SORONG – Bertepatan dengan perayaan HUT Kota Sorong yang ke-22 tahun, Wali Kota Sorong, Drs.Ec.Lambert Jitmau,MM meresmikan Patung Domine Eduard Osok dan Gapura Bandara DEO Sorong.
Peresmian dilakukan secara simbolis dengan menekan tombol sirine serta penandatanganan prasasti oleh Wali Kota Sorong di halaman parkir Bandara DEO Sorong, Selasa (1/3).
Wali Kota Sorong, Drs.Ec.Lambert Jitmau,MM mengapresiasi Kantor UPBU Kelas 1 DEO Sorong atas dibangunnya patung salah satu tokoh agama di tanah Moi. Pemberian nama pada Bandara DEO Sorong sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan terhadap tokoh Moi yang punya tanah ini. ”Saya dengan Almarhum kakak J.A.Jumame tahun 1999 sudah ada di sini. Jadi nama Domine Eduard Osok itu kakak yang memberikan nama itu untuk penggunaan di Bandara Sorong,” kata Lambert Jitmau.
Menurutnya, pemberian nama Domine Eduard Osok pada bandara Kota Sorong merupakan salah satu wujud filosofi dimana bumi itu dipijak dan langit itu dijunjung, dan hari ini Patung Domine Eduard Osok diresmikan merupakan momentum yang baik sekali berkaitan dengan dua hari ulang tahun yaitu ulang tahun Kantor UPBU Kelas I Domine Eduard Osok Sorong yang ke-17 dan HUT Kota Sorong yang ke-22 tahun. “Saya berharap dengan adanya peresmian Patung dan Gapura ini, akan memperindah wajah Bandara DEO Sorong. Disamping itu, patung ini akan menjadi situs sejarah tentang tokoh Moi yang merupakan perintis sekaligus hamba Tuhan di Kota Sorong yang kita cintai bersama ini,” ucap Lambert.
Wali Kota menambahkan bahwa pertumbuhan ekonomi di Kota Sorong salah satunya ini karena hadirnya Bandara DEO Sorong. ”Saya inisiatif pindahkan bandara dari Jefman ke sini agar ekonomi berjalan baik. Pejabat jangan memberikan uang, jangan berikan sembako, tapi bangun infrastruktur dasar, seperti bangun bandara, bangun pasar. Jadi Kota Sorong maju karena saya tidak membagikan uang dan sembako, sehingga Kota Sorong bertumbuh dan berkembang karena adanya infrastruktur dasar, salah satunya bandara ini,” jelasnya.
Kepala Bandara DEO Sorong Cece Tarya, ST.MA dalam sambutannya mengatakan pihaknya di Bandara DEO sedang bersolek untuk mewujudkan menjadi bangsa yang terdepan, berkualitas dan bersinar. Bersolek rangka menghadirkan fasilitas-fasilitas pelayanan melalui kreativitas dan inovasi yang dapat menghadirkan berkualitas dalam rangka memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya kepada seluruh pengguna jasa, pada umumnya kepada masyarakat Papua dan Papua Barat dan khususnya bagi masyarakat Kota Sorong.
Dijelaskannya bahwa nama Bandara Domine Eduard Osok ditetapkan berdasarkan Keputusan Menteri Perhubungan No 44 tahun 2005. ”Dengan hadirnya monumen Domine Eduard Osok agar masyarakat Indonesia lebih mengenal lagi keberadaan Bandara Sorong,” katanya.
Cece menjelaskan bahwa pembangunan Patung Domine Eduard Osok untuk waktu pelaksanaan pembangunan yang sesuai dengan kontrak adalah 5 tahun. ”Monumen ini di belakangnya nanti akan ada tulisan I Love Sorong. Jadi nantinya ini sebagai destinasi untuk tempat selfie, untuk tempat foto-foto. Ini menjadi monumen kebanggaan kita. Jadi kita akan hadirkan sesuatu yang luar biasa supaya ini bisa menandakan bahwa kita tidak ketinggalan dengan wilayah lainnya. Kemudian kita tambahkan taman bunga,” katanya.
Dibeberkannya, tinggi monument DEO dari jalan setinggi 10,75 meter. Untuk patungnya itu 50%, kurang lebih sekitar 5 – 5,25 m dari kaki sampai kepala. ”Anggaran Rp 2,1 miliar jadi untuk semua landscape, dari patung, pintu gerbang (gapura) sama pelebaran jalan,” ungkapnya. ”Bahannya terbuat dari semen dan dalamnya kontruksi yang kawat ram itu yang dikasih semen. Ini menjadi bagian yang efisien sekali bila dibandingkan dengan nilai harga pembangunan sebuah patung dengan setinggi ini dibandingkan dengan pekerjaan di tempat yang lainnya,” sambungnya.
Ketua Sinode GKI di Tanah Papua,Pdt. Andrikus Mofu, M.Th, sekaligus mewakili pihak keluarga mengatakan, Domine Eduard Osok merupakan orang asli Moi, melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi di daerah Wondama untuk mendapatkan pendidikan kelas guru dan juga 4 bulan untuk pelayanan gereja di jemaat. ”Kemudian beliau kembali ke Sorong bekerja sebagai staf pendeta sebelum beliau diteguhkan dalam jabatan pendeta,” katanya.
Dikatakannya, Pendeta Domine Eduard Osok memiliki komitmen bekerja dan melayani dengan 3 prinsip. Prinsip pertama, walaupun kami berpendidikan rendah tetapi Tuhan pakai. Prinsip kedua, beliau adalah murid kecil Yesus, artinya beliau sikap iman. Ketiga, sosok ini dikenal dengan sapaan Pace Trapapa walau apapun yang tejadi, beliau menghadapi dengan baik. ”Itu pesan prinsip pertama meski kita memiliki gelar yang tinggi tetapi belum tentu apakah kita dipakai Tuhan untuk melayani. Jadi dengan gelar tinggi, kita harus tunjukkan dalam pelayanan dan pekerjaan kita,” katanya.
Dengan adanya monumen Domine Eduard Osok, orang yang datang ke Kota Sorong harus berkesan. ”Siapa yang datang ke sini harus menjalin kasih, rendah hati, dan harus punya komitmen bekerja bagi kemuliaan Tuhan. Kita harus jiwai apa yang disampaikan dan dipelihara,” pungkasnya.
Pantauan Radar Sorong, sebelum meresmikan Momumen Domine Eduard Osok, Wali Kota Sorong membeli jajanan khas Papua dan aksesoris Papua di pameran Mama-mama Papua. Usai meresmikan monument Domine Eduard Osok dan Gapura Bandara DEO Sorong, Wali Kota menyempatkan diri foto bersama Forkopimda di hadapan Patung Domine Eduard Osok. (zia)















