• Profil
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
Jumat, 12 Desember 2025
  • Login
Radar Sorong
Advertisement
  • Berita Utama
  • Metro Sorong
  • Sorong Raya
  • Lintas Papua
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Sport
  • Feature
No Result
View All Result
  • Berita Utama
  • Metro Sorong
  • Sorong Raya
  • Lintas Papua
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Sport
  • Feature
No Result
View All Result
Radar Sorong
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Berita Utama

Ketika Sepiring Nasi Menjadi Ujian Keamanan Manusia

by admin
21 September 2025
in Berita Utama
0
Ketika Sepiring Nasi Menjadi Ujian Keamanan Manusia
Share on FacebookShare on WhatsApp
ADVERTISEMENT

Oleh : Dr Melyana R.Pugu, S.IP, M.Si

SEPIRING nasi tampak sederhana. Ia hadir di meja makan hampir setiap keluarga di Indonesia, menjadi simbol kehidupan sehari-hari.

Berita Terkait

Mini Soccer Tersertifikasi FIFA Hadir di Sorong Papua Barat Daya

Mini Soccer Tersertifikasi FIFA Hadir di Sorong Papua Barat Daya

12 Desember 2025
46
Papua Barat Daya Didorong Perkuat Mitigasi Perubahan Iklim, Pemerintah Ajak Kolaborasi Lintas Sektor

Papua Barat Daya Didorong Perkuat Mitigasi Perubahan Iklim, Pemerintah Ajak Kolaborasi Lintas Sektor

10 Desember 2025
79
Gandeng Astha Medica Clinic, Aston Sorong Gelar Pemeriksaan Kesehatan Gratis 100 Lansia

Gandeng Astha Medica Clinic, Aston Sorong Gelar Pemeriksaan Kesehatan Gratis 100 Lansia

9 Desember 2025
7

Tetapi dalam politik pembangunan, sepiring nasi bisa menjelma sebagai indikator legitimasi negara, bahkan menjadi cermin hubungan antara pemerintah dengan rakyatnya.

ADVERTISEMENT

Program Makan Bergizi Gratis (MBG lahir dengan ambisi besar: menekan angka stunting, menjamin kebutuhan gizi masyarakat, dan menghadirkan negara di ruang domestik paling intim—meja makan keluarga.

Namun, idealisme di atas kertas sering berbenturan dengan kenyataan di lapangan. Laporan tentang makanan yang tidak layak konsumsi, distribusi yang tidak merata, hingga minimnya pengawasan telah menimbulkan kritik keras.

Bagi sebagian masyarakat, kegagalan kecil ini bukan sekadar persoalan teknis, melainkan simbol kegagalan negara dalam menghargai martabat warganya.

Dalam studi hubungan internasional, konsep keamanan manusia (human security) sudah lama dipahami sebagai perluasan makna keamanan. Tidak lagi semata soal militer atau ketiadaan perang, melainkan tentang kemampuan negara memenuhi kebutuhan dasar rakyatnya. UNDP pada 1994 menegaskan dua dimensi utama: freedom from fear (bebas dari rasa takut) dan freedom from want (bebas dari kekurangan).

Amartya Sen, ekonom peraih Nobel, berulang kali mengingatkan bahwa kelaparan sering kali bukan akibat tidak adanya pangan, melainkan kegagalan distribusi dan tata kelola.

Pandangan ini paralel dengan kasus di India, ketika program Midday Meal Scheme yang memberi makan siang gratis bagi jutaan anak sekolah menuai kritik karena buruknya higienitas.

Di salah satu insiden, belasan anak meninggal akibat keracunan. Tragedi itu membuktikan bahwa sebuah program baik bisa berubah menjadi bencana sosial bila pengawasan abai.

Jika kita menilik pengalaman lain, Brasil berhasil membalikkan keadaan lewat program Fome Zero atau “Zero Hunger”. Dengan kombinasi bantuan pangan, subsidi tunai, dan pelibatan komunitas lokal, angka kelaparan nasional turun drastis.

Bahkan, program ini menjadi model yang diakui dunia, sekaligus memperkuat citra Brasil sebagai negara yang peduli pada pembangunan inklusif.

