Oleh: Tutus Riyanti
(The Voice of Muslimah Papua Barat Daya)
Kita menyadari begitu berat ujian yang dihadapi oleh kaum muslim saat ini, yaitu masifnya serangan ide-ide kufur yang berasal dari Barat. Keimanan seorang muslim pun dipertaruhkan untuk menghadapinya. Padahal keimanan ialah benteng terakhir seorang muslim. Keimanan laksana jantungnya setiap muslim.
Bagaimana mungkin seorang muslim merasa tenang saat menjalankan kemaksiatan? Bagaimana mungkin seorang muslim tidak merasa takut Allah akan marah, jika dia tidak menjalankan perintah dari Allah? Bagaimana mungkin seorang muslim berdiam diri ketika keimanannya dirusak dengan berbagai isme (sekularisme, sinkretisme, pluralisme, dll)?
Padahal Allah SWT telah mengingatkan kita dalam Al-Qur’an, “Maka barang siapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Tuhannya hendaklah dia beramal saleh dan tidak mempersekutukan sesuatu apapun dengan-Nya dalam beribadah kepada-Nya.” (QS.Al-Kahfi:110).
Dalam surah yang lain, Allah menegaskan, “Dan sungguh telah Kami utus kepada setiap umat seorang Rasul yang menyerukan ‘Sembahlah Allah dan jauhilah tagut (sesembahan selain Allah).’” (QS.An Nahl:36).
Seorang muslim yang tidak memiliki keimanan yang benar, sangat rawan termakan oleh berbagai macam keraguan dan kerancuan pemikiran. Penyimpangan dari keimanan yang benar merupakan sumber petaka dan bencana bagi kaum muslim. Oleh karena itu, berhati-hatilah dengan berbagai ide dan pemikiran yang datangnya bukan dari Islam.
Keimanan Membutuhkan Pengorbanan
Keimanan bukanlah sesuatu yang mudah untuk dijaga. Untuk itu, keimanan haruslah diperjuangkan agar tetap menjadi pondasi seorang muslim. Seorang muslim juga harus berani mengorbankan apa yang dimiliki, demi membuktikan keimanannya. Baik waktu, tenaga, pikiran, harta kekayaan, dll. Hal ini adalah cerminan dari keimanan dan ketakwaan yang ada pada diri seorang muslim.
Dengan demikian, mereka yang berjuang di jalan Allah akan meraih kemenangan besar. Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang mukmin, baik diri maupun harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah, sehingga mereka membunuh atau terbunuh, (sebagai) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan Al-Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya selain Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu dan demikian itulah kemenangan yang agung.” (QS.At-Taubah:111).
Seorang muslim juga bisa bercermin pada Ibunda Khadijah ra. Saat Rasulullah SAW bertanya, “Adakah engkau menyesal bersuamikan aku, Muhammad? Dahulu engkau wanita bangsawan, mulia, hartawan, tetapi hari ini engkau telah dihina orang. Semua orang telah menjauh darimu. Seluruh harta kekayaanmu habis. Adakah engkau menyesal wahai Khadijah bersuamikan aku, Muhammad?”
Ibunda Khadijah ra. menjawab, “Wahai suamiku, wahai Nabi Allah! Bukan itu yang aku tangiskan. Dahulu aku memiliki kemuliaan, kemuliaan itu aku serahkan untuk Allah dan Rasul-Nya. Dahulu aku punya kebangsawanan, aku serahkan itu untuk Allah dan Rasul-Nya. Dahulu aku memiliki harta kekayaan, seluruh harta itu pun telah aku serahkan untuk Allah dan Rasul-Nya. Wahai Rasulullah, sekarang aku tidak punya apa-apa lagi.
Namun, engkau masih terus memperjuangkan agama ini. Wahai Rasulullah, sekiranya aku telah mati, sedangkan perjuanganmu itu belum selesai. Sekiranya engkau hendak menyeberangi lautan, sekiranya engkau hendak menyeberangi sungai, dan engkau tidak menjumpai jembatan atau pun rakit. Maka galilah kuburku, engkau ambil tulang-belulangku. Jadikanlah rakit untuk menyeberangi sungai itu agar engkau dapat bertemu dengan manusia. Ingatkan mereka tentang dosa dan Allah. Ingatkan mereka kepada yang hak. Ajaklah mereka kepada Islam, wahai Rasulullah.”
Coba kita bayangkan sejenak. Seorang Rasul yang agung dan seorang istri yang mulia. Keduanya berpelukan sambil menangis memikirkan agama ini, Islam dan kaum muslim. Begitu besar perjuangan Ibunda Khadijah ra., rela berkorban segalanya untuk membantu perjuangan suami tercinta. Berkorban untuk umat manusia karena Allah.
Para sahabat Rasul pun mengorbankan segalanya, bahkan jiwa mereka. Para sahabat memahami bahwa kebahagiaan hakiki ketika beriman ialah saat memberi/berkontribusi dalam perjuangan Islam. Di antara mereka pun saling berlomba-lomba dalam pengorbanan di jalan Allah. Patutlah kita bertanya pada diri kita, kontribusi apa yang bisa kita berikan untuk Islam?
Keimanan adalah Harta Paling Berharga
Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada akhirnya.” (HR Bukhari, no. 6607)
Az-Zarqani dalam Syarh Al-Muwatha’ menyatakan, amalan akhir manusia itulah yang menjadi penentu dan atas amalan itu pula ia akan dibalas Allah SWT. Siapa yang beramal buruk lalu beralih beramal baik, ia dinilai sebagai orang yang bertobat. Sebaliknya, siapa yang berpindah dari iman menjadi kufur maka ia dianggap murtad.
Mengucapkan kalimat “la ilaha ilallah” di akhir hidup kita merupakan anugerah besar dari Allah SWT. Ketika ia mampu mengucapkannya, Allah akan melapangkan kuburnya dan mengembalikan ia ke tempat kembali yang diridai Allah, yakni surga.
Allah SWT berfirman, “Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh (dalam kehidupan) di dunia dan di akhirat dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim, dan Allah berbuat apa yang Ia kehendaki.” (QS.Ibrahim:27).
Sangat penting bagi seorang muslim untuk mengevaluasi keimanannya dan mengupgradenya setiap saat. Memastikan pula bahwa keimanannya merupakan iman yang kukuh, tidak tergoyahkan dengan kilau dunia dan tidak menggadaikan keimanan dengan harta dan tahta. Ini karena tidak jarang kita temukan dalam sistem sekuler kapitalistik, begitu mudah seseorang mempertaruhkan keimanannya demi harta dan tahta.
Allah SWT telah berfirman, Katakanlah: “jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya”. (QS.At-Taubah:24).
Bagi seorang muslim, harta yang paling berharga adalah keimanan. Karena keimanan-lah yang akan menentukan kelak tempat terakhir seorang muslim, apakah di surga atau kah di neraka. (***)











