AIMAS – Berbagai upaya dilakukan untuk menekan laju pertumbuhan angka stunting terus dilakukan oleh pemerintah. Salah satu upaya yang dianggap jitu adalah melalui pendekatan pemberdayaan masyarakat di kampung keluarga berkualitas (KB).
Koordinator Program Manager Satgas Percepatan Penurunan Stunting Provinsi Papua barat, Benyamin Lado menerangkan, upaya tersebut sangat penting dilakukan. Karena sebenarnya masyarakat di tingkat kampung memiliki potensi lebih besar untuk berkembang menjadi mandiri.
“Di dalam kampung berkualitas, seluruh keluarga harus diedukasi, diberdayakan agar mereka tumbuh dan berkembang menjadi mumpuni baik dari segi kesehatan maupun ekonomi demi pembangunan daerah,” terangnya.
Pendekatan melalui kampung keluarga berkualitas ini dilakukan dengan memberikan edukasi secara maksimal kepada setiap keluarga. Sehingga setiap keluarga mampu menggali dan mengembangkan potensi-potensi daerah untuk pemenuhan asupan gizi keluarganya.
Namun, lanjut Benyamin Lado, untuk mencapai pemenuhan pendekatan tersebut dibutuhkan kolaborasi dan kerja secara penta helix seluruh elemen. Termasuk lembaga-lembaga terkait maupun masyarakat secara langsung. Sehingga, maksud dan tujuan dari upaya tersebut bisa tercapai secara maksimal pula.
“Karena penanganan kasus stunting membutuhkan waktu dan tidak bisa dilakukan oleh instansi tertentu saja melainkan diperlukan kerja secara penta helix dengan melibatkan banyak pihak,” tukasnya.
Kepada Dinas P2KBP3A Kabupaten Sorong, Ferry Fatem menambahkan bahwa dalam rangka penurunan stunting, Dinas P2KBP3A bertindak sebagai koordinator penanganan stunting di daerah. Tugasnya adalah untuk menjalin koordinasi dengan berbagai pihak serta OPD terkait untuk mendorong maksimalisasi penurunan stunting.
Disebutkan Ferry bahwa target penurunan stunting di tahun 2024 nanti harus menurun 14 persen dari total kasus yang ada. Saat ini, lanjut Ferry angka kasus stunting sudah mulai bergerak menurun, namun belum dapat dipastikan persis.
“Penurunan sudah ada, tapi data pastinya belum bisa kami sampaikan karena masih diaudit. Mungkin akan kami sampaikan ketika hasil audit sudah clear,” ujar Ferry.
Yang jelas, lanjut Ferry, pencegahan dan penurunan stunting ini memerlukan proses panjang. Sehingga upaya dalam bentuk perawatan tidak hanya dilakukan kepada pasien penderita stunting. Melainkan dimulai dari calon ibu, bahkan calon pengantin. (ayu)














