• Profil
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
Selasa, 27 Oktober 2026
Radar Sorong
Advertisement
  • Berita Utama
  • Metro Sorong
  • Sorong Raya
  • Lintas Papua
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Sport
  • Feature
No Result
View All Result
  • Berita Utama
  • Metro Sorong
  • Sorong Raya
  • Lintas Papua
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Sport
  • Feature
No Result
View All Result
Radar Sorong
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT

Berada di Daerah 3T, Malasigi Menawarkan Pengalaman Wisata di Tanah Moi

by REDAKSI
26 Oktober 2026
in Feature
0
Berada di Daerah 3T, Malasigi Menawarkan Pengalaman Wisata di Tanah Moi

Staf Communication Relations & Community Involvement Development Pertamina EP Papua Field, Jaryati nampak ceria ketika menikmati momen interaktif bersama burung Kakatua di sela kunjungan ke wisata alam Kampung Malasigi. (Fauzia/Radar Sorong)

Share on FacebookShare on WhatsApp
ADVERTISEMENT

Kampung Adat Malasigi di Distrik Klayili, Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya, tak hanya menawarkan pemandian air panas alami, tetapi juga pengalaman menyaksikan burung cenderawasih, menjelajahi gua alam, hingga mengenal tradisi masyarakat adat suku Moi Kelim yang masih terjaga. Di tengah keterbatasan akses jalan, masyarakat terus mengembangkan potensi ekowisata dengan menjaga hutan dan budaya leluhur sebagai kekuatan utama kampung.

Oleh: Norma Fauzia Muhammad

Berita Terkait

Dari Minyak Tanah ke Panel Surya di Kampung Adat Malasigi, Delita: Kita Tidak Pakai Lampu Botol Lagi

Dari Minyak Tanah ke Panel Surya di Kampung Adat Malasigi, Delita: Kita Tidak Pakai Lampu Botol Lagi

27 Oktober 2026
3

28 November 2025
17
Momen Spesial Kemenkeu Mengajar 10: Rayakan Satu Dekade di SMA Negeri 4 Pulau Doom Sorong

Momen Spesial Kemenkeu Mengajar 10: Rayakan Satu Dekade di SMA Negeri 4 Pulau Doom Sorong

12 November 2025
76

PERJALANAN menuju Kampung Adat Malasigi di Distrik Klayili, Kabupaten Sorong, membutuhkan waktu sekitar 1,5 hingga 2 jam dari Kota Sorong. Jalan yang belum sepenuhnya mulus menjadi salah satu tantangan untuk mencapai kampung yang menyimpan kekayaan alam dan tradisi masyarakat adat suku Moi Kelim tersebut.

Jalan menuju Kampung Malasigi yang berkelok-kelok. (Fauzia/Radar Sorong)

Namun, perjalanan itu membawa pengunjung pada pengalaman yang berbeda. Malasigi yang berada di daerah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T), tidak hanya menawarkan pemandian air panas alami, tetapi juga pengamatan burung cenderawasih, gua alam, serta kehidupan masyarakat yang masih menjaga tradisi adat.

Di kampung ini, pengembangan wisata berjalan beriringan dengan upaya mempertahankan hutan sebagai bagian penting dari kehidupan masyarakat.

Tokoh Adat Malasigi, Stefanus Fami, usai diwawancarai.(Fauzia/Radar Sorong)

Tokoh Adat Malasigi, Stefanus Fami, menjelaskan bahwa nama Malasigi memiliki makna yang berkaitan dengan alam di wilayah tersebut. Ia sendiri lahir dan tumbuh di kampung itu, sehingga mengenal bagaimana kehidupan masyarakat dan lingkungan menjadi bagian yang tidak terpisahkan.“Saya sejak lahir tahun 69 di sini,” kata Stefanus, Senin (27/7/2026).

Dia menjelaskan arti nama kampung yang telah menjadi tempat tinggal masyarakat adat secara turun-temurun.“Mala itu artinya gunung. Kalau Sigi itu artinya Udang. Jadi gunung yang ada udangnya,” ujarnya.

