SORONG – Kepala Sekolah SD Daarul Fikri Cindekia, Khairul Mufid, menanggapi persoalan yang muncul terkait pelaksanaan program Makanan Bergizi Gratis (MBG) di sekolahnya terkait tidak layaknya menu MBG diantaranya Ikan ketika dikonsumsi membuat lidah merasa gatal, sayur sudah basi dan nasi yang bertekstur keras sehingga tidak bisa dikonsumsi oleh siswa.
Kepsek Khairul menegaskan bahwa sekolah dan orang tua pada dasarnya bersyukur atas adanya program pemerintah tersebut, karena dinilai sangat membantu meringankan beban orang tua dalam menyiapkan makan siang untuk anak-anak.
“Sekolah dan orang tua mewakili seluruh orang tua bersyukur atas program pemerintah untuk MBG ini, karena membantu meringankan dukungan orang tua dalam menyiapkan makan siang. Sebelum MBG ini berjalan, di sekolah sebenarnya sudah ada program makan siang, tetapi dibayar oleh orang tua. Dengan adanya MBG, orang tua lebih ringan pembayarannya,” kata Khairul Mufid, ketika ditemui awak media di Ruang Kerjanya, Kamis, (18/9).
Namun demikian, Kepsek mengakui bahwa dalam pelaksanaan di lapangan masih ada sejumlah catatan yang perlu diperbaiki dan disempurnakan. Menurutnya, ada tiga hal utama yang dikeluhkan: porsi makanan, variasi menu, dan kualitas bahan pangan.
Pertama, Kepsek Khairul menilai porsi makan yang diberikan tidak sesuai dengan kebutuhan anak, terutama untuk siswa kelas 4, 5, dan 6. “Porsi makanan terlalu sedikit untuk anak-anak yang lebih besar. Mestinya ada perbedaan antara kelas 1, 2, 3, dengan kelas 4, 5, 6,” jelasnya.
Kedua, kata Kepsek bahwa variasi menu juga dianggap masih monoton. “Kalau tempenya digoreng terus, anak-anak bosan. Mestinya divariasikan, misalnya ayam hari ini, besok daging, lalu telur. Begitu juga cara mengolahnya jangan digoreng terus, bisa ditumis, pakai kecap, atau bumbu lain agar anak-anak tidak bosan,” ujarnya.
Ketiga, kualitas bahan makanan menjadi catatan serius. Menurutnya, protes dan demonstrasi yang dilakukan orang tua serta siswa baru-baru ini dipicu oleh temuan ikan yang sudah tidak layak konsumsi.
“Bahan yang diolah harus dipastikan sehat dan baik kualitasnya. Kalau tidak, bisa menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan seperti alergi, sakit perut, bahkan keracunan. Kemarin sempat ada ikan yang gatal, tidak layak konsumsi. Untungnya belum sempat dimakan anak-anak karena guru-guru lebih dulu mengecek,” ungkapnya.
Selain ikan gatal, Khairul juga mengungkapkan adanya masalah lain yang sempat terjadi, di antaranya nasi keras, buah yang sudah tidak segar, serta sayur yang berbau tidak sedap.
“Awalnya nasi terlalu keras, tidak baik untuk pencernaan. Kami sampaikan ke grup evaluasi, mereka tindak lanjuti. Begitu juga dengan buah, sempat ada semangka yang tidak segar karena dipotong sejak pagi, akhirnya sekarang diganti dengan buah utuh seperti pisang. Tapi Senin lalu ada ikan gatal, lalu Selasa kemarin sayurnya sudah bau, tidak layak konsumsi,” terangnya.

Kepsek juga menambahkan, sempat terjadi aksi protes oleh orang tua SD Daarul Fikri pada 16 September 2025 yang dipicu oleh kejadian berulang. “Karena sudah beberapa kali anak-anak merasa tidak cocok, lalu mereka cerita ke orang tuanya, akhirnya orang tua merespons dengan demonstrasi di depan sekolah, menolak makanan yang tidak layak konsumsi,” ujarnya.
Dalam situasi darurat ketika lauk pengganti dari dapur MBG tidak datang, pihak sekolah mengambil langkah cepat dengan membelikan lauk alternatif berupa ayam crispy dari luar agar anak-anak tetap bisa makan siang.
“Pihak dapur bilang mau ganti dengan telur tapi tidak kunjung datang. Anak-anak sudah lapar. Jadi kita inisiatif beli ayam goreng buat anak-anak,” ungkapnya.
Kepsek Khairul menegaskan, pihak sekolah berperan sebagai jembatan antara orang tua dengan pengelola dapur MBG. Semua keluhan selalu disampaikan lewat forum evaluasi.
“Kami tidak bisa melarang orang tua melakukan aksi, itu hak mereka. Justru kami mendukung selama protes dilakukan dengan baik. Harapannya ini menjadi catatan serius bukan hanya bagi pengelola dapur, tapi terutama badan pengawas yang ditunjuk pemerintah. Pengawasan harus lebih maksimal, jangan hanya menunggu masalah muncul,” tegasnya.
Khairul menyarankan agar pengawasan dilakukan secara rutin, bahkan setiap hari atau setiap pekan, baik ke dapur maupun ke sekolah. “Kalau pengawasan dilakukan secara berkala, pengelola dapur pasti lebih berhati-hati. Selama ini kan baru ada tindakan setelah masalah terjadi,” pungkasnya.
Diketahui Sekolah yang beralamat di Jalan DPRD Km 10, Kelurahan Klawuyuk Kota Sorong mendapatkan MBG dari Mitra yang memiliki Yayasan Bhakti Pemuda Sorong.(zia)












