Ardi : Kalau begini (ada SPBU), Hidup Jadi Ringan. Tidak Pusing Lagi Cari Bensin
Di antara birunya laut dan hijaunya hutan Raja Ampat, sebuah SPBU kecil berdiri tegak di Saonek yang berarti. Di tempat inilah harapan sederhana tumbuh dari tukang ojek yang kini tak lagi takut kehabisan bensin, hingga sopir kampung yang tak perlu menempuh puluhan kilometer hanya untuk mengisi bahan bakar.
Oleh Norma Fauzia Muhammad
DI TEPI jalan Napirboy, Kelurahan Saonek, Raja Ampat, suara deru mesin ojek terdengar bersahutan. Di antara mereka, seorang tukang ojek Ardi yang saban hari mengantar penumpang dan tamu dari homestay tampak lega usai mengisi bensin di SPBU Kompak BBM Satu Harga. Senyum lebar mengembang di wajahnya.
“Kalau di sini (SPBU) kita puas, kita tidak rugi. Kalau beli eceran, Rp20.000 cuma setengah botol air mineral, tidak sampai satu liter. Kalau di sini, pas satu liter. Kita bisa isi full tangki,” ujarnya, sembari menepuk motornya penuh rasa syukur.

Bagi Ardi yang tinggal di Waisai Kota, kehadiran SPBU ini lebih dari tempat mengisi bahan bakar. Dirinya menyebutnya sebagai “penolong” para pencari nafkah di jalanan.
“Saya ada tamu, disuruh jemput di homestay. Kalau kehabisan bensin, tinggal singgah di sini. Dulu, kalau tidak ada SPBU, motor bisa mati di jalan,” katanya sambil tertawa kecil mengingat masa-masa sulit.
Di pagi hari itu, Ardi kembali menyalakan motornya, bersiap mengantar penumpang ke dermaga. Tangki penuh, semangatnya pun ikut terisi.
“Kalau begini (ada SPBU), hidup jadi ringan. Tidak pusing lagi cari bensin,” katanya sebelum meninggalkan SPBU dengan pesan sederhana tentang arti besar kehadiran energi di pelosok negeri.

Tak jauh dari situ, salah satu sopir angkutan penumpang asal Saporkren, Yesaya Marino merasakan hal yang sama. Ia membawa warga dari kampung ke Waisai atau Warsambin.
Menurutnya, Dulu perjalanan terasa berat bukan karena jauhnya jarak, tapi karena sulitnya mendapatkan BBM dengan harga wajar.
“Sebelumnya kami beli di masyarakat, pakai jerigen. Harganya Rp15.000 sampai Rp20.000 per liter. Sekarang Rp10.000 saja, sama kayak di kota. Itu sangat membantu,” ujar Yesaya dengan mata berbinar. Yesaya berharap kehadiran SPBU seperti ini tak berhenti di Saonek saja.
“Kalau bisa tambah lagi. Biar masyarakat tidak setengah mati cari minyak,” katanya.
SPBU Kompak BBM Satu Harga Napirboy yang dikelola PT Lima Putra YEF berdiri sejak 2021. Berjarak sekitar 7,4 kilometer dari Pelabuhan Waisai Raja Ampat, stasiun ini melayani warga di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

Supervisor SPBU Kompak BBM Satu Harga Napirboy, Ardiansyah, mengatakan antusiasme warga sangat tinggi.“Mereka senang, karena tidak perlu jauh-jauh ke kota,” katanya.
Dikatakan bahwa Dalam sehari, SPBU ini menyalurkan hingga 1.000 liter Pertalite, sementara Bio Solar hanya untuk kendaraan berbarcode, seperti truk pengangkut logistik.
“Kami buka setiap hari dari jam 8 pagi sampai 8 malam, melayani BBM jenis Pertalite, Pertamax, dan Bio Solar,” katanya.
Tantangan utama, katanya, adalah kondisi wilayah yang belum seramai kota. Namun, semangat untuk melayani tetap menyala.

Sales Branch Manager Papua Barat I PT Patra Niaga, Irsan Firdaus Gasani, menjelaskan bahwa SPBU seperti ini merupakan bagian dari program BBM Satu Harga yang ditugaskan oleh pemerintah.
“Setiap tahun selalu ada penambahan titik baru. Di Raja Ampat sendiri kini ada 3 SPBU dan 1 SPBU Nelayan. Dengan BBM Satu Harga, masyarakat kini lebih mudah dan terjangkau mengakses energi,” katanya.
Sementara itu, Area Manager Communication, Relations & CSR Regional Papua Maluku PT Pertamina Patra Niaga, Ispiani Abbas, menegaskan komitmen perusahaan dalam menjaga ketahanan energi di wilayah timur Indonesia.
“Kami memastikan ketersediaan BBM secara berkelanjutan hingga ke daerah 3T. Meski medan sulit, cuaca ekstrem, dan biaya logistik tinggi, kami tetap berkomitmen menjalankan penugasan ini demi pemerataan energi di seluruh pelosok negeri,” ujarnya.
Ispiani mengatakan bahwa Pertamina Patra Niaga Regional Papua Maluku pun menerapkan strategi rantai suplai multimoda yaitu darat, laut, hingga udara untuk menjangkau wilayah paling terpencil. Dari kapal tanker, kapal kecil antar-pulau, hingga mobil tangki, semua bergerak memastikan warga tak lagi kesulitan bahan bakar.