Masyarakat adat Malasigi ketika menyambut tamu dari Pertamina dengan iringan tarian Alen khas suku Moi. (Fauzia/Radar Sorong)

Bagi masyarakat Malasigi, wisata bukan hanya mendatangkan pengunjung. Tradisi adat tetap menjadi bagian penting dari cara mereka menyambut tamu. Salah satunya melalui tarian Alen, tarian khas suku Moi yang ditampilkan ketika pengunjung tiba di kampung.

Penjemputan pengunjung dengan tarian Alen oleh masyarakat Malasigi.(Fauzia/Radar Sorong)

Hal tersebut dilakukan ketika menjemput Widya Gustiani selaku Assisten Manager Communication Relation Regional 4 Indonesia Timur Sub Holding Upstream Pertamina, Agung Prasetya selaku Senior Manager LMF Regional 1, Priawansyah selaku Senior Officer CID Zona Rokan North, Baskoro A. Pratomo selaku Officer CID Regional 1, dan Amarullah selaku Senior Officcer Communication Relation Zona 14 Pertamina EP Regional 4 Indonesia Timur sub Holding Upstream Pertamina.

Ketua Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Malasigi sekaligus Kepala Kampung Persiapan Malasigi, Manase Fami. (Fauzia/Radar Sorong)

Ketua Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Malasigi sekaligus Kepala Kampung Persiapan Malasigi, Manase Fami, mengatakan, penyambutan melalui tarian merupakan bentuk penghormatan kepada tamu yang datang. Masyarakat tidak hanya memperlihatkan kesenian, tetapi juga menyampaikan bahwa pengunjung diterima sebagai bagian dari keluarga selama berada di Malasigi.

“Tarian Alen itu tarian khusus untuk suku Moi atau Papua. Masing-masing suku kan punya. Jadi makna tarian itu kita sambut tamu yang datang ke Malasigi ini atau di tempat lain pun sama. Kita sambut dan kita anggap mereka itu sebagai keluarga, dan mereka yang datang ke sini bawa dampak positif bagi masyarakat yang di sini,” katanya.

Manase, menceritakan bahwa wisata di kampung tersebut pada awalnya dikenal melalui sumber air panas alami. Pengembangan wisata kemudian meluas setelah sejumlah pemuda belajar mengenai pemanduan wisata di Kampung Malagufuk selama beberapa tahun, lalu kembali untuk mengembangkan potensi burung di hutan Malasigi.

Menurutnya, pengamatan burung tidak langsung menjadi kegiatan wisata yang berkembang seperti sekarang. Masyarakat melakukan peninjauan lokasi dan berkoordinasi dengan tokoh adat sebelum pengembangan tersebut dilanjutkan. Setelah melalui proses adat, mereka mulai mengembangkan wisata pengamatan burung sebagai tambahan dari wisata air panas yang lebih dahulu dikenal.

“Jadi yang di Malasigi itu 5 jenis cenderawasih. Ada cenderawasih kuning kecil, cenderawasih raja, cenderawasih belah rotan, cenderawasih dada biru, dan towa cemerlang. Adapun burung Kakatua Putih,” kata Manase.

Satwa endemik Burung Kakatua ketika sedang bersantai.(Fauzia/Radar Sorong)

Selain wisata burung dan air panas, pengunjung dapat melihat Gua Wo’Batiwala yang menurut Manase memiliki panjang sekitar 350 meter. Masyarakat juga mempertahankan kerajinan tradisional, termasuk noken yang dibuat kaum perempuan dengan memanfaatkan bahan dari alam.

Dikatakannya bahwa Perjalanan mengembangkan wisata itu tidak selalu mudah. Pada tahap awal, masyarakat membangun fasilitas secara swadaya. Hasil berburu yang dijual digunakan untuk membangun sejumlah fasilitas dasar, termasuk toilet umum.

“Setelah itu, mereka mulai bekerja sama dengan berbagai pihak, antara lain lembaga pendamping lingkungan, perguruan tinggi, organisasi pariwisata, pemerintah, dan Pertamina,” jelasnya.

Manase mengatakan, pendampingan tersebut membantu masyarakat meningkatkan keterampilan, melengkapi fasilitas wisata, dan memperkuat pengelolaan kawasan. Masyarakat juga memperoleh dukungan untuk membangun menara pengamatan burung serta fasilitas penginapan bagi wisatawan.

