SORONG — Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Sorong tengah melakukan investigasi mendalam terkait kasus meninggalnya seorang anak balita yang diduga akibat kelalaian penanganan medis di salah satu rumah sakit swasta di Kota Sorong. Langkah ini diambil pemerintah setelah unggahan pilu ibu korban viral di media sosial.
Kasus ini mencuat setelah akun Facebook atas nama Yuliasti Nasir, yang merupakan ibu kandung korban, membagikan kronologi memilukan selama anaknya dirawat. Dalam unggahannya, Yuliasti mengeluhkan lambatnya respons tenaga medis dan dokter yang menangani buah hatinya.
“Satu malam saja saya di sana, anak saya kejang-kejang terus-menerus tapi tidak ada tindakan apa-apa. Saya cuma duduk jaga anak saya yang kejang dengan air mata saja,” tulis Yuliasti dalam unggahannya, Minggu (12/7).
Yuliasti membeberkan sejumlah kejanggalan pelayanan, mulai dari sampel darah hari pertama yang telantar di UGD hingga rusak dan harus diambil ulang keesokan harinya. Ia juga mengklaim dokter spesialis yang menangani tidak berada di tempat, serta sulit dihubungi oleh perawat jaga.
Kondisi sang anak kian memburuk hingga mengalami kejang berkali-kali. Ironisnya, saat keluarga meminta rujukan ke rumah sakit lain sejak malam hari, pihak rumah sakit diduga terus menunda-nunda proses rujukan dengan alasan administratif, mengingat pasien menggunakan jalur umum (non-BPJS).
Setelah melalui desakan yang keras dari pihak keluarga, balita tersebut akhirnya dirujuk ke RS Kilo 22 JP Wanane dalam kondisi kritis, dengan mulut berbusa dan detak jantung yang sempat terhenti. Setelah lima hari berjuang di ruang ICU RS Kilo 22, nyawa balita malang tersebut akhirnya tidak tertolong.
Merespons tudingan yang viral tersebut, pihak RS Maleo menyatakan telah berkoordinasi dengan otoritas kesehatan setempat. Mewakili manajemen rumah sakit, salah satu perawat, Jenelin, mengonfirmasi bahwa Dinas Kesehatan Kota Sorong telah mendatangi rumah sakit untuk mengumpulkan keterangan awal.
“Dinkes sudah datang koordinasi dan akan melakukan investigasi bersama pihak rumah sakit. Nanti hasilnya keluar baru disampaikan,” ujar Jenelin kepada awak media saat dikonfirmasi, mengingat Direktur RS Maleo sedang tidak berada di tempat, Senin (13/7).
Kepala Dinas Kesehatan Kota Sorong, Jemima Elisabeth, menegaskan pihaknya akan menindaklanjuti kasus ini dengan serius melalui proses audit medis yang komprehensif. Dinkes akan mengaudit kasus ini dengan meminta keterangan atau informasi dari beberapa tempat yang memberikan pemeriksaan dan pelayanan kepada pasien tersebut.
“Untuk audit, berikan kami waktu mungkin 2 minggu atau 3 minggu. Karena kami harus mengaudit itu tidak seperti membalik telapak tangan, kami perlu data,” jelas Jemima, Senin (13/7).
Kadis Kesehatan Jemima juga mengingatkan bahwa sistem rujukan di setiap fasilitas kesehatan wajib berjalan dengan baik. Jika sebuah rumah sakit memiliki keterbatasan fasilitas untuk menangani keluhan pasien, maka pasien harus segera dirujuk ke rumah sakit yang memiliki fasilitas lebih lengkap.
Di sisi lain, menanggapi opini publik yang berkembang pascaviralnya video dan unggahan keluarga korban, Kadis Kesehatan mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan menyerahkan proses penyelidikan kepada pihak berwenang.
Jemima juga berpesan agar warga memanfaatkan fasilitas kesehatan gratis seperti Puskesmas sedini mungkin saat anak mengalami gangguan kesehatan agar dapat ditangani sebelum kondisinya memburuk.(zia)
















