaswara dapat bermanfaat bagi orang lain.
Kenapa Pemuda Ikaswara memilih tempat kegiatan seperti ini? “Kita harus unik. Ikaswara Kota Sorong sudah punya pendopo dan gedung yang bisa kita manfaatkan, tapi Pemuda Ikaswara adalah garda komunikasi terdepan, maka untuk itu sekali-sekali kita pertemuan berdiskusi menyapa sahabat-sahabat luar di sini. Ini bagian dari syiar kebaikan. Kalau kementerian taglinenya kita bangga produk Indonesia, kita Pemuda Ikaswara bangga dengan outletnya warga Ikaswara. Outlet ini punya orang Bandung Jawa Barat,” ungkapnya.
Ketua TDA Sorong Raya Qodry Malawat mengatakan bahwa, Tangan Di Atas (TDA) sebuah komunitas yang bergerak di bidang usaha UMKM. Di dalamnya ada beberapa divisi yaitu TDA Klub, TDA Perempuan, dan TDA Kampus.
“Kita lebih ke support system, bagaimana kita mensupport satu sama lain, memberi masukan kepada teman-teman yang awalnya belum punya rencana buka apa. Dengan sering kumpul, berbagi cerita pengalaman maka teman-teman tertarik untuk membuka usaha,” terangnya.
Sementara itu, Hartono mengatakan bahwa, sistem ekonomi syariah sudah ada sejak 1444 tahun lalu, bersama lahirnya Islam. Pada saat itu penerapan syariah (termasuk ekomomi syariah) merupakan sebuah destruksi yang besar, sebuah perubahan yang drastis sekali, salah satunya tentang larangan riba, sehingga bagi sebagian orang sulit dilakukan, tapi pada akhirnya Islam berjaya, dan Islam dengan sistem syariah (termasuk ekonomi syariahnya) bisa mencapai puncak kejayaannya. Namun lambat laun berjalannya waktu sistem syariah dan ekonomi syariah mulai ditinggalkan.
Ekonomi syariah di Indonesia bangkit mulai awal 1990-an. Saat itu MUI dan ICMI mengadakan seminar tentang bank syariah, lalu dilakukan pengkajian secara mendalam, disiapkan segala infrastrukturnya, kemudian lahirlah bank syariah pertama yaitu Bank Muamalat pada tahun 1992, dan kemudian juga dibentuk BMT (Baitul Mal Watamwil) agar dapat menjangkau masyarakat di pedesaan/perkampungan hingga pelosok daerah.(akh)
