“Kami awalnya swadaya. Kami berburu, nah dengan hasil perburuan kami ya kami bisa bangun. Kalau kami punya fasilitas yang ada di kampung,” ujarnya.

ADVERTISEMENT

Dalam perkembangannya, masyarakat Malasigi memperoleh persetujuan pengelolaan hutan melalui skema Perhutanan Sosial dengan luas 1.750 hektare. Bagi Manase, pengakuan tersebut memberikan semangat bagi masyarakat untuk menjaga kawasan sekaligus mengembangkan kegiatan ekonomi yang tidak bergantung pada eksploitasi hutan.

ADVERTISEMENT

“Upaya tersebut kemudian membawa Malasigi meraih penghargaan di bidang pariwisata. Kampung ini terpilih sebagai juara pertama kategori desa wisata rintisan dalam Anugerah Desa Wisata Indonesia 2024,” katanya.

“Penghargaan itu menjadi salah satu pencapaian masyarakat setelah bertahun-tahun mengembangkan wisata secara bertahap,” katanya.

Menurut Manase, perkembangan wisata harus memberi manfaat langsung bagi masyarakat sekaligus menjaga alam yang menjadi sumber kehidupan mereka. Pengelolaan wisata dilakukan dengan melibatkan warga dalam berbagai pekerjaan, mulai dari pemandu, penyedia makanan, pengelola penginapan, hingga pelaku kerajinan.

Sementara itu, Field Manager PT Pertamina EP Papua Field, Ardi, mengatakan Malasigi memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai destinasi ekowisata. Namun, potensi tersebut perlu didukung fasilitas dasar dan penguatan kapasitas masyarakat agar kegiatan wisata dapat berkembang tanpa merusak lingkungan.

Salah satu pengunjung ketika melihat langsung papan pemberitahuan tentang Program Matahati Malasigi.(Fauzia/Radar Sorong)

Menurut Ardi, Program Matahati Malasigi diinisiasi pada 2022 dengan tujuan membantu masyarakat adat mengembangkan penghidupan yang berkelanjutan. Program ini menggabungkan pengelolaan hutan, pengembangan ekowisata, pemenuhan kebutuhan dasar, dan peningkatan kemampuan masyarakat dalam mengelola potensi kampungnya.

“Jadi kampung yang kampung perintislah yang saya pikir ini harus kita support dengan penuh gitu, sehingga ya dengan target akhir mereka apa bisa berdiri sendiri seperti itu,” katanya.

Ardi menjelaskan, pengembangan wisata tidak dapat dipisahkan dari penyediaan air bersih dan listrik. Kedua fasilitas tersebut diperlukan agar masyarakat dapat menjalankan kegiatan sehari-hari sekaligus memberikan pelayanan yang lebih baik kepada pengunjung. Karena itu, dukungan Pertamina mencakup sistem air bersih berbasis filter pelepah pisang dan pembangkit listrik tenaga surya berkapasitas 8.700 watt.

Ardi berharap Malasigi dapat menjadi salah satu tujuan wisata yang membuat pengunjung tinggal lebih lama di Sorong, bukan hanya menjadikan kota tersebut sebagai tempat transit sebelum melanjutkan perjalanan ke Raja Ampat. Menurutnya, wisata berbasis budaya dan alam di sekitar Sorong masih memiliki peluang besar untuk dikembangkan.

“Nah, ke depan kami berharap Kampung Adat Malasigi ini menjadi salah satu destinasi sehingga mereka juga berpikir, oh kami nambah sehari dua hari deh di Sorong gitu. Sehingga ini akan menjadi efek domino. Di Kota Sorong sendiri wisatawan juga bisa bertahan sehari dua hari, bukan sebagai tempat transit lagi,” ujarnya.

Meski mulai dikenal sebagai destinasi ekowisata, Malasigi masih membutuhkan dukungan untuk memperbaiki akses jalan menuju kampung. Kondisi jalan menjadi salah satu hal yang diharapkan masyarakat mendapat perhatian pemerintah kabupaten maupun provinsi agar perjalanan wisatawan lebih mudah.

