SORONG – Sebanyak 338 intelektual baru kembali dilahirkan Universitas Muhammadiyah Sorong (UMS) pada angkatan ke-19 tahun 2022. Wisudawan dari 14 program studi tersebut mengikuti prosesi sakral wisuda berupa pemindahan tali toga pada Rapat Senat Terbuka dalam rangka Wisuda Sarjana ke-XIX UMS, Sabtu (17/12).
Dari total 338 wisudawan, 3 diantaranya merupakan wisudawan terbaik dari 3 rumpun ilmu. Wisudawan terbaik dari rumpun ilmu Ekonomi dan Humaniora atas nama Indri Handayani, SM dengan IPK 3,94 dan Wisudawan terbaik dari rumpun ilmu Teknik atas nama Dea Anggi Farena, S.Kom dengan IPK 3,90 serta Wisudawan terbaik dari rumpun ilmu Pendidikan dan MIPA atas nama Nikodemus Lolonlun, S.Pd dengan IPK 3,97.
Dengan rasa bahagia dan haru ketiga lulusan terbaik tersebut didampingi orang tuanya menerima penghargaan dari Rektor UMS, Dr. H. Muhammad Ali, MM, MH dengan disaksikan seluruh tamu undangan dan rekan-rekan seperjuangan.
Dalam arahannya, Rektor UMS berharap Kepada seluruh wisudawan termasuk tiga wisudawan terbaik dapat mengimplementasikan bidang ilmu yang diperoleh di dalam kehidupan sosial bermasyarakat serta pada dunia kerja nantinya. Selain ilmu yang didapatkan melalui pendidikan formal, ia berharap penerapannya juga dibarengi dengan nilai karakter, perilaku serta integritas yang telah diberikan selama menempuh pendidikan tinggi.
“Semoga apa yang diperoleh selama menempuh pendidikan dapat memberikan dampak positif terhadap kehidupan bermasyarakat. Karena mereka sudah dibekali ilmu dengan harapan dapat kembali ke masyarakat menjadi pencerah,” harap Rektor UMS.
Ia melanjutkan, kini kriteria penilaian di UMS semakin diperketat dengan harapan ada peningkatan indikator dan standar yang sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan perkembangan zaman. Penilaian juga tidak hanya pada kemampuan intelektual nya saja melainkan juga dilihat dari kepribadian mahasiswa yang bersangkutan. Termasuk dari sisi spriritual, akhlak dan etika para mahasiswa.
Berkaitan dengan hadirnya provinsi Papua Barat Daya, UMS merasa ikut memiliki tanggung jawab moril untuk mempersiapkan SDM. Bagaimana mengisi Papua Barat Daya dengan peningkatan skill para SDM sehingga provinsi ini bisa semakin kompetitif. Sehingga Stigma negatif yang menyatakan bahwa Papua adalah daerah kita tertinggal dapat dipatahkan.
“Selaras dengan penyampaian penjabat gubernur provinsi Papua Barat Daya serta kepala LL Dikti, bahwa Papua Barat Daya memiliki Perguruan tinggi terbanyak dibandingkan dengan provinsi induk sebelumnya, yakni Papua Barat. Oleh karena itu kita harus semakin optimis bahwa dengan adanya pemekaran ini perguruan tinggi harus semakin tertantang untuk memberikan sumbangsih dalam menyiapkan SDM yang handal,” ungkap Muhammad Ali.
Langkah konkret mempersiapkan SDM tersebut diwujudkan dengan menghadirkan tambahan 5 program studi baru, yakni program studi PGSD, teknik lingkungan, perencanaan wilayah & kota, akuntansi serta program studi Pascasarjana Ilmu hukum. Dimana dalam waktu dua bulan 5 Prodi baru tersebut telah terakreditasi.
“Dengan tambahan Prodi tersebut maka saat ini UMS memiliki total 19 program studi. Dengan banyaknya ragam Prodi yang tersedia, kami berhrap ini menjadi salah satu cara bagi UMS untuk mempersiapkan SDM serta untuk menjawab tuntutan zaman,” tandasnya. (ayu)
















