
Kepala BNN RI: Harus Antisipasi Setelah Era Covid, mulai terbuka masuknya Heroine dan Kokain
SORONG-Badan Narkotika Nasional Republik Indonesia (BNN RI) berkolaborasi dengan Korpolairud Polri, Ditjen Bea dan Cukai Kementerian Keuangan RI, Ditjen Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan RI, dan Ditjen Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan Kementerian Perikanan dan Kelautan RI melaksanakan operasi laut interdiksi terpadu 2023 dengan sandi operasi Purnama (Gempur Peredaran Narkotika Bersama).
Operasi laut dibuka langsung oleh Komisaris Jenderal Polisi Dr. Petrus Reinhard Golose di Dermaga Pelabuhan Pelindo Sorong Papua Barat Daya, Selasa, (23/5). Operasi Laut tersebut akan berlangsung selama dua pekan hingga tanggal 6 Juni mendatang.
Dikatakan bahwa Sejumlah wilayah yang menjadi target operasi kali ini antara lain Laut Arafuru, Laut Sulawesi, Selat Makassar, Kepulauan Seribu, Kepulauan Riau, Riau, Sumatera Utara, Aceh, dan sekitarnya.
“Wilayah-wilayah tersebut diketahui merupakan laut dan perairan yang rawan disalahgunakan sebagai jalur peredaran gelap narkotika di Indonesia,” katanya.
Kemudian, kata Golose bahwa Laut masih menjadi jalur favorit bagi para bandar dalam menyelundupkan narkotika di Indonesia mengingat wilayah Indonesia yang sebagian besar merupakan wilayah perairan. Panjangnya garis pantai dan luasnya wilayah pengawasan membuat sindikat narkotika tidak pernah berhenti mencoba memanfaatkan kelengahan aparat dalam menjaga perbatasan Indonesia.
“Oleh sebab itu, seluruh stakeholder perlu untuk meletakan fokus perhatian ke perbatasan laut Indonesia yang rawan dijadikan jalur masuknya narkotika yang salah satunya dilakukan melalui operasi laut interdiksi terpadu,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa Operasi ini merupakan kegiatan tahunan sebagai wadah untuk berkolaborasi, bekerja sama, dan bersinergi antar aparat penegak hukum di Indonesia. Agar tercipta keselarasan langkah dan tindakan sehingga pemutusan peredaran gelap narkotika dapat terlaksana dengan baik dan efektif.
“Kegiatan ini adalah operasi penegakan hukum dan ini sudah pernah kita buktikan beberapa kali kita juga melaksanakan operasi ini yaitu Kita pernah melakukan dari Batam, dari Manado, kemudian Pekanbaru Dumai,” katanya.
“Kenapa dipilih Sorong karena kita harus menjaga wilayah timur dari Indonesia dan kita ketahui bersama bahwa narkotika juga sudah memasuki wilayah Papua dari pengungkapan yang dilakukan baik oleh BNN maupun oleh Polri,” sambungnya.
Dirinya menegaskan bahwa Yang harus diantisipasi adalah setelah era covid, mulai terbuka maka kemungkinan masuknya lagi heroin dari wilayah golden creation dan kokain dari wilayah south Amerika.
“Hal ini perlu diantisipasi dengan operasi bersama. BNN, Kami memang adalah leading institution untuk penanggulangan narkotika. Namun, harus dan tidak boleh tidak didukung oleh seluruh stakeholder,” tegasnya.
Ia menambahkan pihaknya harus melakukan ini Operasi interdiksi laut ini karena kecenderungan seperti yang dilakukan bersama antara BNN dan Bea Cukai pernah menangkap di zona Ekonomi eksklusif ini tidak tidak gampang dan tidak semua juga institusi mempunyai kewenangan masuk sampai di zona Ekonomi eksklusif tetapi dengan bahu-membahu bekerja sama antara seluruh stakeholder, diharapkan maka kita bisa melaksanakan operasi ini.
“Istilahnya kami mengetuk pintu dan berbicara dengan petinggi-petinggi dengan pemangku kepentingan dari masing-masing institusi yang bisa kita saling mendukung dalam rangka penanggulangan narkotika,” pungkasnya.(zia)
















