
RAJA AMPAT – Kolaborasi antara PT Kawei Sejahtera Mining (PT KSM), Balai Pengelolaan Kelautan (BPK) Kupang Satuan Kerja Raja Ampat, dan masyarakat adat Kampung Selpele dari Suku Kawei berhasil memperkuat upaya rehabilitasi ekosistem pesisir dan laut di Pulau Kawei, Raja Ampat. Selama tiga hari pelaksanaan kegiatan, sebanyak 100 unit media Reefstar dipasang untuk transplantasi terumbu karang dan 980 bibit mangrove ditanam sebagai bagian dari pemulihan kawasan pesisir.

Kegiatan rehabilitasi tersebut menjadi tindak lanjut dari Bimbingan Teknis Rehabilitasi Ekosistem Pesisir yang dilaksanakan pada Juni 2026. Selain memulihkan lingkungan, program ini juga bertujuan meningkatkan kapasitas masyarakat adat agar mampu menjaga dan merawat ekosistem pesisir secara mandiri di masa mendatang.
Proses transplantasi terumbu karang diawali dengan pengarahan keselamatan dan pelatihan teknis oleh tim BPK Kupang. Warga lokal diperkenalkan pada metode Reefstar, mulai dari pemilihan koloni donor, pengambilan fragmen karang, teknik pengikatan hingga pemasangan struktur di dasar laut.
Koordinator Marine and Coastal Ecosystem Management BPK Kupang, Ariefianto Tri Mahadi, menegaskan bahwa rehabilitasi harus dilakukan dengan tetap menjaga keseimbangan ekosistem alami.
“Prinsip utama rehabilitasi adalah menjaga keseimbangan alami. Fragmen karang diprioritaskan dari patahan alami. Jika harus mengambil dari koloni hidup, dibatasi maksimal 10 persen agar lokasi donor tidak rusak. Harapannya, perusahaan dan masyarakat adat Suku Kawei ke depan dapat melaksanakannya secara mandiri,” ujarnya.
Kerja sama seluruh peserta membuat pemasangan 100 unit Reefstar dapat diselesaikan sesuai target. Tidak hanya penyelam, seluruh peserta saling membantu menyiapkan material hingga membersihkan sisa plastik agar tidak mencemari laut.
Pada hari berikutnya, kegiatan berlanjut dengan penanaman 980 bibit mangrove jenis Rhizophora mucronata dan Rhizophora apiculata di kawasan pesisir Hol Lelayoho. Penanaman dilakukan menggunakan metode rumpun berjarak dan metode pancang yang disesuaikan dengan kondisi substrat dan ombak di lokasi.
Koordinator Pengelolaan Wilayah Konservasi Laut Satker Raja Ampat, Ferdinand Irianto Patrick Bata, mengingatkan bahwa keberhasilan rehabilitasi sangat bergantung pada perawatan setelah penanaman.
“Tiga bulan pertama adalah masa kritis. Pada mangrove, bibit mati harus segera disulam. Metode rehabilitasi ini fleksibel dan akan terus berkembang lewat inovasi di lapangan. Yang terpenting adalah komitmen perawatannya,” katanya.
PT KSM menilai rehabilitasi pesisir merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari upaya reklamasi daratan. Perusahaan sebelumnya telah menyelesaikan reklamasi dan revegetasi lahan pascatambang seluas 16,14 hektare. Pengendalian erosi di darat diharapkan mampu menjaga kualitas air pesisir sehingga mangrove dan terumbu karang dapat tumbuh optimal sebagai satu kesatuan ekosistem darat dan laut.
Rangkaian kegiatan ditutup dengan penandatanganan berita acara, penyerahan plakat apresiasi antara PT KSM, BPK Kupang, dan masyarakat adat Suku Kawei. Penandatanganan tersebut tidak hanya menjadi bentuk kepatuhan administrasi, tetapi juga menandai komitmen bersama untuk melakukan pemeliharaan ekosistem secara berkelanjutan demi menjaga kelestarian perairan Raja Ampat.(zia)













