Oleh: Tutus Riyanti
(The Voice of Muslimah Papua Barat Daya)
Hari Ibu diperingati ketika seorang anak ingin berterima kasih atas perjuangan dan jasa seorang ibu yang sudah melahirkan dan membesarkannya. Di hari tersebut berbagai ucapan “Selamat Hari Ibu” dikumandangkan. Umumnya, peringatan ini dirayakan dengan memberikan suatu barang atau bunga untuk ibunda tercinta. Di Indonesia, perayaan Hari Ibu jatuh pada 22 Desember.
Penggagas Hari Ibu Menyesal
Perayaan Hari Ibu tak hanya dirayakan di Indonesia saja, ada negara lain yang juga merayakannya. Misal, di Amerika yang memperingati Hari Ibu (Mother’s Day) pada 12 Mei dan pertama kali dirayakan pada 1908.
Adalah Anna Jarvis, yang merupakan anak dari seorang aktivis bernama Ann Jarvis yang membantu mendirikan Mother’s Day Work Club untuk mengajari para wanita setempat cara merawat anak-anak mereka. Hal tersebut telah dilakukan sebelum Perang Saudara di AS pada 1861-1865.
Setelah ibunya meninggal, maka Anna Jarvis meneruskan perjuangan ibunya. Anna Jarvis mengawali perayaan resmi pada Mei 1908 di kampung halamannya dengan membagi-bagikan bunga. Bahkan, dengan perjuangannya, pada 1914 presiden Wilson menandatangani sekaligus menetapkan Hari Ibu sebagai perayaan tahunan resmi.
Sayangnya, perayaan itu jauh lebih populer dari yang ia bayangkan. Para perusahaan kartu serta toko bunga mencari keuntungan pada setiap Hari Ibu. Anna pun menyesal karena tidak suka Hari Ibu hanya dijadikan ajang cari untung. Ia pun tidak tahan dengan gagasan warga yang rela menghabiskan uang untuk membeli bunga, kartu ucapan dan cokelat mahal.
Anna mengerahkan sisa hidup dan hartanya untuk mengembalikan hari yang telah disesalinya itu. Tapi tanpa hasil. Bahkan disebutkan bahwa ia ditangkap tahun 1948 gara-gara demo di depan toko bunga untuk menolak Hari Ibu dijadikan ajang komersil. Dia dianggap mengganggu keselamatan.
Dari kisah Anna Jarvis kita belajar, bahwa Hari Ibu tidak semestinya hanya dirayakan setahun sekali. Karena bentuk rasa sayang, cinta, dan penghormatan seorang anak terhadap ibunya harus dilakukan setiap hari dan setiap saat. Memuliakan seorang ibu juga tidak cukup hanya memberikan bunga atau barang yang lain, tapi harus ditunjukkan dengan sikap dan perilaku.
Surga di Bawah Telapak Kaki Ibu
Dari Mu’wiyah bin Jahimah as-Salami bahwasanya pernah datang menemui Nabi SAW lalu berkata: Wahai Rasulullah, aku ingin pergi jihad, dan sungguh aku datang kepadamu untuk meminta pendapatmu. Beliau berkata: “Apakah engkau masih mempunyai ibu?” Ia menjawab: Ya, masih. Beliau bersabda: “Hendaklah engkau tetap berbakti kepadanya, karena sesungguhnya surga itu di bawah kedua kakinya.” (HR.An-Nasai).
Demikian untaian hadist yang mengungkap tentang hubungan surga dengan ibu. Ungkapan dimana bukan makna sesungguhnya, tapi kiasan yang mendalam betapa mulianya seorang ibu, sehingga surga pun diletakkan dibawah telapak kakinya.
Seorang ibu semestinya menjadi orang pertama yang akan mengantarkan anak-anaknya menjadi generasi terbaik. Seorang ibu seharusnya resah bila anak-anaknya tidak taat pada Allah, gelisah bila anak-anaknya terjerumus dalam dosa, khawatir anak-anaknya keluar dari koridor syariat Islam.
Apakah di telapak kaki setiap ibu ada surga? Ternyata tidak. Banyak para ibu saat ini yang telapak kakinya berlumuran dosa, yang mengantarkannya masuk ke dalam api neraka.
Banyak para ibu yang memilih meninggalkan anak-anak dan rumah tangganya demi materi dan eksistensi belaka. Sebenarnya mereka bisa di rumah karena suami sudah mencukupi kebutuhan. Namun mereka memilih tetap bekerja dan mengabaikan anak-anaknya.
