SORONG— Keluarga Pi, siswa salah satu SMP Negeri di Kota Sorong, mengaku kecewa karena hingga kini oknum guru yang membakar rambut anak mereka belum pernah datang langsung untuk meminta maaf. Di sisi lain, oknum guru yang kini menjabat sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Sekolah itu mengakui perbuatannya salah dan menyampaikan permohonan maaf kepada orang tua korban.
Ibu Pi, Regina, menjelaskan peristiwa itu terjadi pada September 2025 saat apel pagi di sekolah. Menurutnya, anaknya mendapat perlakuan yang dinilai tidak pantas dilakukan seorang pendidik.
Regina menjelaskan, sebelum berangkat ke sekolah, Pi biasa memasak air panas di rumah. Namun pada hari kejadian, Pi lupa mengeluarkan korek api yang masih tersimpan di saku bajunya sehingga terbawa ke sekolah.
“Saat apel pagi ada pemeriksaan dari sekolah dan diketahui ada korek api di saku baju Pi. Kemudian salah satu guru di SMP itu dia memegang korek api itu lalu membakar rambut anak saya. Sebelum membakar itu, dia pukul dulu. Saat kejadian pagi itu pas ada apel pagi jadi anak-anak sekolah pasti banyak, guru-guru juga pasti banyak di situ,” kata Regina, Selasa (12/5) didampingi suami.
Sepulang sekolah, Pi tidak langsung menceritakan kejadian tersebut kepada orang tuanya. Regina baru curiga setelah melihat ada bengkak dan kemerahan di bagian dahi anaknya.
“Setelah itu anak saya pulang dari sekolah tidak dia tidak sampaikan ke kami orang tua. Saat pulang dari sekolah itu siang hari saya lagi istirahat di rumah di tempat tidur saya lihat samping kiri atau kanannya itu ada bengkak jadi saya tanya dia tidak mau sampaikan,” katanya.
Regina mengaku Pi hanya diam dan matanya terlihat merah seperti habis menangis. Setelah ditanya oleh ayahnya, Pi akhirnya mengaku dipukul dan rambutnya dibakar oleh oknum guru tersebut.
“Saat bapaknya tanya, barulah Pi mengatakan kalau dirinya dipukul sama oknum guru sekolah dan rambutnya dibakar,” kata Regina.
Menurut pengakuan Pi kepada orang tuanya, api sempat menyala di rambutnya sebelum akhirnya dipadamkan langsung oleh oknum guru menggunakan tangan.
Usai kejadian itu, oknum guru tersebut membawa Pi ke tempat pangkas rambut untuk merapikan rambutnya.
Regina juga mengungkapkan, anaknya sempat ditawari uang oleh oknum guru tersebut.
“Uangnya banyak, ada seratus-seratus. Di suruh pilih kalau ambil berati keluar dari sekolah. Kalau tidak ambil berati tetap Sekolah disini,” ujar Regina menirukan ucapan Pi.
Namun Pi menolak uang tersebut karena masih ingin tetap bersekolah di SMP itu.
Hal yang paling disesalkan keluarga korban, kata Regina, hingga saat ini oknum guru tersebut belum pernah datang atau menghubungi langsung untuk meminta maaf.
“Saya rasa kecewa, sangat kecewa. Karena anak-anak Papua ini kan harus kita kasih pendidikan yang layak. Jadi saya harap mungkin ke depannya itu guru yang terkait mungkin bisa dikasih sanksi atau dikasih pendidikan yang lebih bagus lagi, supaya ke depannya dia lebih tahu arti dari pendidikan,” ujarnya.
Regina menambahkan, setelah kejadian tersebut Pi sempat tidak masuk sekolah selama satu minggu karena sakit dan mengalami trauma bertemu dengan oknum guru tersebut.
“Kami orang tua, memang bapaknya sempat marah dan ajak untuk kita ke sekolah, tapi saya bilang tidak usah dulu kita ikuti karena anak-anak kan baru terkembang begini, tidak boleh kita tekan, jangan sampai dia lebih takut,” katanya.
Selain itu, Ayah Pi juga mengaku kecewa atas kejadian yang dialami anaknya.“Saya memang sempat marah, rambut anak dibakar, kalau orang lain itu mungkin sudah datang demo ke sekolah. Tapi kami tidak,” ujarnya.
Sementara itu, Oknum Guru yang sekarang menjabat Plt Kepala Sekolah SMP tersebut, Firdina, mengakui memang telah membakar ujung rambut Pi menggunakan korek api. Namun ia membantah melakukan pemukulan terhadap siswa tersebut.
“Tidak, tidak ada pemukulan, karena waktu itu ramai, kalau ada yang pukul saya tidak tahu,” katanya saat ditemui di sekolah, Rabu (13/5).Firdina mengatakan tindakan itu terjadi karena Pi sudah beberapa kali diingatkan untuk mencukur rambutnya sesuai aturan sekolah, namun tidak diindahkan sejak Juni 2025 hingga September 2025.
Menurutnya, saat apel pagi dirinya melihat korek api di saku baju Pi dan mengaku emosi karena sebelumnya terdapat laporan bahwa Pi pernah merokok di lingkungan sekolah.
“Saya memang bakar, terus (api) langsung sapu dengan tangan saya. Saya masih berpikir, kasih padam api hanya diujung jari. Jadi tidak sampai terbakar banyak,” kata Firdina.
“Jadi tidak sampai anarkis bakar sampai banyak, hanya sedikit yang saya bakar. Tangan saya sampai panas,” imbuhnya.
Firdina mengatakan setelah kejadian, dirinya langsung membawa Pi ke barbershop terdekat untuk mencukur rambutnya.“Karena itu masih sekitar jam 08.00 WIT. Jadi jam 09.00 WIT baru buka dan saya bonceng Pi ke barbershop untuk potong rambutnya, dirapikan,” katanya.
Saat ditanya apakah tindakan membakar rambut siswa merupakan bagian dari pembinaan, Firdina mengaku hal itu merupakan tindakan pribadinya dan tidak ada petunjuk teknis yang mengatur.
“Bukan saya bilang itu wajar nanti saya bilang salah. Tapi itu saya. Itu pernyataan dari saya sendiri saja,” ujarnya.
Firdina juga mengakui sempat memberikan uang kepada Pi sebagai bentuk permintaan maaf.“Saya menyampaikan saya salah ambil uang ini sebagai wujud permintaan maaf saya. Kasih ke orang tua jangan dikurangi. Tapi dia (Pi) bilang, ibu enggak usah kasih uang, tapi saya sekolah di sini,” tutur Firdina menirukan ucapan Pi.
Di akhir keterangannya kepada media, Firdina menyampaikan permohonan maaf kepada orang tua Pi atas tindakannya.
“Saya minta maaf atas kesalahan yang saya lakukan bulan September 2025. Dari situlah menjadi pembelajaran bagi saya untuk sortir siswa yang mau dibina di SMP ini. Karena sudah ada tata tertib yang dimaterai 10 ribu. Jika tidak mau dibina di sini silahkan dibina oleh orang tua. Itu yang aturan sekarang,” ucapnya.(zia)















