Oleh: Tutus Riyanti
(The Voice of Muslimah Papua Barat Daya)
Tidak terasa kita sudah berada pada penghujung bulan Ramadhan. Sebentar lagi kita akan berpisah dengan Ramadhan yang penuh keberkahan. Banyak kaum muslim yang mulai sibuk menyiapkan pernak-pernik menyambut Hari raya Idulfitri atau lebaran. Membuat kue, menyiapkan masakan lebaran, mengecat serta mengganti perabot rumah, membeli baju baru, dan berburu aneka keperluan lainnya untuk menyambut Idulfitri.
Seharusnya, pada malam-malam terakhir Ramadhan mempergunakan waktu sebaik mungkin untuk meningkatkan ibadah kepada Allah SWT. Memohon pengampunan kepada Allah agar terbebas dari dosa dan api neraka, menjemput kedatangan malam lailatulqadar, hingga bisa mendapatkan predikat takwa di sisi-Nya.
Menyambut Idulfitri dengan Gembira
Hari raya Idulfitri atau hari lebaran memang momen yang sangat penting bagi kaum muslim. Sebab, di dalam Islam, hanya ada dua hari raya, yakni Idulfitri dan Iduladha. Keduanya dihubungkan dengan dua ibadah besar. Idulfitri dihubungkan dengan puasa Ramadhan. Sedangkan Iduladha dihubungkan dengan ibadah haji. Oleh karenanya, kaum muslim harus gembira dan bahagia menyambut kedatangan hari istimewa ini.
Sahabat Anas bin Malik ra. menceritakan, ketika Nabi SAW tiba di Madinah, masyarakat Madinah memiliki dua hari yang mereka rayakan dengan bermain. Kemudian Nabi SAW bertanya, “Dua hari apakah ini?” Mereka menjawab, ”Kami merayakannya dengan bermain pada dua hari ini ketika zaman jahiliah.” Kemudian Nabi SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah telah memberikan ganti kepada kalian dengan dua hari yang lebih baik, Idulfitri dan Iduladha.” (HR Ahmad, Nasai, Abu Daud).
Berbagai aktivitas kaum muslim dalam menyambut Idulfitri memang macam-macam. Bahkan, beberapa di antaranya sudah menjadi tradisi turun-temurun. Pada malam Idulfitri atau dikenal sebagai malam takbiran, orang-orang dari berbagai kalangan, baik anak-anak, remaja, atau dewasa, keliling kampung beramai-ramai mengumandangkan takbir, sambil memukul beduk dan membawa obor.
Ada juga yang mengadakan konvoi di jalanan dengan menggunakan mobil, motor, atau kendaraan hias. Aktivitas lain yang sering dilakukan yaitu menyulut petasan atau kembang api.
Kaum muslim memang harus gembira menyambut hari raya Idulfitri. Namun, yang harus diperhatikan adalah jangan sampai terlalu sibuk dengan persiapan untuk menyambut hari raya Idulfitri, tapi akhirnya tidak punya waktu lagi untuk beribadah pada akhir Ramadhan. Alangkah ruginya jika keluar dari bulan Ramadhan, tapi tidak mendapatkan rahmat, ampunan, tidak terbebas dari api neraka, serta tidak meraih gelar takwa dari Allah SWT.
Rasulullah SAW bersabda, “Adalah Ramadhan, awalnya adalah rahmat, pertengahannya adalah ampunan, dan akhirnya adalah pembebasan dari siksa api neraka.” (HR.Al-Baihaqi).
Amalan Menjelang Idulfitri
Menyambut Idulfitri, artinya kaum muslim akan berpisah dengan Ramadhan yang penuh keberkahan. Maka, seharusnya pada malam-malam terakhir Ramadhan menggunakan waktu sebaik mungkin untuk meningkatkan ibadah kepada Allah SWT. Hal ini berdasarkan hadis: “Dari Aisyah RA, Rasulullah SAW sangat bersungguh-sungguh (beribadah) pada sepuluh hari terakhir (bulan Ramadhan), melebihi kesungguhan beribadah di selain (malam) tersebut.” (HR. Muslim).
Mengoptimalkan ibadah di sepuluh hari terakhir Ramadhan, salah satunya tujuannya yaitu hendak meraih malam lailatulqadar. Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa melaksanakan salat pada lailatulqadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR Bukhari).
Tak lupa yang harus dipersiapkan adalah membayar zakat ftrah. Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Rasulullah SAW mewajibkan zakat fitri untuk menyucikan orang yang berpuasa dari bersenda gurau dan kata-kata keji, dan juga untuk memberi makan orang miskin. Barang siapa yang menunaikannya sebelum salat, maka zakatnya diterima dan barang siapa yang menunaikannya setelah salat maka itu hanya dianggap sebagai sedekah di antara berbagai sedekah.” (HR Abu Daud dan Ibnu Majah. Hasan).
Di penghujung Ramadhan ditutup dengan mengumandangkan takbir, dan tak lupa shalat Idulfitri. Takbir ini disunahkan untuk dikumandangkan sejak berangkat dari rumah hingga pelaksanaan shalat Idulfitri. Dalam suatu riwayat disebutkan, “Nabi SAW biasa keluar hendak shalat pada hari raya Idulfitri, lantas beliau bertakbir sampai di lapangan dan sampai shalat hendak dilaksanakan. Ketika shalat hendak dilaksanakan, beliau berhenti dari bertakbir.”
Terakhir, kaum muslim harus saling mendoakan agar amalan pada bulan Ramadhan diterima oleh Allah SWT. Dari Jubair bin Nufair, ia berkata bahwa jika para sahabat Rasulullah SAW berjumpa dengan hari id (Idulfitri atau Iduladha), satu sama lain saling mengucapkan, “Taqabbalallahu minna waminka (Semoga Allah menerima amalku dan amalmu).” Al Hafiz Ibnu Hajar mengatakan bahwa sanad hadis ini hasan.
Sebagai bagian dari kaum muslim, marilah kita sambut dengan penuh kegembiraan datangnya hari raya Idulfitri. Semoga amal ibadah kita pada bulan Ramadhan ini diterima oleh Allah SWT, dan semoga masih dipertemukan dengan bulan Ramadhan tahun berikutnya. Aamiin.(***)













