
Jamaah Membludak di Emperan Toko
AIMAS – Hujan yang mengguyur wilayah Aimas sejak Rabu (28/6) malam hingga Kamis (29/6) pagi, mengakibatkan pelaksanaan Salat Idul Adha di Alun-Alun Aimas terpaksa harus dialihkan ke masjid-masjid terdekat.
Di Alun-Alun Aimas, tampak dari kejauhan sudah disiapkan mimbar bagi Imam yang akan memimpin salat Idul Adha. Namun lapangan terbuka yang selama ini selalu menjadi tujuan utama jemaah Salat Id tampak lengang.
Sebaliknya, jemaah membludak memadati masjid yang berada di wilayah Distrik Aimas, salah satunya Masjid Baiturrahim Malawili. Tak hanya di dalam masjid, jemaah juga memenuhi teras dan area parkir masjid.
Mendekati waktu dimulainya Salat Id, jemaah terus berdatangan hingga masjid tak mampu pagi menampung. Alhasil, jemaah membludak di area parkiran dan trotoar masjid, bahkan sampai di emperan toko yang berada di seberang masjid tersebut.
Kondisi parkiran dan emperan yang sedikit basah dan becek tak menyurutkan niat para jemaah dalam pelaksanaan Salat Idul Adha kali ini. Kendati harus beralaskan karung dan koran, jemaah tetap khusyuk melaksanakan ibadah Salad Idul Adha di bawah cuaca teduh berawan.
Sekretaris PHBI Kabupaten Sorong, Imam Sururi mengatakan, melihat kondisi cuaca yang agak kurang bersahabat, pihaknya terpaksa harus mengalihkan pelaksanaan Salat Idul Adha dari Alun-Alun Aimas ke Masjid Baiturrahman Malawili dan Masjid Baiturrahim Malawili.
Dengan dialihkannya lokasi pelaksanaan Salat Id tersebut, maka Imam dan Khotib Salat Idul Adha di Alun-Alun Aimas juga dialihkan untuk memimpin pelaksanaan Salat Id di Masjid Baiturrahman. Adapun imam yang memimpin Salat Idul Adha di Masjid Baiturrahman Malawili yakni Ustadz Ishaq, S.Pd,I dan khotibnya yakni Ustadz Sukardi, S.Pd.
Dalam khotbahnya, Ustadz Sukardi, S.Pd menyampaikan bahwa perayaan Idul Adha perlu dimaknai Umat Muslim sebagai hari yang penuh keistimewaan. Hal tersebut berlaku bagi umat muslim yang sedang melaksanakan ibadah haji, maupun bagi umat muslim yang turut berkurban.
“Haji dan kurban sama-sama ibadah untuk memenuhi panggilan Allah. Jika harta kita belum cukup untuk berhaji maka kita disarankan berkurban (menyembelih kurban). Keduanya itu sama-sama baiknya,” ujar Ustadz Sukardi.
Diingatkan, bahwa peristiwa Idul Adha adalah untuk mengenang kisah Nabi Ibrahim dan anaknya Ismail. Dimana sebagai bentuk ketaatan kepada Allah, Nabi Ibrahim ikhlas menyembelih puteranya (Ismail).
“Saat itu Allah tidak meminta Ibrahim menyembelih anaknya, melainkan meminta Ibrahim membunuh rada kepemilikannya terhadap Ismail. Sebab anak adalah titipan, yang suatu saat akan diambil oleh Allah,” terangnya.
Ia melanjutkan, bahwa setiap manusia adalah Ibrahim dan setiap manusia memiliki Ismail. Dimana Ismail yang dimaksud bukanlah anak lelaki, melainkan Ismail adalah harta paling berharga nan paling dicintai oleh seorang umat.
“Jadi kita tidak diminta mengurbakan anak lelaki untuk disembelih, tetapi mengurbankan harta terbaik yang kita cintai. Bisa jadi harta itu adalah hewan ternak kita, bisa jadi harta itu adalah uang kita,” paparnya.
Ustadz Sukardi mengimbau, bai jemaah yang telah mampukan oleh Allah agar bisa lebih ikhlas dan ridho untuk mengurbankan harta terbaiknya di jalan Allah. (ayu)