Harapan masyarakat agar Malasigi semakin dikenal, wisatawan bertambah, dan warga memperoleh manfaat ekonomi tanpa kehilangan hutan serta tradisi yang diwariskan leluhur. Di kampung ini, keberhasilan wisata pada akhirnya bukan hanya diukur dari banyaknya pengunjung, tetapi juga dari kemampuan masyarakat menjaga alam dan mengelola potensi mereka sendiri.(*)

ADVERTISEMENT
Previous Post

Kunjungi Korban Kebakaran, Pertamina Salurkan Bantuan Kemanusiaan

Next Post

Dari Minyak Tanah ke Panel Surya di Kampung Adat Malasigi, Delita: Kita Tidak Pakai Lampu Botol Lagi

Related Posts

Dari Minyak Tanah ke Panel Surya di Kampung Adat Malasigi, Delita: Kita Tidak Pakai Lampu Botol Lagi
Feature

Dari Minyak Tanah ke Panel Surya di Kampung Adat Malasigi, Delita: Kita Tidak Pakai Lampu Botol Lagi

27 Oktober 2026
3
Berita Utama

28 November 2025
17
Momen Spesial Kemenkeu Mengajar 10: Rayakan Satu Dekade di SMA Negeri 4 Pulau Doom Sorong
Ekonomi

Momen Spesial Kemenkeu Mengajar 10: Rayakan Satu Dekade di SMA Negeri 4 Pulau Doom Sorong

12 November 2025
76
Bukti Negara Hadir, TMMD Ke-126 Wujudkan Pembangunan & Kesejahteraan Masyarakat Kampung Babak Wilayah 3T di Papua Barat Daya
Feature

Bukti Negara Hadir, TMMD Ke-126 Wujudkan Pembangunan & Kesejahteraan Masyarakat Kampung Babak Wilayah 3T di Papua Barat Daya

10 November 2025
178
D’Malaumkarta Eco Resort, Tempat Wisata Alam di Papua Barat Daya dengan Fasilitas Lengkap & Harga Bersahabat
Feature

D’Malaumkarta Eco Resort, Tempat Wisata Alam di Papua Barat Daya dengan Fasilitas Lengkap & Harga Bersahabat

25 Agustus 2025
1.3k
Apakah bisa Papua Barat Daya Bebas Malaria?
Feature

Apakah bisa Papua Barat Daya Bebas Malaria?

18 Juni 2024
1.4k
Next Post
Dari Minyak Tanah ke Panel Surya di Kampung Adat Malasigi, Delita: Kita Tidak Pakai Lampu Botol Lagi

Dari Minyak Tanah ke Panel Surya di Kampung Adat Malasigi, Delita: Kita Tidak Pakai Lampu Botol Lagi

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

ADVERTISEMENT

Follow Us

Radar Sorong

Radar Sorong telah meluncurkan Portal Berita Online yaitu radarsorong.id yang lebih memudahkan masyarakat mendapatkan informasi terpercaya dan actual dari Harian Pagi Radar Sorong.

Kategori Beritra

  • Berita Utama
  • Ekonomi
  • Essay Foto/Berita Foto
  • Feature
  • Internasional
  • Lainnnya
  • Lintas Papua
  • Metro Sorong
  • Nasional
  • Nusantara
  • OPINI
  • Papua Barat Daya
  • Sepakbola
  • Sorong Raya
  • Sport

Berita Terbaru

Dari Minyak Tanah ke Panel Surya di Kampung Adat Malasigi, Delita: Kita Tidak Pakai Lampu Botol Lagi

Dari Minyak Tanah ke Panel Surya di Kampung Adat Malasigi, Delita: Kita Tidak Pakai Lampu Botol Lagi

27 Oktober 2026
Berada di Daerah 3T, Malasigi Menawarkan Pengalaman Wisata di Tanah Moi

Berada di Daerah 3T, Malasigi Menawarkan Pengalaman Wisata di Tanah Moi

26 Oktober 2026
  • Profil
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak

© 2021 - Radar Sorong - Developed by Tokoweb.co

No Result
View All Result
  • Berita Utama
  • Metro Sorong
  • Sorong Raya
  • Lintas Papua
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Sport
  • Feature

Login to your account below

Forgotten Password?

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
error: Content is protected !!