Menyikapi hal tersebut, Gubernur Papua Barat Daya, Elisa Kambu, menyampaikan apresiasi tinggi kepada PT Pertamina atas realisasi program strategis nasional, khususnya pembangunan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Bahan Bakar Minyak (BBM) Satu Harga di wilayahnya.
Gubernur menjelaskan bahwa secara spesifik menyoroti dampak positif program ini bagi masyarakat di Kabupaten Raja Ampat, yang dikenal sebagai salah satu daerah yang memilki ribuan pulau Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T).
“Pertama itu puji Tuhan ya, untuk program-program strategis nasional seperti Pembangunan SPBU BBM Satu Harga. Saya sebagai Gubernur Papua Barat Daya atas nama masyarakat yang menikmati fasilitas yang disediakan oleh pihak Pertamina. Saya apresiasi, rasa hormat, dan sekaligus terima kasih kepada PT Pertamina,” kata Gubernur kepada Radar Sorong, Selasa (28/10/2025) di Ruang Kerjanya Lantai 2 Kantor Gubernur Papua Barat Daya.
Gubernur Elisa juga mengatakan bahwa kehadiran SPBU BBM Satu Harga sangat vital mengingat karakteristik geografis Raja Ampat yang didominasi perairan.
“Sebagaimana kita ketahui bahwa memang di Raja Ampat itu semua transportasi menggunakan transportasi sungai. Dan itu membutuhkan bahan bakar yang cukup tinggi kebutuhannya, dan harga yang terjangkau. Maka, kehadiran pangkalan atau ya SPBU BBM Satu Harga itu sangat membantu,” jelasnya.
Menurut Gubernur bahwa Raja Ampat, dengan ribuan pulau, termasuk dalam kategori daerah 3T. Kehadiran negara dalam pemenuhan kebutuhan dasar, termasuk energi, adalah sebuah kewajiban.
“Raja Ampat ini termasuk salah satu daerah 3T. Karena memang kita punya pulau ribuan. Dan untuk menjangkau, walaupun penduduknya hanya sedikit, tapi ya kewajiban negara harus hadir di sana. Nah, itu sebabnya kalau dengan ketersediaan BBM Satu Harga itu juga akan membantu masyarakat di sana,” tambahnya.
Lebih lanjut, Gubernur Elisa Kambu menyatakan bahwa dampak terbesar program ini adalah pada peningkatan pendapatan ekonomi masyarakat. “Kehadiran BBM Satu Harga secara langsung menunjang transportasi laut yang merupakan urat nadi kehidupan di Raja Ampat,” katanya.
Gubernur menjelaskan bahwa Dengan harga BBM yang terjangkau dan ketersediaan yang terjamin, kata Gubernur bahwa upaya masyarakat untuk meningkatkan pendapatan menjadi lebih mudah. Para nelayan, misalnya, dapat membawa dan menjual hasil tangkapan mereka ke pasar yang lebih luas. Hal yang sama berlaku bagi para sopir angkutan umum dan tukang ojek yang bergantung pada harga bahan bakar yang stabil.
“Ini yang penting. Dengan hadirnya SPBU BBM Satu Harga bagaimana upaya masyarakat untuk peningkatan pendapatan ekonomi mereka menjadi mudah. Seperti nelayan, semua hasil usaha tangkapan mereka bisa dibawa dan di jual ke masyarakat yang lain. Begitu juga dengan para sopir angkutan umum dan tukang ojek,” tegasnya.
Meskipun mengapresiasi harga yang seragam, Gubernur menitipkan harapan agar Pertamina dapat memastikan kelancaran distribusi BBM.
“Kalau sudah ada SPBU BBM Satu Harga, yang kita harapkan distribusi lancar. BBM yang tepat waktu. Kita tidak ingin kalau terjadi kelangkaan di sana, walaupun BBM Satu Harga, tapi kalau kelangkaan pasti membuat orang akan mencari BBM susah dan akan harga tinggi,” katanya.
“Tapi kalau ketersediaan BBM-nya cukup, tepat waktu, jadwal yang pengisiannya tepat waktu, harga bisa dikendalikan. Nah, itu kita harapkan seperti itu,” pungkasnya.

Kemudian, Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata Ekonomi Kreatif Provinsi Papua Barat Daya, Yusdi Lamatenggo mengatakan bahwa program BBM Satu Harga atau SPBU Satu Harga yang dijalankan Pertamina juga memiliki peran besar dalam mendukung pariwisata di daerah kepulauan seperti Raja Ampat.
“Isu harga BBM sangat penting karena berpengaruh pada biaya transportasi dan operasional usaha wisata. Dengan adanya SPBU satu harga, masyarakat dan wisatawan tidak dirugikan oleh permainan harga,” jelasnya, Rabu (29/10).
Sekarang, di balik suara deru mesin dan senyum warga yang kembali lepas, SPBU Kompak BBM Satu Harga di Saonek bukan hanya bangunan dengan pompa bahan bakar. SPBU menjadi simbol kehadiran negara di tanah ujung timur menyalakan harapan di setiap liter bensin yang menggerakkan roda kehidupan masyarakat Raja Ampat.(*)











