WAISAI – Pelatihan pembuatan kerajinan tangan di hari ketiga oleh Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Provinsi Papua Barat Daya yang digelar di Raja Ampat ini, untuk meningkatkan keterampilan pengrajin lokal dan memanfaatkan potensi pariwisata yang tinggi di wilayah tersebut.

Pelatihan yang dilaksanakan kali ini menekankan pentingnya inovasi dan pemanfaatan bahan lokal untuk kesejahteraan keluarga.
Pemateri sekaligus pengrajin dari Denpasar, Bali, I Made Kanan Jaya, menyampaikan bahwa pelatihan ini bersifat berkelanjutan. Selain mengajarkan teknik dasar, fokus utama adalah memberi tambahan ilmu yang relevan dengan kebutuhan pariwisata di Raja Ampat, termasuk pembuatan pernak-pernik seperti kalung, gelang, dan kerajinan lampu.
“Tujuan utamanya adalah supaya ibu-ibu bisa mendatangkan uang untuk kesejahteraan keluarganya,” ujar I Made Kanan Jaya.
Made juga menegaskan bahwa kunci sukses dalam kerajinan adalah inovasi. Pengrajin tidak bisa hanya membuat produk yang itu-itu saja, tetapi harus berkreasi berdasarkan permintaan dan kemauan tamu atau pasar.
I Made Kanan Jaya mengatakan kekagumannya terhadap potensi bahan baku di Raja Ampat, khususnya limbah-limbah Kerang yang bisa dimanfaatkan untuk dibuat berbagai bentuk kerajinan.

Ia menyarankan agar produk yang dihasilkan tidak terbatas hanya pada pernak-pernik kecil, tetapi juga merambah ke barang-barang seperti tempat rokok atau tempat sabun.Selain memanfaatkan limbah, penting juga untuk menggali ciri khas budaya Raja Ampat, termasuk adanya ukiran lokal, agar produk memiliki keunikan dan nilai jual yang berbeda.
Mengenai tips agar pengrajin Raja Ampat bisa bersemangat seperti pengrajin di Bali, I Made Kanan Jaya memberikan tiga kunci utama yaitu Pengrajin harus rajin dan ulet, kemudian Sikap pantang menyerah ditekankan agar selalu berkreasi, bahkan memanfaatkan bahan yang dianggap tidak bernilai seperti daun atau akar.
“Meskipun mendapat bantuan pemerintah, pengrajin juga harus memiliki ide untuk menambah alat-alat yang diperlukan secara mandiri agar bisa terus maju,” katanya.
Dikatakan Made bahwa Peralatan yang digunakan untuk pelatihan saat ini didatangkan langsung dari Bali, namun diharapkan ke depannya inisiatif mandiri dari ibu-ibu dapat menunjang kemajuan kerajinan mereka.
Sementara itu, Salah satu peserta dari Kelompok 6, Elisabeth Sauyai menyampaikan ucapan terima kasih kerena telah dilibatkan dalam kegiatan tersebut.
“Saya merasa senang. Karena selama ini Kami tidak pernah membuat seperti kerajinan ini. Sekarang menambah ilmu baru untuk kami gunakan agar dijual,” katanya.(zia)














