MANOKWARI – Pembangunan Pura Ksatria Shanti Bhuana di areal seluas 640 meter persegi, sebagian besar material bangunannya didatangkan langsung dari Gunung Agung yang ada di Bali, dimana lama pengerjaan selama lima bulan dengan dana swadaya satuan dan berbagai pihak.
Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Pangkogabwilhan) III, Letjen TNI I Nyoman Cantiasa mengatakan perkembangan Kodam XVIII/Kasuari sangat luar biasa setelah sekian bulan dirinya tinggalkan. Dan merupakan sebuah kehormatan baginya bisa meresmikan Pura Ksatria Shanti Bhuana milik Kodam XVIII/Kasuari.
Ia menjelaskan awal ide pembangunan Pura banyak sekali melakukan diskusi dengan jajaran saat itu untuk menentukan lokasi titik tempat ibadah agama Hindu. “Saya kaget ketika diberitahu bahwa lokasi tempat peribadatan mulai dari Gereja, Masjid dan Pura, jika ditarik merupakan satu garis lurus,” ujarnya di Manokwari, Minggu (15/5).
Ia menjelaskan, Pura Ksatria Shanti Bhuana merupakan salah satu bukti toleransi antar umat beragama. “Mari kita jaga toleransi, persatuan dan kesatuan. Kepada umat Hindu yang ada di wilayah Kodam Kasuari baik prajurit dan masyarakat, terimakasih atas bantuan dan kerjasama sehingga tempat ibadah ini dapat terwujud. Atas nama pribadi dan Komando menyampaikan terimakasih atas pelaksanaan kegiatan hari ini. Disinilah kita bisa tahu bahwa membangun bangsa itu tidak bisa sendiri-sendiri, harus menjadi suatu kesatuan, berintegrasi dan komprehensif,” tandasnya.
Sementara itu, Pangdam XVIII/Kasuari, Mayjen TNI Gabriel Lema berharap apa yang telah dirintis Pangdam Kasuari sebelumnya, kegiatan beribadah umat Hindu akan lebih baik, yang otomatis kehidupan bermasyarakat dan berbangsa pasti lebih baik juga sebagai upaya pembentukan karakter dan moral serta spiritual yang kokoh bagi keberhasilan pelaksanaan tugas pokok sesuai tanggung jawab masing-masing. “Keberadaan Pura ini juga dapat menjadi modal utama dalam membina dan mengembangkan kerukunan hidup antar umat beragama, apalagi Pura ini dibangun bersebelahan dengan tempat ibadah agama lain yakni Masjid dan Gereja. Hal ini dapat kita lihat sebagai wujud kerukunan umat beragama dan sebagai identitas keberagaman bangsa Indonesia, prajurit Kodam juga harus menjadi contoh dalam membangun toleransi antar umat beragama,” ujar Gabriel Lema.
Kepala Suku Besar Arfak, Dominggus Mandacan yang juga mewakili semua Suku Nusantara dan Kepala-kepala Suku yang ada di Papua Barat, menyatakan siap melanjutkan apa yang sudah dimulai dan diletakkan para pendahulu untuk bisa menerima semua suku yang ada di Papua Baart. “Saya ajak kepada masyarakat untuk tetap menjaga keamanan, ketertiban dan kedamaian. Tidak boleh ada kerusuhan dan lain sebagainya. Diharapkan para prajurit dapat memanfaatkan tempat ibadah ini dan menjadikan iman yang kuat,” ucap Dominggus Mandacan. (bw)















