SORONG-Menteri Investasi Indonesia/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal, Bahlil Lahadalia,SE mengatakan bahwa Freeport bisa membangun smelter di daerah Fakfak atau di Timika. Meski begitu, kata Bahlil boleh di mana saja, asal di wilayah Papua.
Sebelumnya, pada Rapat Koordinasi Teknis bersama Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya terkait Investasi, Bahlil menegaskan bahwa Kota Sorong merupakan daerah yang menjadi perkembangan ekonomi kedepannya di wilayah Papua. Yang lebih maju dibandingkan daerah lain. Sehingga menurutnya, Sorong tidak butuh pembangunan smelter Freeport.
“Negara dalam desain ekonomi itu ada namanya pertumbuhan ekonomi wilayah. Papua Barat Daya khususnya Sorong ini mohon maaf, tanpa ada smelter dari Freeport, itu pertumbuhannya sudah bagus,” tegasnya.
Industri Jasa di Sorong, kata Bahlil luar biasa sekali jika dibandingkan dengan daerah di wilayah Papua.
“Jujur-jujur saja hotel-hotel yang saya lihat, kaget juga saya. Dulu waktu saya nikah di sini hotel cuma satu saja yang bagus. Sekarang kita bisa berkali-kali hotel yang sudah banyak disini,” ungkapnya.
“Mohon maaf ya, kalau kita apple to apple (membandingkan) dengan Manokwari, ini sekarang pembangunannya lebih cepat,” sambungnya.
Bahlil menambahkan bahwa Kota Sorong sudah lebih baik dibandingkan daerah lain yang perlu dikembangkan.”Jadi menurut saya adalah di sini sudah bagus. Jadi kita kembangkan daerah-daerah yang belum bagus supaya ada pemerataan,” katanya.
“Contoh di Fakfak kita bikin Pabrik Pupuk, tidak di Bintuni karena disana sudah mendapatkan pendapatan dana bagi hasil dari gas. Fakfak belum dapat, hilirisasi di Fakfak,” katanya lagi.
Ia mengatakan, Jika suatu saat smelter Freeport dibangun di Fakfak, hal tersebut karena memang pada waktu dulu Timika merupakan kecamatan Fakfak.
“Jadi dia satu aliran dulu. Tapi hingga saat ini tempatnya dimana dibangun smelter Freeport itu kita belum memutuskan, bisa di Timika, bisa di Sorong, bisa di Jayapura. Karena studi kelayakannya masih jalan,” pungkasnya.(zia)