Dalam politik domestik, sepiring nasi bisa lebih penting dari seribu pidato. Barry Buzan, pakar studi keamanan, menekankan bahwa negara modern tidak bisa hanya bergantung pada kekuatan militer atau simbol formal kekuasaan. Legitimasi lahir ketika rakyat merasakan langsung negara hadir di meja makan mereka. Dengan demikian, keberhasilan MBG menghadirkan nasi bergizi dapat memperkuat legitimasi pemerintah.

Sebaliknya, ketika nasi itu ditemukan tidak layak konsumsi, ia berubah menjadi bumerang. Kepercayaan publik yang rapuh bisa runtuh seketika.

Pertanyaan pun muncul: jika sepiring nasi saja gagal diurus dengan benar, bagaimana dengan janji pembangunan yang lebih besar?.

Pengalaman Amerika Serikat lewat National School Lunch Program patut dicermati. Meski awalnya dikritik, program ini akhirnya bertahan puluhan tahun karena standar gizi diperketat dan pengawasan dilakukan ketat oleh sekolah dan otoritas kesehatan.

Artinya, keberlanjutan program sangat ditentukan oleh konsistensi negara menjaga kualitas. Makanan bukan sekadar kebutuhan biologis, melainkan juga menyangkut martabat manusia.

Deklarasi Universal HAM 1948 menyebutkan bahwa setiap orang berhak atas standar hidup layak, termasuk pangan.

Jean Drèze, ekonom pembangunan, menekankan bahwa program makan publik harus dipahami sebagai penghormatan terhadap martabat manusia, bukan sekadar proyek birokrasi.
Negara lain telah membuktikan hal ini.

Jepang dengan program School Lunch tidak hanya memberi makan, tetapi juga mengintegrasikan pendidikan gizi ke dalam kurikulum.

Anak-anak tidak hanya kenyang, tetapi juga belajar menghargai makanan sehat sebagai bagian dari budaya dan martabat.

Bandingkan dengan kasus di beberapa negara Afrika Sub-Sahara, di mana bantuan pangan internasional yang tidak terkelola justru memperburuk konflik sosial.

Perbedaannya terletak pada tata kelola dan keseriusan pemerintah dalam menjaga martabat rakyatnya. Roland Paris, akademisi hubungan internasional, menegaskan bahwa stabilitas sosial di wilayah rawan konflik sangat bergantung pada kemampuan negara menyediakan kebutuhan dasar.

Jika layanan dasar seperti pangan diabaikan, potensi instabilitas justru semakin besar. Pengalaman Rwanda pascagenosida memberi bukti: distribusi pangan yang adil menjadi kunci rekonsiliasi sosial dan pemulihan perdamaian.

ADVERTISEMENT

Dalam konteks MBG, kegagalan bisa memperdalam ketidakpuasan sosial. Sebaliknya, keberhasilan dapat menjadi sarana merajut kepercayaan dan mengurangi jurang antara rakyat dengan pemerintah.

Dengan kata lain, sepiring nasi bisa menentukan apakah masyarakat merasa dipeluk oleh negaranya atau justru ditinggalkan. Kebijakan domestik seperti MBG juga membawa dampak internasional.

Martha Finnemore, pakar hubungan internasional, menegaskan bahwa standar keamanan manusia kini menjadi norma global yang mengikat.

Negara yang abai akan dikritik tidak hanya oleh warganya, tetapi juga oleh komunitas internasional.

Jika MBG sukses, ia bisa menjadi model pembangunan inklusif yang dipuji dunia. Vietnam misalnya, mendapat pengakuan PBB atas program School Meal yang menurunkan angka malnutrisi anak dalam waktu singkat.

Finlandia bahkan dianggap teladan global karena program makan gratis di sekolahnya berjalan lebih dari 70 tahun tanpa henti, berkat keterlibatan komunitas lokal, orang tua, dan pemerintah daerah.

Tetapi jika MBG gagal, ia bisa menjadi sorotan negatif di forum internasional, terutama ketika dunia menilai komitmen Indonesia terhadap Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya target menghapus kelaparan.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar MBG tidak menjadi proyek politis sesaat.

Pertama, rantai pasok harus dipastikan menjangkau daerah terpencil, bukan hanya kota besar.

Kedua, standar gizi dan keamanan pangan wajib diperketat dengan audit independen.

