Elya Nindy Alfionita
(Dosen Unimuda Sorong)
Situasi masyarakat di era milenial segalanya serba instan, serba kekinian, ternyata tidak mengubah apapun tentang “stigma’’ bahwa perempuan sebagai kanca wingking. Ternyata emansipasi hanya semata-mata dianggap sebagai kesetaraan peran. Sebetulnya nasib perempuan semakin memprihatinkan, kita bukannya maju tapi malah semakin mundur.
Peringatan hari Kartini, hari Perempuan nasional, dan tema-tema perempuan sesungguhnya hanya untuk saling menyudutkan sesama perempuan. Berbagai macam perlombaan juga tidak hanya diabadikan sebagai momentum perayaan perjuangan, tetapi malah dijadikan sebagai tolak ukur bahwa perempuan yang maju adalah perempuan-perempuan yang good looking, terampil, yang anggun, dan perempuan-perempuan yang bahkan mapan secara finansial, status sosial tertentu dan mampu mengambil peran-peran yang biasanya hanya dihandle oleh laki-laki. Tidak ada yang salah dengan sebuah perayaaan, hanya saja makna dari perjuangan tersebut malah disisihkan.
Lambat laun poin-poin perjuangan tersebut luruh bersama keegoisan situasi masyarakat yang stoic. Masyarakat Indonesia kenapa justru sibuk menguliti aib warga Negaranya sendiri, terutama topik-topik tentang perempuan. Perempuan masih cukup menarik dijadikan sebuah sorotan. Bahkan sosial media yang dengan tajam mengupas persoalan-persoalan yang lagi-lagi menyudutkan perempuan. Mirisnya, para perempuan yang berdiri kokoh di Garda terdepan juga dengan lantang turut meramaikan, mematahkan, mengolok-olok, serta menjatuhkan sesama perempuan. Salah satu contohnya adalah kasus pelakor, perselingkuhan dimana yang disalahkan adalah perempuan, penyimpangan-penyimpangan remaja perempuan dimana yang kena sanksi sosial adalah perempuan, hal yang mencolok tentang perempuan seperti tata cara berpakaian juga digagas secara tajam, jenis pekerjaan pun digagas sangat kejam. Diskriminasi perempuan masih terjadi sampai saat ini. Seolah-olah penampilan adalah sesuatu yang paling utama menurut indikator personal. Perlu ditekankan sekali lagi bahwa tidak ada yang salah dengan edukasi, tetapi alangkah bijak jika para perempuan di Indonesia fokus pada cita-cita yang cerah dan lebih bermanfaat bagi sesama.
Makna Kesetaraan dalam Letter of Memories R.A Kartini
Flashback memories tentang perjuangan R.A Kartini. Dapat dibayangkan betapa eratnya garis batas kemerdekaan saat itu, sehingga perjuangan RA Karrtini hanya mempu disampaikan melalui letter of memories. Sampailah kumpulan surat tersebut dibukukan oleh J.H Abendanon versi Bahasa Eropa dengan judul Door Duiternis Tot Lich atau dalam bahasa Indonesia ’’Habis Gelap Terbitlah Terang.’’
R.A Kartini dinobatkan sebagai satu-satunya perempuan yang memperjuangkan hak para perempuan bukan tanpa alasan. Meskipun banyak pehlawan-pahlawan perempuan di Indonesia seperti Cut Nyak Dien, Dewi Sartika, Cut Nyak Meutia, Rasuna Said, Fatmawati Soekarno dan lain sebagainya juga disebut sebagai pahlawan perempuan. Namun semangat R.A Kartini yang tertuang sangat sederhana mampu mengantarkan para perempuan untuk mendapatkan hak yang sama dengan kaum laki-laki, dan hal itu tidak diperoleh dalam kurun proses yang singkat.
Kesetaraan hak bukanlah serta merta untuk menentang kaum laki-laki, bukan bertujuan untuk merendahkan martabat laki-laki. Bukan pula untuk menjatuhkan sesama perempuan. Bukan pula untuk kepentingan pribadi yang bersifat negative. Namun perempuan harus mendapatkan hak yang sama sekedar untuk memenuhi keutuhan manusia sebagai perempuan. Situasi ini cukup sulit bagi R.A Kartini saat itu. Berkat semangat perjuangan yang tidak pernah padam, finally hari ini kita seharusnya Merdeka dan mendapatkan hak yang sama seperti yang diharapkan pejuang kita. Terutama hak dalam menentukan keputusan.
Sekarang barangkali kita Merdeka secara hak antara lain seperti menuntut ilmu, dan kemerdekaan peran. Namun kemerdekaan secara gagasan, kemerdekaan secara peluang, kemerdekaan memilih rule, kemerdekaan mengambil keputusan, bahkan kemerdekaan menerima perbedaan justru dikungkung dalam sekat-sekat yang cukup terbatas. Sehingga suara perempuan harus sembunyi di balik pintu dan ruang yang terbatas. Rasanya kita memang belum setara secara hak. Semangat perjuangan untuk kesetaraan itu perlu direnungkan bersama, apakah kita benar-benar sudah merdeka.
Pengemudi Sistem
Peran perempuan secara kodrat yang nyata hanya melahirkan, dan menyusui, selebihnya adalah opsional aktivitas kehidupan yang dapat juga diambil alih oleh kaum laki-laki. Pengemudi sistem di Indonesia memang mayoritas adalah laki-laki, meskipun banyak pula pengemudi sistem yang luar biasa seperti Sri Mulyani Menteri Keuangan dengan , Tri Risma Harini Menteri Sosial dengan semangat perjuangannya di bidangnnya masing-masing.
Peran laki-laki sebetulnya tidak kalah penting dalam mengambil keputusan dan membuat kebijakan. Namun, apabila kebijakan-kebijakan dibuat oleh perempuan tentu saja mempertimbangkan aspek-aspek yang berpengaruh pada perempuan dan laki-laki, karena diperlukannya kepekaan untuk sebuah sistem. Kebijakan yang dibuat oleh laki-laki terkadang masih cukup kurang adil bagi perempuan. Perempuan seolah-olah berkewajiban menjalankan kodrat, sekaligus multi peran dalam kehidupan sosial, dan di balik alih-alih sistem. Alibinya, melulu tentang kepatuhan, padahal sebenarnya kita dapat menjalani aktivitas kehidupan secara bersamaan tanpa harus memilih.
Pertanyaannya, kenapa semua tanggung jawab harus ditekan kepada perempuan ? padahal kesetaraan hak adalah tentang kemerdekaan. Tetapi pada sistem masyarakat tertentu, hak-hak tersebut masih belum setara. Seperti misalnya batasan-batasan dalam menentukan pilihan, batasan-batasan untuk menyuarakan pendapat, Batasan-batasan dalam mengaktualisasi diri, dan sepertinya kendali utamanya tergantung pada laki-laki.
Tampaknya perempuan merupakan salah satu objek yang masih menarik untuk menjadi bidikan. Jangan-jangan laki-laki hanya dapat menuntut kesempurnaan pada satu ranah peran ? Jangan-jangan laki-laki memang sangat butuh sosok perempuan di sampingnya karena sesuangguhnya pengemudi di balik layar kesuksesan laki-laki adalah perempuan.(***)













