SORONG – Menteri Hukum, Supratman Andi Agtas, memberikan apresiasi tinggi kepada tiga anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Provinsi Papua Barat Daya atas semangat kebersamaan atau jiwa korsa yang mereka tunjukkan saat upacara Hari Kemerdekaan RI ke-80.
Sebagai bentuk penghargaan, Supratman menghadiahkan tiga unit sepeda motor kepada Karisto Gideon Dimara, Frans Beto Kolawi, dan Afgan Rizal Sapulette. Penyerahan hadiah dilakukan oleh Gubernur Papua Barat Daya, Elisa Kambu, di Kantor Gubernur PBD, Rabu (20/8).
Ketiganya dikenal karena aksi heroik yang terjadi saat upacara. Ketika Karisto hampir tumbang karena kelelahan, dua rekannya, Afgan dan Frans, sigap memapah dan membantu Karisto agar upacara tetap berjalan khidmat.
Tak hanya ketiganya, seluruh anggota Paskibraka yang berjumlah 42 orang juga menerima perhatian dari Menteri Hukum. 42 Paskibra tersebut diberikan bantuan uang tunai. Bantuan ini akan ditransfer langsung ke rekening masing-masing Paskibraka.”Supaya adil, nanti masing-masing kirim nomor rekening lewat Ibu Kesbangpol ke Kementerian Hukum,” ujar Supratman melalui sambungan telepon kepada Gubernur PBD.
Gubernur Elisa Kambu pun menyampaikan terima kasih atas perhatian pemerintah pusat. “Terima kasih atensi Pak Menteri kepada 45 Paskibra. Kita dari Provinsi Papua Barat Daya juga sudah kasih Rp6 juta per orang,” ungkapnya.
Sementara itu, Afgan Rizal Sapulette, siswa SMA Negeri 3 Kota Sorong, mengungkapkan rasa harunya atas apresiasi yang diterima.
“Saya awalnya mau terbitkan barisan terus saya lihat dia mau jatuh, saya pegang dia. Saya sangat bangga sekali dengan hadiah yang diberikan. Terima kasih untuk sepeda motor yang diberikan, saya akan menggunakan dengan baik, ke sekolah. Terus akan belajar dengan giat karena ingin masuk sekolah hukum,” katanya.
Frans Beto Kolawi, yang bersekolah di SMK Negeri 1 Kota Sorong, juga menyampaikan rasa syukurnya.”Terima kasih banyak kepada Pak Menteri. Saya akan pergunakan motor ini dengan baik. Biasanya saya ke sekolah pakai ojek,”ungkapnya.
Sedangkan Karisto Gideon Dimara, pelajar asal Raja Ampat, mengaku biasanya berjalan kaki sekitar 100 meter ke sekolah karena tidak memiliki kendaraan.”Terima kasih atas hadiahnya. Cita-cita saya ingin menjadi Brimob. Saya 8 bersaudara, saya yang terakhir. Waktu 17 Agustus, bapa saya meninggal. Kalau Ibu sudah lama meninggal,” katanya dengan mata berkaca-kaca.(zia)















