Bagi masyarakat Malasigi, perubahan dari lampu botol ke panel surya bukan hanya pergantian sumber penerangan. Listrik yang tersedia sepanjang hari membuka ruang bagi aktivitas warga dan mendukung kenyamanan pengunjung di kampung wisata tersebut. Anak-anak kini belajar tidak perlu menggunakan lampu botol.
Oleh, Norma Fauzia Muhammad
Hemat Jutaan Rupiah, Kini Warga Nikmati Listrik 24 Jam
MALAM hari di Kampung Adat Malasigi, Distrik Klayili, Kabupaten Sorong, Provinsi Papua Barat Daya, kini tidak lagi sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Warga yang dahulu mengandalkan lampu botol dan pelita berbahan bakar minyak tanah bahak lilin untuk menerangi rumah, sekarang sudah menikmati listrik dari Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang merupakan bantuan dari PT Pertamina EP Papua Field.
Perubahan ini tidak hanya membuat rumah lebih terang selama 24 jam, tetapi juga membantu menunjang aktivitas masyarakat dan pengembangan kampung wisata.
Selain itu, perubahan itu juga menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari yang kini berbeda dibandingkan masa ketika anak-anak Malasigi masih harus belajar dengan cahaya lilin dan lampu botol.

Delita Korina Komigi, siswa kelas 6 SD berusia 11 tahun, mengingat kondisi ketika perlengkapan sekolah masih terbatas. Delita bercerita bahwa dahulu dirinya belajar dengan penerangan seadanya, sementara seragam dan perlengkapan sekolah belum lengkap.
“Dulu kita belajar pakai lilin atau lampu botol. Tapi kita sekarang sudah tidak pakai lampu botol lagi,” katanya kepada Radar Sorong, Senin (27/7/2026).
“Seragam juga tidak lengkap, sepatu tidak ada. Kaki kosong saja ke sekolah. Buku hanya satu dan pensil kecil sekali e,” sambungnya.
Delita mengatakan bahwa bantuan yang diterima dari PT Pertamina EP Papua Field turut membantu kebutuhan sekolahnya. Tas dan alat tulis menjadi perlengkapan yang sangat berarti bagi dirinya untuk mengikuti kegiatan belajar.
“Kita dikasih tas, buku dan pensil. Terima kasih om dan tante di Pertamina, Tuhan berkati.Amin,” ungkap Delita dengan senyum bahagia.
Tokoh Adat Kampung Malasigi, Stefanus Fami mengatakan bahwa masyarakat sudah lama menghadapi kesulitan terhadap penerangan. Pria paruh baya itu masih mengingat bagaimana warga harus menggunakan lampu sederhana untuk menerangi rumah pada malam hari jauh sebelum Pertamina hadir membantu menyediakan fasilitas listrik di kampung mereka.
“Sebelum mereka (Pertamina) masuk, kita susah air dan listrik. Mereka masuk itu yang katong (kami) dapat usul (mengusulkan) air bersih dan lampu (listrik). Dulu katong pakai pelita lampu botol, setengah mati (sulit). Nanti mereka datang baru bantu katong,” katanya.
Stefanus mengatakan bahwa bantuan listrik merupakan salah satu hal yang membawa perubahan dan paling dirasakan oleh masyarakat. Selain melancarkan aktivitas, listrik juga menunjang wisata di kampung tersebut.
“Kalau itu dari Pertamina. Kalau dari PLN belum masuk, baru usul kemarin tahun 2025,” ungkapnya.

Sementara itu, Ketua Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Malasigi, Manase Fami, masih mengingat bagaimana warga harus mengeluarkan biaya besar hanya untuk mendapatkan penerangan. Sebelum bantuan datang, minyak tanah menjadi kebutuhan rutin yang menguras pengeluaran masyarakat. Kini, setelah adanya kolaborasi dengan PT Pertamina EP Papua Field, penerangan dapat dinikmati selama 24 jam.
Manase mengatakan, dahulu masyarakat harus mengeluarkan uang hingga jutaan rupiah setiap bulan untuk membeli minyak tanah. Penggunaan pelita menjadi bagian dari kehidupan warga sebelum listrik tenaga surya tersedia di kampung tersebut.
“Dulu kan kami pakai pelita. Pelita tiap hari itu jadi tiap bulan itu bisa kami keluarkan uang hanya untuk beli minyak tanah. Minyak tanah itu bisa Rp5 juta hingga Rp6 juta memang dalam satu bulan,” katanya.
Manase mengaku bersyukur karena bantuan yang diberikan melalui kolaborasi dengan Pertamina telah membawa perubahan yang dirasakan langsung oleh masyarakat. Tidak lagi bergantung pada pelita, warga kini dapat menikmati penerangan pada malam hari hingga siang hari ketika dibutuhkan.
“Tapi sekarang, Puji Tuhan karena dari Pertamina berkolaborasi dengan kami untuk membangun, sekarang lampu 24 jam. Sampai hari ini,” ujarnya.
Di balik perubahan penerangan tersebut, ada warga yang ikut menjaga, karena pengelolaan dan perawatan menjadi bagian penting agar pemanfaatan energi surya tidak berhenti pada pemasangan fasilitas tapi terus berfungsi.