Ketiga, partisipasi masyarakat lokal harus diperluas, agar warga tidak hanya menjadi penerima pasif tetapi juga pengawas aktif.

Keempat, integrasi dengan program kesehatan dan pendidikan harus nyata, bukan simbolik.

James Scott, ilmuwan politik, mengingatkan bahwa banyak program negara gagal karena terlalu birokratis dan tidak sensitif terhadap kondisi lokal.

Pelajaran dari Finlandia relevan: keberhasilan program makan gratis justru karena melibatkan komunitas, bukan hanya perintah dari pusat.

Sepiring nasi dalam program MBG terlihat sederhana, tetapi sesungguhnya mengandung implikasi politik, sosial, dan internasional yang besar.

Ia bisa menjadi simbol nyata kehadiran negara dan alat rekonsiliasi sosial, atau sebaliknya, bukti kegagalan yang meruntuhkan legitimasi.

Amartya Sen mengingatkan bahwa kelaparan adalah kegagalan tata kelola, bukan sekadar kelangkaan. Barry Buzan menegaskan bahwa keamanan manusia adalah fondasi legitimasi negara modern. Roland Paris menekankan pentingnya layanan dasar untuk stabilitas sosial.

Pelajaran dari India, Brasil, Jepang, Vietnam, hingga Finlandia menunjukkan satu hal: program makan publik bisa menjadi sumber kebanggaan nasional jika dijalankan dengan keseriusan dan pengawasan ketat.

Keamanan manusia pada akhirnya tidak bisa dipisahkan dari sepiring nasi di meja makan rakyat.

Ketika nasi itu bergizi dan layak, rakyat merasa dihargai dan aman. Tetapi ketika nasi itu berisi belatung, rakyat merasa ditinggalkan.

Inilah ujian nyata bagi negara: apakah ia benar-benar hadir untuk rakyatnya, atau hanya hadir dalam slogan dan pidato.

Dalam konteks pembangunan nasional, isu sepiring nasi ini jauh lebih besar dari sekadar urusan teknis penyediaan makanan.

Ia menyentuh inti dari kontrak sosial antara negara dan warga, sebuah kontrak yang mengikat rasa percaya, loyalitas, dan legitimasi.

Negara yang gagal menghadirkan rasa aman pada level paling sederhana—makan yang layak—akan menghadapi konsekuensi serius.

Kepercayaan publik bukan sesuatu yang bisa dibeli dengan proyek infrastruktur raksasa atau jargon politik, tetapi dibangun dari hal-hal kecil yang menyentuh kehidupan sehari-hari.

Program MBG bisa menjadi simbol hadirnya negara di ruang domestik, di meja makan, dan di perut rakyatnya.

Namun, jika ia dibiarkan berjalan tanpa pengawasan dan akuntabilitas, maka yang tersisa hanyalah kekecewaan mendalam yang merusak fondasi kepercayaan.

Pelajaran dari berbagai negara menunjukkan bahwa program makan bergizi bisa menjadi kebijakan strategis yang membangun bangsa, tetapi hanya jika dijalankan dengan serius, transparan, dan partisipatif.

Brasil dengan Fome Zero berhasil mengangkat jutaan orang dari kemiskinan ekstrem, Jepang menjadikan makan siang sekolah sebagai media pendidikan gizi, sementara Finlandia menjadikannya bagian dari budaya keseharian yang dijalankan lintas generasi.

Sebaliknya, India pernah menjadi sorotan negatif dunia karena kegagalan pengawasan program makan gratis yang berujung tragedi kemanusiaan.

Karena itu, sepiring nasi dalam MBG adalah refleksi yang menguji: sejauh mana negara menghormati rakyatnya? Apakah rakyat dipandang sekadar angka penerima bantuan, atau diperlakukan sebagai manusia bermartabat yang berhak atas pangan sehat dan aman? .

Jawaban dari pertanyaan ini akan menentukan bukan hanya masa depan program, tetapi juga kualitas demokrasi kita.