Bahkan, banyak para ibu yang bekerja dengan posisi yang seharusnya diperuntukkan bagi laki-laki, dilihat dari segi fisik. Lebih miris lagi, banyak yang bekerja tanpa menutup aurat dan berinteraksi yang tidak sepantasnya dengan laki-laki non mahram.
Namun, ada sebagian ibu yang dengan terpaksa keluar dari rumahnya karena menanggung beban nafkah keluarga. Sebenarnya mereka tidak mau bekerja, tapi terpaksa bekerja demi membantu kepala keluarga dalam memenuhi kebutuhan hidup. Akhirnya tidak bisa mengurus dan mendidik sendiri anak-anaknya.
Dari fakta-fakta ini lahirlah generasi-generasi yang rusak dan kehilangan jati diri. Anak-anak tidak lagi menghormati ibunya, bahkan seringkali malah menyakitinya dengan perilaku kemaksiatan. Sengaja atau tidak, peran ibu yang tercampakkan ini telah menghilangkan harumnya surga di telapak kakinya.
Inilah kehidupan negara yang menerapkan sistem kapitalisme. Dimana negara tidak menjamin kesejahteraan rakyatnya. Perempuan yang seharusnya menjalankan fungsinya sebagai ummun wa robbatul bait (ibu dan pengatur didalam rumahnya), akhirnya harus keluar dari rumahnya untuk bekerja. Bahkan menjadi tulang punggung keluarga.
Mulianya Ibu dalam Islam
Perjuangan seorang ibu sangat berat. Dari mulai mengandung, melahirkan, mengasuh, membesarkan, serta mendidik anak-anaknya adalah perjuangan yang tanpa pamrih. Penuh ketulusan dan keikhlasan yang pantas mendapatkan penghormatan dari anak-anaknya. Untuk itulah, Islam sangat memuliakan posisi seorang ibu.
Dari Mu’awiyah bin Haidah Al Qusyairi radhiallahu’ahu, beliau bertanya kepada Nabi, “Wahai Rasulullah, siapa yang paling berhak aku perlakukan dengan baik? Nabi menjawab: Ibumu. Lalu siapa lagi? Nabi menjawab: Ibumu. Lalu siapa lagi? Nabi menjawab: Ibumu. Lalu siapa lagi? Nabi menjawab: ayahmu, lalu yang lebih dekat setelahnya dan setelahnya.” (HR.Al-Bukhari).
Pantaslah Allah SWT akan murka jika seorang anak durhaka kepada kedua orang tuanya. Allah SWT berfirman, “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu-bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan mulia.” (QS al-Isra:23).
Allah SWT berfirman, “Dan Kami (Allah) berwasiat kepada manusia supaya berbuat baik kepada kedua orang tua. Ibunya telah mengandungnya dengan menderita kelemahan di atas kelemahan, yakni terus-menerus dan masa menyusuinya dalam dua tahun. Hendaklah engkau bersyukur kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu.” (QS.Luqman:14).
Butuh Peran Negara
Dalam Islam, negara harus memperhatikan kesejahteraan rakyatnya. Rasulullah SAW bersabda, “Imam (Khalifah) adalah raa’in (pengurus rakyat) dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya” (HR.Al-Bukhari).
Berdasarkan hadist diatas, maka negara harus memantau jika ada keluarga yang tidak mampu memenuhi kebutuhan hidupnya. Negara juga harus menyediakan lapangan pekerjaan bagi para kepala keluarga yang menganggur, dan memberikan santunan pada kepala keluarga yang tidak mampu bekerja secara fisik.
Jika para kepala keluarga ini sudah mampu menafkahi keluarganya secara layak, maka para ibu tidak akan lagi terpaksa untuk bekerja dan meninggalkan fungsinya sebagai ummun wa robbatul bait. Para ibu akan fokus mencetak generasi emas peradaban Islam.
Dalam Islam, perempuan dibolehkan bekerja, dengan syarat tetap menutup aurat secara syar’i dan menjaga interaksinya dengan laki-laki yang bukan mahram. Pekerjaanya pun tidak boleh yang menyalahi kodratnya sebagai perempuan. Karena memang Allah SWT menciptakan laki-laki dan perempuan dengan kekuatan fisik yang berbeda.
Surga dibawah telapak kaki ibu. Tapi tidak semua ibu bisa mewujudkannya. Hal ini karena diterapkannya sistem kapitalisme di negara ini. Hanya dengan diterapkan sistem Islam, yang akan membuat para ibu mampu menjalankan perannya sebagai ummun wa robbatul bait, dan menjadi surga bagi anak-anaknya.(***)