Sebagai pengelola PLTS di Kampung Malasigi, Edison Fami turut memastikan fasilitas tersebut dapat dimanfaatkan masyarakat. Dirinya menjadi bagian dari kelompok pengelola yang tidak hanya menerima manfaat program, tetapi juga menyiapkan kemampuan warga untuk merawat dan mengelola teknologi yang telah diberikan.
Edison telah mengikuti sertifikasi kompetensi operator PLTS yang diselenggarakan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) RI. Pengetahuan yang diperolehnya kemudian dibagikan kepada masyarakat Malasigi agar warga memiliki pemahaman mengenai pengelolaan dan perawatan energi terbarukan.
Manfaat penerangan itu juga dirasakan dalam kehidupan sehari-hari. Edison mengatakan bahwa, sejak adanya bantuan Pertamina EP Papua Field, warga dan pengunjung tidak lagi menghadapi persoalan penerangan seperti sebelumnya. Lanjutnya, dalam catatan kunjungan buku tamu misalnya, keluhan terkait air dan listrik yang dahulu kerap muncul kini tidak lagi menjadi persoalan utama.
“Jadi mereka (pengunjung) cuma datang tulis di buku tamu, kalau air bersih, penerangan terjamin, lampu aktif 24 jam. Jadi kalau dulu kita memang banyak kendala. Jadi pastikan tamu mengeluh masalah penerangan dan airnya kotor,” kata Edison.
Sementara itu, Field Manager PT Pertamina EP Papua Field, Ardi, menjelaskan bahwa bantuan listrik tenaga surya berangkat dari kebutuhan masyarakat dan keluhan wisatawan ketika kampung masih mengandalkan genset. Sebelumnya, genset hanya dinyalakan pada sore hingga malam hari sehingga pada pagi sampai sore hari warga tidak memperoleh penerangan dari sumber tersebut. Suara mesin juga mengganggu kenyamanan pengunjung yang datang ke Malasigi.

Ardi mengatakan, Pertamina melihat bahwa pengembangan ekowisata harus didukung sarana dan prasarana yang memadai. Karena itu, program PLTS diajukan melalui program Pertamina secara terintegrasi agar kebutuhan listrik di kampung dapat terpenuhi.
“Nah, ini juga menjadi risiko ataupun menjadi masalah bagi wisatawan di mana mereka terganggu dengan suara berisik, suara berisik dari genset itu sendiri. Akhirnya kita kebetulan memang One Pertamina, di Pertamina Persero sendiri ada program untuk PLTS, pembangkit listrik tenaga surya. Kita ajukan ke Persero ke pusat, akhirnya disetujui untuk salah satu program PLTS ini juga dikembangkan di Kampung Adat Malasigi,” kata Ardi.
Kata Ardi, keberadaan PLTS juga memberi manfaat lain karena listrik yang dihasilkan dapat digunakan untuk mengoperasikan pompa air. Sebelumnya, pompa tersebut membutuhkan bahan bakar minyak sehingga masyarakat harus mengeluarkan biaya tambahan untuk menjalankannya. Setelah terhubung dengan listrik tenaga surya, kebutuhan bahan bakar untuk pompa dapat ditekan.
Menurutnya, masyarakat Malasigi juga mampu mengelola fasilitas yang diberikan sehingga manfaatnya dapat dirasakan dalam kehidupan sehari-hari. Ia berharap dukungan yang telah diberikan dapat menjadi bekal bagi masyarakat untuk semakin mandiri, dengan pendampingan yang tetap berjalan sesuai kebutuhan.
“Dan ini luar biasa, efek domino terjadi. Pada saat kita berhasil menginstal PLTS di Kampung Adat Malasigi, efeknya ke yang lain-lain. Terutama yang awalnya kita menggunakan pompa air itu menggunakan BBM, akhirnya menggunakan listrik dari PLTS. Itu hematnya luar biasa, karena masyarakat tidak perlu lagi beli BBM, namun sudah menggunakan jaringan dari listrik panel tenaga surya,” ujarnya.
Ardi menambahkan bahwa PLTS yang tersedia di Malasigi memiliki kapasitas 8.700 watt dan dimanfaatkan untuk mendukung kebutuhan listrik di kampung, termasuk mengoperasikan pompa air. “Dengan begitu, manfaatnya tidak hanya dirasakan dari penerangan, tetapi juga mendukung fasilitas dasar yang diperlukan masyarakat dan pengunjung,” pungkasnya.(*)