Pada akhirnya, masa depan bangsa ditentukan bukan oleh megahnya gedung pemerintahan atau megaprojek jalan raya, melainkan oleh sesuatu yang tampak sederhana: apakah setiap warga bisa duduk di meja makan dengan sepiring nasi bergizi, sambil merasakan bahwa negara sungguh-sungguh ada bersama mereka. (**)

Tentang Penulis:
Melyana R.Puguadalah peneliti dan dosen di bidang Ilmu Hubungan Internasional dengan minat pada isu Perbatasan Negara, isu pembangunan, isu keamanan manusia, dan kebijakan publik. Saat ini aktif sebagai Dosen Hubungan Internasional Universitas Cenderawasih, dengan perhatian khusus pada Perbatasan,konektivitas, tata kelola, dan keadilan sosial di Indonesia.

ADVERTISEMENT
Previous Post

Bayi Penderita Hidrosefalus & Jantung Bocor Dapat Bantuan dari Dinkes Kota Sorong

Next Post

Cek Kesehatan Gratis Sudah Menjangkau Hampir 30 Juta Penerima Manfaat

Related Posts

Mini Soccer Tersertifikasi FIFA Hadir di Sorong Papua Barat Daya
Berita Utama

Mini Soccer Tersertifikasi FIFA Hadir di Sorong Papua Barat Daya

12 Desember 2025
46
Papua Barat Daya Didorong Perkuat Mitigasi Perubahan Iklim, Pemerintah Ajak Kolaborasi Lintas Sektor
Berita Utama

Papua Barat Daya Didorong Perkuat Mitigasi Perubahan Iklim, Pemerintah Ajak Kolaborasi Lintas Sektor

10 Desember 2025
79
Gandeng Astha Medica Clinic, Aston Sorong Gelar Pemeriksaan Kesehatan Gratis 100 Lansia
Berita Utama

Gandeng Astha Medica Clinic, Aston Sorong Gelar Pemeriksaan Kesehatan Gratis 100 Lansia

9 Desember 2025
7
Jawara Sorong Berbagi Sedekah Membawa Berkah
Berita Utama

Jawara Sorong Berbagi Sedekah Membawa Berkah

9 Desember 2025
34
Kolaborasi Pemerintah dan LMA IMEKKO Mantapkan Stabilitas Sosial di Sorong
Berita Utama

Kolaborasi Pemerintah dan LMA IMEKKO Mantapkan Stabilitas Sosial di Sorong

9 Desember 2025
30
Pohon Sukun 12 Meter: Tugu Terima Kasih 2025, Mercusuar Harapan 2026
Berita Utama

Pohon Sukun 12 Meter: Tugu Terima Kasih 2025, Mercusuar Harapan 2026

9 Desember 2025
52
Next Post
Cek Kesehatan Gratis Sudah Menjangkau Hampir 30 Juta Penerima Manfaat

Cek Kesehatan Gratis Sudah Menjangkau Hampir 30 Juta Penerima Manfaat

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

ADVERTISEMENT

Follow Us

Radar Sorong

Radar Sorong telah meluncurkan Portal Berita Online yaitu radarsorong.id yang lebih memudahkan masyarakat mendapatkan informasi terpercaya dan actual dari Harian Pagi Radar Sorong.

Kategori Beritra

  • Berita Utama
  • Ekonomi
  • Essay Foto/Berita Foto
  • Feature
  • Internasional
  • Lainnnya
  • Lintas Papua
  • Metro Sorong
  • Nasional
  • Nusantara
  • OPINI
  • Papua Barat Daya
  • Sepakbola
  • Sorong Raya
  • Sport

Berita Terbaru

Mini Soccer Tersertifikasi FIFA Hadir di Sorong Papua Barat Daya

Mini Soccer Tersertifikasi FIFA Hadir di Sorong Papua Barat Daya

12 Desember 2025
Tabur Bunga di TMP Tri Jaya Sakti, KKSS Kota Sorong Peringati Hari Korban 40.000 Jiwa di Sulawesi Selatan

Tabur Bunga di TMP Tri Jaya Sakti, KKSS Kota Sorong Peringati Hari Korban 40.000 Jiwa di Sulawesi Selatan

11 Desember 2025
  • Profil
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak

© 2021 - Radar Sorong - Developed by Tokoweb.co

No Result
View All Result
  • Berita Utama
  • Metro Sorong
  • Sorong Raya
  • Lintas Papua
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Sport
  • Feature

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
error: Content is protected !!